Om Pamungkas

Om Pamungkas
Tamu tak diundang


__ADS_3

Cafe itu ramai dengan anak anak SMA seperti biasanya, Ria dan Rama terlihat sibuk dengan pesanan pesanan yang harus mereka siapkan dan antar.


Iwang juga duduk sembari membaca buku seperti biasa, kali ini ada seorang perempuan yang menemaninya.


Tanpa bertanya, Ratih tau bahwa Iwang sedang berpacaran.


" Makin cantik saja.." ujar Iwang saat akan pamit pergi,


" Bisa ya, memuji perempuan lain di depan pacarmu?" protes Ratih,


" Aku hanya bilang makin cantik, tapi tetap pacarku lebih cantik.." Iwang meringis,


" ya sudah, kami pergi dulu.. pamit dulu Tar sama bu bos.." ujar Iwang pada perempuan disampingnya.


" Mari mbak.." sapa pacar Iwang sembari sedikit menunduk,


" iya, hati hati dijalan ya.." balas Ratih tersenyum ramah.


Setelah Iwang dan pacarnya pergi, tak lama Pamungkas datang, laki laki itu terlihat sudah rapi dan berpakaian bebas.


" Lho? pulang jam berapa dari kantor?" tanya Ratih menemani suaminya duduk di salah satu kursi.


" Sejam yang lalu, sampai rumah langsung mandi, terus kesini..


tutup cafenya, ada undangan dari senior.."


" undangan apa?"


" menempati rumah baru.."


" senior yang mana?"


" yang baru pindah dari kupang,"


Ratih mengangguk,


" Ya sudah, ayo pulang, biar cafe di tutup anak anak.." ujar Ratih bangkit, meninggalkan suaminya duduk sendiri.


Setelah menghadiri acara Pamungkas dan Ratih berniat untuk langsung pulang,


tapi HP Ratih berdering dan bergetar terus menerus,


" Siapa yang? kok ndak berhenti berhenti?" tanya Pamungkas heran.


" Papa mas," sahut Ratih setelah mengambil HPnya dari dalam tas.


Mendengar itu Pamungkas minggir dan berhenti di pinggir jalan.

__ADS_1


" Telfon balik yang, siapa tau penting.." ujar Pamungkas.


Ratih menuruti suaminya ia menelfon kembali papanya,


Pamungkas tidak bisa mendengar apapun, selain jawaban iya dan iya dari Ratih.


Ratih diam sejenak setelah mematikan sambungan telfonnya.


" Kok malah diam? Ada apa?" Pamungkas penasaran.


" Kata papa kita harus kesana sekarang juga, ada urusan penting menyangkut mas katanya.."


" urusan apa?" Pamungkas memutar berbalik dan menatap istrinya,


" tidak tau, apa jangan jangan.." Ratih tiba tiba tidak tenang,


" Jangan jangan apa?"


" jangan jangan Arga melaporkan mas?"


Mendengar itu Pamungkas diam sesaat,


" kukira dia tidak akan berani, tapi kalau dia berani berarti dia minta di habiskan sekalian."


" huss! Kok begitu ngomongnya??"


Keduanya saling menatap,


" ah sudahlah, kita ke papa saja dari pada kira menebak nebak.." Ratih melingkarkan tangannya di perut suaminya.


" Jangan takut, aku sudah mempersiapkan diri jika itu terjadi.." jawab Pamungkas menenangkan istrinya.


Motor itu di parkirkan di dalam garasi, persis disamping mobil papa Ratih.


Sebelum masuk keduanya melihat ada sebuah mobil yang terparkir.


Dengan langkah ragu Ratih berjalan masuk, beda dengan langkah suaminya yang tenang.


" Yang di tunggu datang.." ujar Papa Ratih saat Pamungkas dan Ratih masuk ke ruang tamu.


Ada dua orang laki laki disana, satu seumuran dengan Adi kakaknya, dan yang satunya lagi terlihat lebih muda beberapa tahun.


Keduanya langsung berdiri melihat Pamungkas datang,


ekspresi keduanya aneh saat menatap Pamungkas.


" Pam, kau duduk dulu.. Ratih, kau bantu mamamu di dapur.." ujar Adi menyuruh Pamungkas duduk, hingga kedua orang itupun ikut duduk.

__ADS_1


" Ada apa ya mas?" tanya Pamungkas pelan, setelah istrinya pergi dari ruang tamu.


" Mereka berdua tamumu dari jauh.." jawab Adi memegang pundak Pamungkas,


" Aku perlu pergi atau tetap disini menemanimu?" tanya Adi ingin memberi Pamungkas privasi.


Dahi Pamungkas berkerut,


" Untuk apa mas pergi? tetap disini, tidak ada yang pernah saya sembunyikan daei sampean mas," jawab Pamungkas.


" Ya sudah, mas akan tetap disini, monggo.. Bapak bapak, silahkan bicara,


Ini Pamungkas..


Adik tiri saya, putra dari ibu Diah.. yang bapak bapak cari..".


Mendengar kalimat Adi Pamungkas semakin heran, di tatapnya kedua wajah laki laki di hadapannya.


Mirip seseorang.. siapa ya, seperti pernah melihat, tapi dimana?, pamungkas bertanya dalam hati.


Salah satu laki laki yang lebih tua melempar senyum ada Pamungkas,


namun senyuman yang aneh, ada kesedihan yang terkandung dalam senyumnya.


" Kau Pamungkas nak..?" tanya laki laki yang lebih tua" benar saya Pamungkas, kalau boleh tau apa maksud kedatangan bapak?" tanya Pamungkas serius tapi tetap sopan, entah kenapa ia kurang nyaman melihat kedua orang ini.


" Berapa usiamu sekarang nak?" laki laki itu tidak menjawab pertanyaan Pamungkas,


Namun justru bertanya lagi.


" Tiga puluh tujuh tahun, bukan maksud saya tidak sopan, tapi tolong segera jawab saja ada apa ini?" Pamungkas lebih tegas.


Mendengar itu kedua laki laki itu saling berpandangan, dan yang lebih muda mengangguk.


" Sebelumnya ijinkan kami meminta maaf.." ujar Yang lebih muda,


" untuk apa?" Pamungkas semakin heran.


" Untuk ketidak pedulian kami padamu selama ini..",


Pamungkas melebarkan bola matanya, tatapannya tak lagi ramah.


" Kami adalah adik dari ayahmu, Rahmat.." imbuh laki laki yang lebih tua, membuat Pamungkas langsung bangkit,


Pamungkas tidak lagi terlihat baik, wajahnya memperlihatkan dengan jelas betapa tidak sukanya dirinya dengan kehadiran kedua laki laki itu,


gerahamnya seketika mengeras menahan perasaan bencinya.

__ADS_1


__ADS_2