
Tangan Pamungkas turun ke paha Ratih, lalu mengangkat kedua pada itu ke atas dan menggendongnya.
" Terlalu lama kalau pulang, disini saja.." bisik Pamungkas tepat di telinga Ratih.
Ratih mengalungkan tangannya di leher Pamungkas, sembari mengangguk pelan.
Melihat anggukan istrinya tentu saja Pamungkas semakin berani.
Di gendongnya istrinya itu menuju pintu, satu tangan memegangi Ratih agar tidak jatuh, dan satu tangan mengunci pintu.
Setelah pintu itu sudah di pastikan terkunci Pamungkas membawa Ratih ke atas tempat tidurnya.
Tempat tidurnya sejak usia empat belas tahun hingga sekarang, tempat tidur yang sama sekali tidak pernah di tiduri oleh Ratih sekalipun, dan ia pun tak pernah membayangkan akan ada masa masa seperti ini, Ratih terbaring pasrah di atas tempat tidurnya,
di bawah tubuhnya.
Kedua bibir itu bertemu tanpa saling di paksa,
Ratih yang biasanya pasif kini berinisiatif.
Tangannya membuka kancing kemeja Pamungkas satu persatu, sementara bibirnya tak lepas dari bibir Pamungkas.
Menyadari tangan istrinya membuka kancing kemejanya, Pamungkas mengeluh, di tangkapnya tangan yang sedang sibuk membuka kancing itu, dan di ciumnya.
Merasakan kelembutan sikap Pamungkas Ratih semakin pasrah, di biarkan bibir suaminya itu menjelajahi seluruh tubuhnya.
" boleh Rat?" tanya Pamungkas saat tangannya sampai pada resleting celana Ratih.
__ADS_1
Ratih mengangguk pelan,
melihat anggukan istrinya laki laki itu meneruskan niatnya, hingga tak ada sehelai benangpun yang menganggu keduanya.
Langit masih begitu cerah sore ini, bahkan jendela kamar Pamungkas masih terbuka lebar sehingga angin bebas keluar masuk.
Saat langit sudah mulai membawa senja, keduanya tak kunjung bangkit dari tempat tidur.
Pamungkas seperti tidak ada lelahnya.
Hingga telapak kaki Ratih yang sudah lelah itu sampai pada wajah Pamungkas.
Perempuan itu rupanya sudah pasrah, bagaimana Pamungkas mengangkat kakinya, dan membolak balikkan tubuhnya.
Waktu menunjukkan jam tujuh malam,
Ratih menyusul Pamungkas ke dalam kamar saat masih jam empat sore tadi, tapi sampai malam begini keduanya belum juga turun.
" Jangan ribut, disini saja kau.. temani papa nonton TV..?!" ujar Adi pada putra nya.
Sementara Ratih yang berjalan pelan ke arah kamar mandi malah di susul oleh Pamungkas.
Perempuan itu kembali di gendong dan punggungnya di sandarkan ke dinding kamar mandi.
" lagi om?" tanya Ratih dengan suara parau,
" sekali lagi.. setelah itu kita pulang..??" ujar Pamungkas menekan tubuh Ratih perlahan hingga perempuan itu memejamkan matanya,
__ADS_1
tangannya erat berpegangan pada bahu Pamungkas, dan sesekali meremas rambut suaminya yang tipis itu.
Hendra yang nekat naik ke kamar karena sudah lelah dan ingin mandi melewati kamar Pamungkas.
Raut wajahnya aneh seketika saat mendengar suara adik perempuannya yang tidak seperti biasanya.
Suara Adiknya itu seperti anak kucing yang tidak berdaya.
Sekarang Hendra tau kenapa papanya melarangnya naik, ternyata pengantin baru sedang bekerja keras.
Sembari menggeleng gelengkan kepalanya dan menutup telinganya, Hendra mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Ratih benar benar tidak tau harus berkata apa, wajahnya terkadang memerah sendiri saat mengingat apa yang sudah ia dan Pamungkas lakukan.
Entah kenapa, apa karena sudah lama dirinya tak di sentuh laki laki?
tapi perbedaan Pamungkas dan Arga begitu besar.
Meski usia Pamungkas jauh lebih tua, namun tenaganya berlipat lipat.
Arga yang muda itu bahkan tak sebanding.
Pamungkas mengecupnya beberapa kali,
menggosok rambut perempuan itu dengan handuk,
" apa yang kau pikirkan Rat? serius sekali?" tanya Pamungkas masih mencuri curi ciuman.
__ADS_1
" Apa boleh aku melanjutkan lagi dirumah?,
atau sekalian kita tidur disini saja..?" tanya Pamungkas dengan tangan yang mulai membuka handuk yang menutupi tubuh istrinya.