
" Pak Agus pulang saja, ini sudah malam.." ujar Ratih pada laki laki yang di tugaskan Pamungkas untuk menemani istrinya nya sampai Pamungkas pulang itu.
" Ya jangan bu, nanti bapak marah?"
" bapak bilang mungkin pulang antara jam sembilan sampai sepuluh,
Ndak apa apa pak Agus, saya berani kok.."
" mboten (tidak) bu, nanti bapak marah?" pak Agus tidak berani.
" Pak.. Njenengan itu punya anak istri yang juga harus di jaga,"
" ndak apa apa bu, mereka berani.."
" saya juga berani, memang waktu awal pindah saya tidak berani pak, tapi sekarang tentu saja saya sudah membiasakan diri..
Pun pak, pun.. Njenengan wangsul.. ( sudah pak , sudah.. Bapak pulang..)"
Ratih bersikeras.
Pamungkas buru buru membuka pagar, lalu segera memasukkan motornya ke garasi. Setelah itu ia membuka pintu rumah.
" Kok tidak di kunci?" Pamungkas kaget saat mengayun handel pintu, ternyata pintu itu langsung terbuka.
Dengan perasaan tidak enak ia langsung masuk ke dalam kamar.
Ia menemukan istrinya sudah tergolek lelap.
" Astaga..." keluhnya,
Bagaimana bisa Ratih tidak mengunci pintu, padahal sudah setengah dua belas malam.
" Bagaimana kalau ada maling masuk Rat.." gerutu Pamungkas.
Ia memang salah, karena pulang terlalu malam, padahal ia berjanji hanya akan ikut sampai jam sepuluh saja.
Tapi senior seniornya itu tidak mengijinkannya pulang.
__ADS_1
Keesokan harinya Pamungkas sudah bersiap berangkat,
sementara Ratih sibuk menyiapkan sarapan suaminya itu di meja makan.
" Sarapan sudah siap.." ujar Ratih berdiri di depan pintu kamar sejenak.
Pamungkas yang sudah berseragam lengkap dan hanya tinggal memakai sepatu saja itu duduk di kursi meja makan.
" Kok semalam pintu tidak di kunci yang?" tanya Pamungkas masih tersisa kesal, kesal karena khawatir bagaimana kalau saat itu ada orang masuk ke dalam rumah.
" Kukira Pulang jam sepuluh," jawab Ratih pendek, perempuan itu tidak memandang suaminya sama sekali.
" Aku memang ijin jam sepuluh, tapi tidak di perbolehkan pulang, bang Fakih juga?" jelas Pamungkas,
" Ya sudah.." jawab Ratih hanya makan satu potong roti bakar.
" Lho kok makanmu cuma itu saja yang?" Pamungkas mengerutkan dahi.
" Kau marah?" Pamungkas bangkit, mengikuti langkah istrinya ke dapur.
" Kenapa aku harus marah?" Ratih menjawab pelan,
" Ini buktinya, aku mendekat kau malah menjauh menghindar?"
Ratih tersenyum dan berjalan ke ruang tengah.
" Aku minta maaf karena aku pulang malam, aku sudah menelfon tapi tidak kau angkat?"
" ketiduran,"
" nah karena itu, pulang pulang rumah tidak di kunci, jam setengah dua belas malam lho? Kalau ada maling bagaimana?"
" tidak ku kunci karena kukira sampean pulang jam sepuluh, ternyata aku juga ketiduran,"
" nah itu?!"
" lho? kok marah? toh pagar di kunci sama pak Agus?"
__ADS_1
" tetap saja, kalau ada orang loncat pagar bagaimana?!"
Keduanya berpandangan, satu khawatir, satu kesal.
" Berarti aku yang salah dan bodoh," ujar Ratih masuk ke dalam kamar, dan mengganti bajunya.
" Kok malah ngomong begitu sih yang??!" Pamungkas mengejar langkah istrinya.
" Aku tidak mau ribut, memang aku yang salah tidak mengunci pintu." ujar Ratih duduk di depan meja riasnya.
" Aku tidak marah, hanya khawatir saja, kalau lain kali aku pulang malam, kunci saja, biar aku mengetuk, kalau macam semalam kan bahaya?" Pamungkas berdiri disamping istrinya yang sedang sibuk memakai make up itu, sehingga bayangannya memantul di kaca.
" Sudahlah, lanjutkan sarapan dan berangkatlah," ucap Ratih kalem.
Sesampainya di cafe Ratih menelfon istri Fakih, senior pamungkas.
Mereka berbincang sekitar tiga puluh menit.
Istri Fakih juga mengatakan suaminya pulang di jam yang sama.
Kebetulan Ratih dan bu Fakih tidak terlalu senang dengan senior yang mengajak suami mereka makan, karena reputasi senior itu sempat tercemar meski sebentar.
Setelah berbincang seperti biasa, Ratih melakukan tugasnya, menata buku buku, dan memeriksa urutannya.
" Situasi pagi ini tidak nyaman," Pamungkas merokok di belakang kantin.
" Sama, bojoku mecucu wae.. ( istriku cemberut saja..),
Dia bilang, masa makan makan saja sampai hampir jam dua belas malam?" Fakih menggerutu,
" Istriku tidak marah, hanya diam seribu bahasa.." celetuk Tedy, yang satu letting dengan Pamungkas.
" Ya pasti ngomel, wong cuma makan makan kok sampai beberapa jam..
andai mereka tau kita karaoke setelah makan, apa tidak tambah panjang bibirnya?" sahut Fakih.
" Ck.. Wes emboh ( tidak tau )bang.." Pamungkas menghisap rokoknya sampai habis.
__ADS_1
" Aku mau makan siang di cafe istriku, hitung hitung sambil mengembalikan moodnya.." Pamungkas menginjak sisa rokoknya lalu bangkit.