
" Yang? makan dulu..?" panggil Ratih pada Pamungkas yang sedang duduk di teras dengan Hendra.
" Yang???" ulang Hendra dengan pandangan aneh pada Pamungkas.
Pamungkas yang sedang memegang rokok itu hanya tersenyum.
" Om ganti nama?"
" huss.. ini sudah kemajuan pesat, jangan protes, nanti aku di panggil om lagi..?" ujar Pamungkas.
" geli om, kayak orang pacaran saja..!"
" lha kami kan memang sedang pacaran.."
" cihh.." ejek Hendra.
Setelah makan keduanya kembali bicara di teras, Sementara Ratih sibuk membungkus makanan untuk di bawa pulang oleh Hendra.
" Bagaimana Arga om?" tanya Hendra ikut merokok,
" Sedang persiapan berangkat ke tempat barunya," jawab Pamungkas tenang.
" Syukurlah.. om dan Ratih bisa ke kantor dengan tenang kalau begitu setelah ini.."
" benar, tapi aku hanya mengijinkannya mengikuti kegiatan arisan saja, yang wajib,
sebenarnya aku lebih suka dia dirumah, tapi karena pekerjaannya bisa di jadikan alasan, ya sudah lah biarkan.."
" apa tidak masalah begitu om?"
" di jadikan saja tidak masalah, toh tempat yang dia kelola memang ramai dan menjadi tempat favorit para remaja, itu bisnis yang cukup lumayan bisa di pandang..,
lagi pula aku sudah bicara dari hati ke hati dengan komandan..
Ratih tampaknya tak begitu suka bergaul dengan ibu ibu,
aku bisa menangkap senyum terpaksa nya dan rasa lelahnya saat harus beramah tamah dengan banyak orang."
" Semenjak berpisah dengan Arga dia memang menarik diri dari pergaulan om..
kumohon jangan salahkan dia, sikapnya kadang kacau, bingung, tidak percaya diri.."
" Kau bicara seakan akan aku ini orang lain Hen?"
" tapi om sudah lama hidup di luar jawa.."
" tapi aku tidak pernah berhenti memikirkan adikmu meski jauh..".
Hendra diam, ia terlihat berpikir.
" Ada apa.. katakan saja.." ujar Pamungkas seakan tau,
" om.. sebenarnya ada yang ingin kutanyakan.."
" hemm.."
" tapi.. " Hendra melongok ke dalam, melihat Ratih ada di ruang tamu atau tidak.
" Ada apa? kok sepertinya rahasia..?"
" ya memang rahasia.."
" tentang apa ini?"
__ADS_1
" Ratih.."
Wajah Pamungkas mendadak serius,
" ada apa dengan Ratih?" Pamungkas mematikan rokoknya.
" Om.. misal.. adikku tidak bisa memberi om anak apa tidak apa apa?" tanya Hendra hati hati,
" lho? kok ngomong begitu Hen?" Pamungkas heran,
Sementara Hendra tiba tiba diam,
" jawab dulu kenapa tiba tiba membahas itu?" kejar Pamungkas.
" Ratih takut, takut tidak bisa memberi om keturunan.." jawab Hendra pelan.
" Astagaaa.. memangnya kenapa kalau tidak punya anak Hen?"
Hendra lagi lagi tidak menjawab.
" Adikmu bilang apa?" tanya Pamungkas kemudian,
" bukan padaku, tapi pada mama..
salah satu alasan dia menolak menikah dengan om adalah itu.."
" tapi dia diam saja, tidak membicarakan apapun denganku?"
" mungkin saja dia malu om?, ras percaya dirinya habis saat tau Tias hamil anak Arga.."
" aduhh..." keluh Pamungkas,
" Dengarkan, sebelum aku menikah dengan adikmu aku malah tidak berpikir menikah dengan siapapun,
punya anak atau tidak itu tidak akan mempengaruhi kebahagiaan kami..?"
" Aku merasa harus menyampikan pada om.. demi ketenangan diriku juga,
lebih baik kalau aku dengar dari om begini kan?"
" jadi Istriku berkeluh kesah pada mamanya?"
" sebenarnya mama sudah sering bertanya, tapi baru minggu kemarin saat om piket dia bicara.."
