Om Pamungkas

Om Pamungkas
bus


__ADS_3

" Kami hanya pergi selama beberapa hari," Pamungkas mencium tangan Adi dan Ana untuk berpamitan.


" Pokoknya hati hati, jaga istrimu baik baik, dia belum pernah keluar dari pulau jawa sama sekali," ujar Adi mewanti wanti Pamungkas.


" Baik mas.." Pamungkas mengangguk.


" Ratih berangkat dulu ya ma, pa.." giliran Ratih yang mencium tangan kedua orang tuanya.


Setelah berpamitan, keduanya masuk ke dalam bandara untuk cheek in.


Selama proses, Ratih yang belum pernah pergi dengan tujuan sejauh itu hanya bisa diam dan mengikuti langkah suaminya.


Pamungkas menggenggam erat tangan istrinya di keramaian.


" Kita ambil koper dulu.." Ujar Pamungkas menuju tempat pengambilan koper.


Yah, keduanya sudah sampai di bandara Internasional Hassanudin.


Matahari teriknya luar biasa saat keduanya sudah keluar dari bandara.


Tak lama taksi yang mereka pesan datang.


Keduanya sempat berhenti di daerah Maros untuk makan siang.


Setelah makan siang keduanya memutuskan untuk beristirahat di sebuah hotel di jalan perintis kemerdekaan.


Keduanya membaca arahan dari kertas yang di tinggalkan kedua om Pamungkas itu,


bahwa lebih baik beristirahat dulu,


lalu baru melanjutkan perjalanan di malam hari.


Perjalanan bisa di tempuh dengan jalur darat selama sebelas jam.


Ada bus yang berangkat setiap jam delapan malam,


namun jika keduanya ingin sampai lebih cepat, mereka bisa menyewa mobil agar perjalanan keduanya lebih nyaman dan cepat.


" Kita sewa mobil saja, biar lebih nyaman," ujar Pamungkas ketika sudah sampai di kamar hotel.


" Apa tidak terlalu berbahaya? kita tidak mengenal daerah ini, kita juga tidak tau dimana letak tempat yang kita tuju?" ujar Ratih sembari mengganti bajunya dengan daster, ia berniat tidur barang satu dua jam setelah ini.


" Aku juga sempat berpikir seperti itu, kita adalah pendatang, tidak ada yang pasti..


tapi..


aku juga tidak tau apakah busnya nyaman atau tidak,

__ADS_1


aku mengkhawatirkan mu saja..?" sahut Pamungkas.


" Khawatir aku mengomel karena busnya sesak?" tanya Ratih,


" Aku kasihan padamu yang.. perjalanan ini panjang, sebelas jam.. bagaimana jika situasinya tidak nyaman?" Pamungkas bingung, andai saja dia sendirian, dia tidak akan ragu untuk naik bus,


tapi Ratih, ia takut istrinya itu kesusahan.


" Tidak apa, toh ini perjalanan malam, kita pasti tidur di perjalanan bukan?


yang penting mas selalu di sampingku.."


Ujar Ratih merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


" Benar bus saja? apa tidak masalah?" tanya Pamungkas ragu,


" Sudah, naik bus saja resiko di rugikan kecil mas.."


" aku tau, tapi aku khawatir kau tidak nyaman yang..?"


" aku ini pernah naik bus mas, jangan terlalu meremehkan ku," protes Ratih membuat Pamungkas akhirnya diam.


" Sudahlah, sekarang kita tidur, nanti sore bangun biar lebih segar.. sini sini.." Ratih menepuk tempat tidur, berharap suaminya segera berbaring juga disampingnya.


Waktu menunjukkan setengah delapan malam saat bus yang ditunggu tunggu akhirnya datang.


Setelah memasukkan koper ke bagasi, Pamungkas dan istrinya naik.


Berbeda dengan Pamungkas, ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.


Entah apa yang membuatnya tidak tenang,


tangannya memegang erat jemari istrinya yang lelap disampingnya itu.


Saat situasi di dalam bus hening karena semua orang tertidur, Pamungkas malah fokus mendengarkan suara sopir dan keneknya yang berbincang dengan bahas daerah.


Mungkin karena lelah, akhirnya laki laki itu tertidur sejenak saat menginjak tengah malam, namun hanya dua tiga jam, setelah itu dirinya terbangun lagi.


Saat ia bangun rupanya langit sudah mulai memerah, terlihat deretan deretan rumah panggung sederhana di sepanjang jalan yang ia lewati.


Jarak diantara rumah satu dan lainnya pun masih sangat jauh, itu yang membuat suasana tampak gelap karena masih begitu banyak pepohonan disekitarnya.


Entah ini sampai daerah mana, tapi yang jelas mereka tidak melewati daerah perkotaan.


Pamungkas memandang istrinya yang tidak bergerak sama sekali, rupanya benar benar lelap, syukurlah pikir pamungkas, istrinya bisa tidur dengan nyenyak.


Dua jam kemudian, si kondektur berjalan ke tengah tengah penumpang,

__ADS_1


" Yang turun Palopo silahkan, ayo yang turun palopo tolong siap siap?!" suara kondektur itu membuat Pamungkas yang bersandar tegas seketika.


" Sudah sampai palopo?" tanya Pamungkas cepat,


" Iya, lima belas menit lagi turun kota palopo..?!" jawab si kondektur.


Pamungkas langsung melihat istrinya, rupanya suara kondektur yang keras membangunkannya.


Perempuan itu sudah membuka matanya meski masih mengerjap ngerjap.


" Sudah mau turun?" tanya Ratih,


" Iya, rapikan rambutmu yang.." jawab Pamungkas mengangguk.


Waktu menunjukkan jam enam pagi saat Ratih dan Pamungkas turun dari bus.


Tidak seperti Makassar yang terik, situasi disini terlihat lebih sejuk, sepanjang perjalanan ada banyak pepohonan besar yang membuat suasana rindang.


Jalanan masih sepi, Pamungkas dan Ratih duduk di salah satu kursi emperan ruko yang belum buka.


" Masih jauh?" tanya Ratih yang sepertinya lapar itu, wajahnya kusut.


" Lapar?" tanya Pamungkas peka,


Ratih tersenyum kecil lalu mengangguk.


" Kita coba cari makanan dulu, setelah itu kita cari entah apa yang bisa membawa kita kesana.." ujar Pamungkas sembari melihat ke kanan dan ke kiri, kenapa ia tidak menemukan angkutan.


" Biar ku telfon nomor di kertas itu ya? Siapa tau mereka bisa jemput kita?" Ratih mengambil kertas dari tas slempangnya.


Pamungkas terlihat Ragu,


" Dari pada kita repot?" Ratih seakan tau isi hati suaminya.


" Ya sudah lah, sesukamu, tapi kita makan dulu," Pamungkas mengalah, meski sesungguhnya ia malas berurusan dengan keluarga ayahnya.


Ia berpikir untuk menempuh perjalanan sendiri, datang ketempat itu, lalu segera pergi.


Namun karena istrinya menginginkan hal seperti itu, ia menurut saja, toh bukan dirinya yang bicara pada om omnya itu.


" Selamat pagi.. Ini dengan istri Pamungkas, putra pak Rahmat dari jawa.." Ratih menelfon salah satu om Pamungkas.


Setelah berbincang sejenak, Ratih memutus sambungan telfonnya.


" Apa kata mereka?"


tanya Pamungkas,

__ADS_1


" mereka langsung menjemput kita, tapi waktu untuk sampai sekitar tiga puluh menit..


Jadi kita cari makan dulu," jawab Ratih mengandeng lengan suaminya.


__ADS_2