Om Pamungkas

Om Pamungkas
keluarga


__ADS_3

Beberapa hari setelahnya, Pamungkas masih saja bermimpi tentang ibunya, hampir setiap malam,


dan hal itu membuat beban pikiran untuknya.


Saat dirinya sedang bersiap siap untuk berangkat dinas, ia tiba tiba saja terduduk di teras, sudah di pakai helmnya, tapi tubuhnya malah tak ingin bangkit.


Ratih yang sudah membuka pagar heran melihat pandangan kosong suaminya,


" Lho? kok malah duduk?" tanya Ratih mendekat ke teras,


" Malah ngelamun?" Ratih duduk berjongkok, namun dengan kedua lengannya di letakkan di kedua paha suaminya.


" Kalau tidak enak badan ijin saja.." ujar Ratih,


Keduanya beradu pandang,


" Hatiku was was terus.. kenapa ya?" Pamungkas menyentuh wajah istrinya, tatapannya sayu.


" Jangan banyak pikiran.." ucap Ratih sembari melempar senyum menenangkan ke suaminya.


Pamungkas tak menjawab, ia lama terdiam, sembari menyandarkan punggungnya.


" Ijin saja, aku khawatir nanti sampean malah ngelamun di jalan.." Ratih bangkit.


" Tidak aku masuk saja.." sahut Pamungkas,


" kuantar ya?"


Pamungkas menggeleng,


" ya sudah, tapi ingat pesanku, jangan melamun di jalan,"


" tidak mungkin aku melamun dijalan yang.." Pamungkas menghela nafas, lalu bangkit.


Sementara di tempat lain, di sebuah rumah panggung yang cukup besar di daerah itu,


yang disamping kanan kirinya rimbun dengan pohon sagu.


Setiap sore sampai malam teras rumah berlantai kayu itu penuh dengan tetangga dan keluarga dekat.

__ADS_1


Mereka bercengkrama bahkan bercanda sesekali, meski sesungguhnya hati mereka tidak tenang.


Hampir setiap hari mereka menunggu kabar,


berharap sang keponakan yang berada di jawa mau datang untuk menjenguk ayahnya.


" Tidak ada kabar sama sekali dari jawa?" tanya Istri Ruslan,


" tidak ada.." jawab Ruslan kecewa.


" Sudah bisa di tebak, anak itu sudah pasti benci sekali dengan keluarga disini.." ucapan istri Ruslan membuat semua orang terdiam, ekspresi mereka berat.


" Mana mau dia melihat bapaknya yang sudah sia siakan dia.." Sahut Rapuni, adik paling kecil diantara keempat saudara laki lakinya.


" Jangan menyalahkan anak itu, memang saudara kita yang tidak becus," sela Rusdi yang baru kemarin datang dari kalimantan,


laki laki itu merantau cukup lama, dan baru kembali saat mendengar kakak tertuanya sakit parah.


" Sudahlah, yang terpenting sekarang kita usahakan yang terbaik untuk Rahmat.." ujar Rusman sembari meminum kopinya.


" Bagaimana saat kau bertemu dengan anak Rahmat?" tanya Rusdi,


" Dia tidak mau bicara saat aku menyebut nama ayahnya, apalagi kalau tidak kemarahan yang kami dapat," jawab Ruslan,


" ibunya menikah lagi dengan laki laki kaya, rumah yang kami datangi cukup megah, luas, berlantai dua.."


" apa pekerjaannya bagus?"


" sama seperti Rahmat, tapi dia seorang perwira,"


" Ayah tirinya cukup menyayanginya sepertinya.." gumam Rusdi,


" Jika melihat perawakannya yang tinggi gagah, pekerjaannya yang baik, dan istrinya yang cantik.. kurasa begitu, dia cukup bahagia tanpa kasih sayang Rahmat,"


" Rahmat meninggalkannya, tanpa nafkah sama sekali, dan kita hanya diam saja sampai tua begini.." sela Rapuni.


" Kita bisa apa Puni? almarhum bapak menasehatinya berkali kali untuk menafkahi anak itu, tapi tidak di hiraukan,


apalagi kita, umur kita di bawah dia, menasehatinya? yang ada kena tendang atau tinjunya," protes Rusman.

__ADS_1


" Itu karena almarhum mamak selalu membelanya..


sesalah apapun Rahmat, benar terus di mata mamak.." sahut Rapuni,


" eh.. mau bagaimana? anak kesayangan.." Ujar Rusdi.


" Eh, masuk dulu Puni, kau lihat barang kali dia minta minum atau apa.." ujar Rusdi,


" Dia tidur, beberapa hari ini dia banyak tidur tidak rewel seperti biasanya.." sahut Perempuan bertubuh gemuk dan berkulit putih itu.


" Tetap saja.. Kau lihat dulu," ujar Ruslan,


Rapuni bangkit dari lantai kayu itu dan berjalan masuk ke dalam.


Ratih membuka pintu kamar, maksud hati ingin memanggil suaminya untuk makan malam,


" Mas.." panggil Ratih pada suaminya yang duduk di atas tempat tidur sembari memegang sebuah kertas.


Ratih yang penasaran mendekat,


Ia duduk disamping suaminya,


lalu mengambil kertas di tangan suaminya.


Itu kertas berisi alamat yang di tinggalkan kedua om Pamungkas waktu itu.


Ratih memandang suaminya tekun, ingin memahami apa yang sesungguhnya di rasakan oleh suaminya.


" Ikut aku ya..?" tanya Pamungkas tiba tiba.


Mendengar itu Ratih termenung sejenak, ia tak menjawab, namun pandangannya tak lepas dari suaminya.


" Tidak mau?" imbuh Pamungkas ragu karena tidak mendapat jawaban dari istrinya.


" Kemanapun mas pergi, aku akan ikut.. jadi jangan bertanya lagi.." jawab Ratih pelan sembari menggenggam jemari Pamungkas,


membuat Pamungkas langsung tertunduk,


laki laki itu mengatupkan kedua bibirnya, setengah mati ia menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya,

__ADS_1


entah, sedih, entah kecewa.


Melihat itu Ratih buru buru merangkul suaminya, ia tau suaminya saat ini sedang berperang dengan dirinya sendiri.


__ADS_2