Pamungkas menghela nafas,
" aku bilang juga apa, dia masih belum mau jujur akan segala hal padaku.."
" baru sebulan om.. tentu saja dia takut..
karena dia di khianati perkara dia tidak bisa memberikan Arga keturunan..."
" Apa aku sebodoh Arga? kami bisa mengambil anak untuk di urus.." Pamungkas meyakinkan.
Hendra diam, dan Pamungkas pun ikut diam.
" ngobrol apa? serius sekali??" suara Ratih mendekat.
Pamungkas menatap istrinya yang berdiri disamping pintu itu.
" Urusan bengkel saja.. mana makanan yang mau di bawa Hendra? sudah malam.. biar segera di makan mas dan mbak.." ujar Pamungkas.
" Ini.." Ratih memberikan kantong yang berisi beberapa kotak makan.
__ADS_1
Melihat itu Hendra bangkit,
" Ya sudah, aku pulang dulu om, Rat?" pamit Hendra sembari mengambil kantong di tangan Ratih.
" Aku keluar saja dari tentara?!" tegas Arga yang tampak frustasi itu.
ia menendang kopernya yang sudah penuh terisi baju.
" Jangan begitu le?? mama mati matian memohon pada suami Ratih dan Komandanmu?" perempuan tua itu lebih frustasi dari putranya.
" Berangkatlah, nanti kita cari cara untuk membawamu kembali kesini?"
Arga diam, namun wajahnya tampak sekali kesal dan tidak terima.
" Aku tidak rela ma?!" ujarnya kemudian,
" Aku mau memperbaiki semuanya, tidak apa apa aku keluar dari dinas, asal Ratih kembali padaku?" Arga memohon pada ibunya.
" Terimalah kenyataan le.. terima kenyataan.. Ratih tidak mungkin kau miliki lagi, fokuslah memperbaiki diri di tempatmu yang baru.." mohon ibunya.
" Jangan paksa aku membawa Tias bersamaku ma, aku sudah tidak ingin melihat wajahnya?!"
mamanya terdiam, ia tidak menyangka hasil dari sikapnya yang selalu menuruti keinginan Arga akan seburuk ini.
" Baiklah, mama akan menjaga anakmu sampai dia lahir..
kau bekerjalah dengan tenang dan sabar ya disana..?"
" Apa aku benar benar tidak boleh melihat Ratih meski hanya dari jauh ma?" Arga memelas.
" Tidak, tidak boleh le?! mama sudah berjanji pada suami Ratih?!,
kalau kau melanggarnya mama tidak bisa menyelamatkanmu..?!" Peringat mamanya tiba tiba tegas.
HP pamungkas berdering berkali kali,
Ratih yang sedang sibuk menyapu itu tentu saja mendekat karena suaminya tidak juga mengangkat HP, rupanya Pamungkas sedang mandi.
" dek Sekar..?" gumam Ratih saat melihat panggilan masuk.
Karena penasaran, untuk pertama kalinya ia mengangkat panggilan suaminya.
" Selamat pagi?" ucap Ratih,
" emh.. selamat pagi, mohon maaf.. bang Pamungkas ada?" suara perempuan itu lembut sekali,
ada perasaan tidak nyaman yang mendadak datang.
" Ini siapa ya? ada perlu apa cari suami saya?" tanya Ratih.
" Maaf, saya adik bang Rafael.. ada yang mau di minta tolong?"
Ratih terdiam, ia tidak senang, tapi rasa tidak senang itu tidak mungkin ia tampakkan.
" Nanti saja telfon lagi, suami saya masih di kamar mandi." ujar Ratih datar,
" oh.. baik.. terimakasih kak.." jawab si perempuan bernama sekar itu.
Di letakkan kembali hp itu, dan kembali menyapu.
Di tenangkan hatinya, karena trauma di khianati ia jadi mudah berpikir buruk,
karena trauma di khianati, ia selalu berpikir siapa saja bisa merebut miliknya.
__ADS_1
Namun tak ada yang bisa ia lakukan, tak mungkin ia mau protes hanya karena satu telfon saja, apalagi dia adik dari teman dinas suaminya.