
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan.
Kondisi Pamungkas membaik, ia mulai kembali seperti semula, meski luka di hatinya tidak akan mungkin di sembuhkan.
Pamungkas menyibukkan dirinya Dengan pekerjaan dan hobby barunya, memancing.
Setiap minggu, Ratih sengaja membiarkan suaminya itu pergi memancing dengan teman, bahkan ayah Ratih, entah kenapa papanya itu jadi suka ikut ikutan, yah mungkin saja untuk menghibur Pamungkas.
Saat Pamungkas sibuk, Ratih pun juga ikut sibuk, meski hanya seminggu dua kali ia datang untuk mengawasi cafe dan taman bacaannya.
" Kau sudah dengar?" linda menarik tempat duduk dan duduk disamping kursi kasir.
" Dengar apa?" sahut Ratih sibuk menggulung kertas, rautnya tidak tertarik sama sekali.
" Lho?? Berita sebesar ini kau tidak dengar??"
" aku sibuk.. Tidak ada waktu bergosip..!"
" ini bukan gosip, tp real rat..?! Ini tentang mantanmu yang gantengnya sampai meruntuhkan satelit yang mengelilingi bumi itu..!" linda melotot sembari mengatupkan kedua bibirnya.
Ratih menoleh ke arah Linda,
" aku tidak mau membahas apapun tentang dia lin, kau tau itukan?" Ratih menatap linda serius.
" Tapi kau harus dengar ini, karena mungkin saja ini menjadi berita bagus untukmu..?",
Ratih diam, ia kembali mengarahkan pandangannya pada mesin kasir.
Linda menghela nafas melihat dirinya di acuhkan.
" Anak ini.." gumam Linda,
" kau tau kenapa Tias mati matian ingin mengambil anaknya dari Arga?" tanya Linda,
" ya karna dia ibunya..!" jawab Ratih tanpa menoleh.
" Semua orang tau itu, tapi tidak semua orang tau kalau Arga bukan ayah kandungnya.."
Ratih sontak menoleh dengan tatapan tajam,
" gosip dari mana itu? Hati hatilah dengan apa yang kau ucapkan lin?" peringat Ratih.
" sudah kubilang ini bukan gosip, Arga sedang terpuruk sekarang, karena tias mengakui hal itu langsung di depan arga,"
" omong kosong dari mana sih lin??!"
" temui saja Tias kalau kau tidak percaya,"
" tidak mungkin.." Ratih menggelengkan kepalanya tidak percaya.
__ADS_1
" andaikan tias tidak di cegah menemui anak itu, mungkin dia tidak akan membuka rahasia ini",
Ratih diam, ia termenung cukup lama.
" Mungkin ini akal akalan tias karena sulit menemui anaknya.." ujar Ratih kemudian,
" akal akalan yang menghancurkan masa depan anaknya?? Dia bahkan bersedia di tes DNA rat, jadi mungkin kah dia bohong sementara dia tau kekuatan keluarga Arga?" tanya linda membuat Ratih kembali termenung.
" Semoga saja laki laki yang sedang terpuruk itu tidak menganggumu lagi Rat.."
Ratih tak menjawab,
" karena sampai detik ini dia masih berat padamu.." lanjut linda.
" apa sih yang kau pikir??" tanya linda karena melihat mata Ratih tiba tiba berkaca kaca.
" apa mungkin.. Jika itu benar.." ujar Ratih tak jelas dan terputus putus.
" lalu kenapa dia merebut arga dariku dulu?" lanjut Ratih membuat linda bingung.
" Ngomong seng jelas tho rat..?!, bukankah sudah jelas dari awal kalau tias itu iri padamu, ingin memiliki apapun yang kau miliki, kalau dia tidak hamil dulu, mana mungkin Arga menikahinya, ya itu senjata pamungkasnya.. Lha jadi nyebut nama suamimu..
Berhubung arga masih berat padamu dan menceraikannya, dia tidak punya pilihan lain Rat..
