
" Ingat tujuan mas kesini apa..?" Ratih mengingatkan suaminya.
" Kita kesini untuk melepaskan beban masa lalu..
mas lupa saat ibu muncul dalam mimpi mimpi mas..?" imbuh Ratih.
Pamungkas sontak menatap istrinya, mata yang penuh kebencian itu tiba tiba berubah lemah,
" Jangan terus terusan menanam duri di hatimu mas..
lepaskan.. maafkan ayahmu.." Ratih menguatkan suaminya agar mampu menerima ayahnya.
Saat Pamungkas sedang berperang dengan perasaan perasaannya, terdengar suara ayahnya memanggilnya.
" Pamungkas..??" Rahmat ingin mendekat ke putranya, ia berusaha bangkit, tapi tubuhnya tidak mampu, bagaimana tidak, tubuh itu hanya tersisa tulang dan kulit, tubuh Rahman habis di gerogoti penyakit.
Rapuni menatap Pamungkas, ia berharap keponakannya itu mendekat, ia sungguh tidak tega melihat kakaknya yang bersusah payah bangkit namun kembali terjatuh ke tempat tidur.
" Kau minta aku kesini, aku sudah kesini, kau mau aku bagaimana lagi?" ujar Pamungkas membuat hati Rahmat tersayat,
bahkan Rapuni yang mendengar kalimat Pamungkas pun sampai tertegun.
Ratih tertunduk resah, harus bagaimana lagi ia mencairkan hati suaminya.
" A.. aku.. tidak pantas mengatakannya, kesalahanku padamu dan ibumu terlalu besar..
tapi..
aku, akan tetap memohon maafmu nak..
aku wajib meminta maafmu.." ujar Rahmat mengumpulkan tenaganya untuk berbicara meski setengah gemetar.
Pamungkas tak menjawab,
" ayah tau, sulit bagimu memaafkan ayah..
tidak apa nak.. tidak apa..
kau datang kesini, mendengar permintaan maaf ayah..
ayah sudah lega..
meski kau tidak memaafkan ayah.." imbuh Rahmat dengan nafas yang sudah berat.
__ADS_1
Mendengar kata kata ayahnya, Pamungkas membisu, ia tidak menyahut sepatahpun.
" Nak.." suara Rahmat memanggil Pamungkas lagi,
namun belum lagi Rahmat bicara, Pamungkas malah berbalik, ia melepaskan tangan Ratih dan berjalan sendiri begitu saja keluar dari kamar itu.
Melihat suaminya yang keluar begitu saja Ratih tercengang, ia sontak memandang Rapuni dan Rahmat.
Di luar, Rusdi, Ruslan dan Rusman juga kaget, karena Pamungkas tiba tiba berjalan keluar.
" Permisi." ucapnya melewati ketiga omnya begitu saja, lalu turun melewati tangga dengan cepat.
Tak lama terlihat Ratih yang keluar, ia berjalan pelan melewati para om Pamungkas,
" Maaf.. nanti kami akan kembali.." ujar Ratih ingin menjaga perasaan keluarga itu.
" Tidak apa nak, kami tau suamimu butuh waktu, jangan di paksa..
pergilah, temani suamimu.." sahut Ruslan mengerti.
Ratih mengangguk, dan segera berjalan menuruni tangga kayu itu, dari kejauhan terlihat samar samar punggung suaminya di tengah remang cahaya lampu, dan setelah sampai di bawah, Ratih mengejar suaminya.
Semua bersaudara itu berkumpul di kamar Rahmat,
" Yang penting sudah kau sampaikan maafmu padanya..
bebaskan pikiranmu, agar kesehatanmu lekas membaik.." ujar Ruslan.
Meski mereka kakak adik, tapi tidak ada panggilan, abang atau kakak di keluarga mereka,
entah memang itu kebiasaan atau memang begitu dari sananya.
" Dengan dia mau datang kesini saja.. Itu sudah luar biasa bukan.." gumam Rusdi.
" Iya, anakmu masih kaget.. berapa tahun kalian tidak bertemu.." imbuh Rusman.
Rapuni yang sempat melihat sosok Pamungkas yang penuh kebencian hanya diam, sembari berkali kali menghapus air matanya.
Rahmat menatap kayu kayu yang menyangga atap rumahnya.
" Dia tinggi sekali.. gagah.." ujar Rahmat lirih tiba tiba membuat semua orang saling menatap.
" Benar.. dia sungguh mirip denganmu..
__ADS_1
alisnya, hidungnya, mulutnya.." sahut Rapuni sembari mengelus dada Rahmat.
" Matanya mirip ibunya.." air mata Rahmat kembali mengalir melalui kedua sudut matanya.
Semua yang ada di kamar itu tertunduk, ikut merasakan penyesalan yang besar.
" Aku pernah membawanya kesini dulu, dan memukulnya di hadapan kalian.. kenapa tak satupun diantara kalian yang mencegahku dan mengingatkanku..?" tanya Rahmat pada adik adiknya.
" Kau mabuk sambil membawa parang.. jangankan kami..
bapak saja lari..
hanya mamak yang bisa menenangkanmu.." jawab Rusdi.
" Hampir setiap hari kau mabuk selama disini,
Maafkan aku, tapi kau sudah memberi penderitaan yang luar biasa.. Padahal saat itu istrimu sedang hamil besar.." imbuh Rusdi, dia adalah satu satunya adik Rahmat yang paling berani diantara yang lainnya.
Rahmat terdiam, tapi air matanya terus meleleh.
" Sudahlah.. kau sudah melihat putramu, maafmu juga sudah tersampaikan,
tidak usah kau ingat yang dulu dulu,
memang.. dosamu pada mereka tidak bisa kau hapus..
tapi setidaknya kau sudah bertobat di masa tuamu.." ujar Ruslan sembari memijat kaki Rahmat.
" Apa.. apa boleh rumah ini untuknya jika aku sudah tidak ada..
Aku sungguh tidak punya apa apa..
selain rumah peninggalan ini.." suara Rahmat bergetar, ia bicara dengan susah payah.
Semua adik berpandangan, dan lama terdiam.
" Kami akan berikan padanya, toh kami sudah ada rumah sendiri..
Memang sudah seharusnya kau memberikannya sesuatu, anggap saja sebagai ganti nafkah yang tidak kau berikan selama ini.." ujar Ruslan setelah lama diam,
semua adik mengangguk,
" iya, kami tidak masalah.. berikan rumah ini untuk Pamungkas.." ujar Rusman di setujui kedua adiknya.
__ADS_1