
Pamungkas yang baru saja selesai mengobati lutut dan lengan istrinya kaget dengan kedatangan Tias.
Pamungkas yang masih belum melepas baju dinasnya itu bangkit.
Untunglah ia segera pulang, syukur Pamungkas dalam hati.
" Masa kita mau mengusirnya?" suara Ratih lirih,
" dia pasti akan menyakitimu lagi dengan lidahnya," Pamungkas sudah tidak senang.
" Tanya saja apa maunya yang.." ujar Ratih,
" aku bahkan tidak ingin dia menginjak rumah kita?!" sahut Pamungkas.
" Ratih??!" terdengar suara Tias dari luar pagar.
" Biarkan dia duduk di teras saja.."
" jangan sebaik itu yang?!" Pamungkas menatap istrinya.
" Biar aku yang menemuinya.. sampean jangan keluar.." Ratih bangkit pelan.
" Nanti luka di lututmu terbuka lagi kalau jalan terlalu jauh?"
" tidak, aku sanggup menahan luka kecil ini, dari pada nantinya aku akan menyesal karena mengijinkan mas menemuinya..".
Mendengar kata kata istrinya Pamungkas membelai pipi istrinya,
" harga diriku lebih tinggi dari pada yang ku kira sayang..
Perasaanku tidak semudah itu goyah.." ujar Pamungkas dengan mata sayu, ia sedih di ragukan.
" Aku percaya pada mas.. tapi traumaku belum bisa hilang.. aku merasa dia akan selalu merebut milikku.." Ratih memberi pengertian, hingga akhirnya Pamungkas mengijinkannya untuk keluar, dengan langkahnya yang sudah lumayan normal Ratih membuka Pagar.
" Rat...?" Perempuan di hadapan Ratih itu tampak kurus dan tak terawat.
Ratih sempat tercengang dengan keadaan Tias, namun segera di buang perasaan itu.
__ADS_1
" Aku boleh masuk Rat?" tanya Tias,
" untuk apa?" Ratih balik bertanya,
" aku ingin bicara padamu.."
" tapi suamiku tidak menyukai kehadiranmu,"
Mendengar itu Tias tertunduk.
" Apa kita bisa bicara di tempat lain?" tanya Tias kemudian,
" kau tidak lihat, aku baru sembuh.." Ratih memperlihatkan lukanya sekilas.
Tias terlihat sedih,
" apa ini penting?" tanya Ratih,
" bagiku iya.." Tias mengangguk.
" soal apa?"
" Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengannya, kenapa kau masih ingin membahasnya denganku?" jawab Ratih dingin.
" Tapi kau temanku?" Tias memohon,
" Ratih!" terdengar suara Pamungkas dari dalam rumah, suaranya cukup tegas.
Tias mundur seketika mendengar suara Pamungkas, ia masih ingat betul betapa menyakitkan cengkraman tangan suami Ratih itu.
Tatapannya tajam penuh kebencian, bahkan Arga pun tak pernah melihatnya dengan cara semenakutkan itu, seakan akan lehernya bisa di patahkan kapan saja jika ia terus menganggu Ratih.
" Aku..aku.. Pergi dulu Rat, aku akan datang jika kau sudah sembuh..?" Tias mundur dan berjalan ke arah motornya.
Pamungkas menyisir Rambut istrinya dengan hati hati.
" Rambutmu rontok yang.." ujar Pamungkas,
__ADS_1
" mas ini tidak ada kesibukan lain ya selain memperhatikan rambutku yang rontok?" tanya Ratih tersenyum,
" tidak suka ku perhatikan?" Pamungkas menghentikan gerakannya menyisir dan menaruh sisir yang berada ditangannya ke meja rias.
" Senang sekali malah.." Ratih melempar senyum ke arah suaminya yang sudah duduk di atas tempat tidur itu.
Pamungkas yang melihat rambut yang tergerai sepanjang itu, dan bau harum yang menyeruak karena bau shampo dan bodylotion Ratih, mulai goyah.
Padahal kemarin kemarin ia setegar karang meski handuk istrinya itu sempat jatuh di hadapannya.
" Yang.." panggil Pamungkas pelan,
" hemmm.." jawab Ratih tak kalah pelan.
Pamungkas menelan ludah,
" itu yang.. mau ku pijit..?" Pamungkas menawari.
" Kan baru saja mandi mas?"
" memangnya kenapa?, sini sini.." pamungkas menepuk tempat tidur, berharap istrinya itu segera berbaring disampingnya.
Harapannya terpenuhi,
Ratih berbaring tenang disampingnya, membiarkan tangan Pamungkas memijit pelan telapak kakinya.
Tangan besar itu perlahan naik ke atas paha, entah kenapa tiba tiba bisa sampai kesana.
Saat tangan itu sudah mulai menyusup ke dalam celana pendek Ratih,
tiba tiba terdengar suara klakson mobil.
" Tinn!tinn!"
" om Pam?! Om?!" suara Hendra membuyarkan hasrat Pamungkas yang sudah sebesar bumi itu.
Dengan wajah kesal Pamungkas bangkit,
__ADS_1
" Mana pernah dia datang di saat yang tepat?!" Pamungkas menggerutu sembari berjalan keluar kamar.
Ratih yang sadar akan keinginan suaminya itu hanya bisa menahan senyum.