Anak itu hartanya satu satunya, tidak mungkin ia rela anak itu hidup dengan laki laki yang tidak ada hubungan darah dengannya?!"
" lalu bagaimana dengan keluarga arga, apa mereka tidak menuntut Tias??"
" kalau begitu kau tau dari mana??"
" dari mulutnya Tias yang mengeluh pada salah satu teman kita Winda, dia bilang menyesal atas semua yang sudah ia lakukan padamu.."
" menyesal..??" Ratih menggeleng pelan sembari tersenyum getir,
" setelah semua kerusakan yang ia sebabkan.. Dengan mudahnya dia berkata menyesal.." imbuh Ratih, meski sudah berusaha memaafkan tapi nyeri masih menyusupi hatinya.
" Hidupmu jauh lebih baik sekarang..
Dari mereka yang pernah merusakmu..
Bersyukurlah.."
Ratih diam, ia terlihat lama berpikir, dan menghela nafas tak lama kemudian.
" Sudahlah.. Bagaimana kalau kita jalan jalan setelah aku selesai, sudah lama aku tidak mencari buku.." ujar Ratih kemudian.
" Buku lagi.. Mbok ya belanja itu baju?!"
" yah setelah cari buku.." Ratih mengangguk lalu kembali fokus ke mesin kasirnya.
__ADS_1
Pamungkas berjalan masuk tanpa menoleh kanan dan kiri, ia tak menyangka sekar sedang duduk di ruang tamu sendiri.
" Bang..?" panggil sekar, membuat Pamungkas menghentikan langkahnya.
" Lho? dengan siapa disini??" Pamungkas mendekat,
" mencari mas Hendra," jawab Sekar,
" Hendra? Apa bengkel tutup?"
" buka, tapi mas hendra tidak ke bengkel.."
" eh, kenapa katanya?!"
" tidak tau karna itu kesini, ada perlu juga soalnya.." ujar gadis berambut sebahu itu mengulas senyum manis.
" hemm.. Sudah tau dia kau disini?"
" sudah bang, masih mandi.."
" ya sudah kalau begitu.." Pamungkas mengangguk lalu kembali berjalan masuk.
" Mas?!" panggil pamungkas saat memasuki ruang tengah,
" sudah siap..!" sahut Adi memakai jaketnya,
" ayo kalau begitu!" sahut Pamungkas sembari berjalan berjalan ke arah dapur.
" mbak, mas kubawa!" pamitnya sepintas.
" ati ati lho Pam?!" pesan Ana,
" siap...!", Pamungkas dan Adi berjalan keluar dengan peralatan pancing yang lengkap.
Ratih tentu saja tidak bisa mengabaikan kata kata linda, jika semua itu benar, Arga benar benar sudah hancur, dan Tias benar benar menjadi orang yang sangat jahat, tapi.. Ratih menghela nafas.
" Bukankah itu bukan urusanku.." ujarnya lirih, berusaha membuang pikirannya, di lihat jam dinding, suami nya belum juga pulang padahal sudah malam begini, sudahlah biarkan, toh suaminya memancing dengan papanya.
Sekitar tiga jam kemudian, sudah cukup malam, terdengar suara Pamungkas masuk ke dalam rumah.
Ratih yang matanya berat sekali hanya membuka mata sepintas lalu menutup kedua matanya kembali.
Bau harum samar samar tercium oleh Ratih, di tambah sebuah tangan melingkar di perutnya dan menarik tubuhnya.
" Dingin.." keluh Ratih dengan mata terpejam, lengan dan kakinya tersentuh tubuh Pamungkas yang dingin, rupanya laki laki itu baru selesai mandi.
" Cup.. Cup.. Cuppp.." Pamungkas mengecupi pipi istrinya.
" ngantuk mas, ngantuk..??" keluh Ratih lagi.
__ADS_1
Namun bukannya berhenti tangan Pamungkas malah masuk ke dalam baju tidur Ratih, dan tangan Pamungkas yang dingin itu sontak membuat Ratih membuka matanya.