
Arganta begitu menyesal, meski ia tau Ratih tidak akan mau kembali padanya ia tetap ingin menemuinya di sisa sisa hari liburnya.
Laki laki itu masih saja berdiri di depan jendela cafe, kakinya ingin melangkah masuk, namun melihat tatapan Ratih rasanya begitu berat.
" Jik ingin bicara bicaralah lalu segera pergi, jangan berdiri disini sembari menatap ke dalam,
Pelangganku sangat terganggu." entah kapan Ratih berjalan keluar, tiba tiba saja dia sudah di depan Arga.
Arga tak menjawab, wajahnya tiba tiba sayu menemukan Ratih di hadapannya.
Laki laki itu tertunduk dengan mata yang menggenang.
" Maafkan aku, bukan maksudku menganggumu.." suara Arga bergetar.
" lalu untuk apa?" suara Ratih dingin.
" kau.. Kau pasti sudah mendengar segalanya.." ujara Arga masih dengan suara bergetar,
" aku.. Memang bajingan, dan aku sudah mendapatkan hukuman yang setimpal,
aku mengkhianatimu, dan akhirnya ku di khianati pula.." Arga berusaha menatap Ratih meski sesekali ia tertunduk malu dan menyesal.
" lalu sekarang kau ingin mengeluh??!" Ratih ketus,
" tentu saja aku tak pantas.. aku..aku akan menerima segalanya dengan baik,
aku.. Kesini..
Semata mata ingin benar benar meminta maaf dan berusaha menerima semuanya dengan rela..
Aku..
__ADS_1
Aku berusaha merelakanmu..
Bahagialah dengan suamimu.. Meski itu berat bagiku.."
Arga tertunduk, di hapus air mata di sudut matanya.
" Maafkan aku, yang selama itu menyia nyiakan dirimu yang sudah setia dan tulus..
Maafkan aku..
Sungguh maafkan aku,
Aku meminta doamu, agar aku kuat dan mampu menjalani semua setelah ini.."
Ratih terdiam, bohong kalau hatinya tidak merasa iba dengan air mata Arga.
Ucapannya terdengar begitu menyesal dan tulus, tak ada pemaksaan seperti dulu di dalamnya, hal itu sedikit menyentuh hati Ratih, bagaimanapun mereka dulu pernah hidup bersama dan pernah bahagia meski tidak lama.
" Jangan menangis di depan cafeku, pelangganku bisa lari." Ratih masih dingin, menutupi rasa ibanya.
" Aku tau, yang berlalu biarkan berlalu, itu menjadi pelajaran untukmu dan untukku,
Kelak.. Ketika kau menikah kembali berhati hatilah memilihi seorang perempuan, jangan biarkan kau di bodohi oleh bentuk."
Mendengar itu Arga mengangguk pelan,
" Iya Rat.. Iya.." suaranya lirih.
Ratih tidak bisa duduk dengan tenang,
Bagaimana bisa suaminya tidak langsung pulang, tapi malah mengantarkan Sekar berbelanja entah kemana.
__ADS_1
Meski hanya mengantar lalu meninggalkan sekar, tapi tetap saja Ratih tidak senang.
Sejam kemudian suaminya datang, jam juga sudah menunjukkan waktu setengah tujuh malam.
Laki laki berseragam loreng itu masuk ke dalam rumah, melepas kaos kakinya sembari melempar senyum manis pada istrinya, namun yang di beri senyum malah acuh saja.
Setelah memasak telur goreng, tahu goreng dan sambal kecap, Ratih masuk ke dalam kamar,
Hatinya kesal, tapi ia memilih untuk diam dan membaca buku.
Takut di kira dirinya ke kanak kanakan, takut di kira curigaan.
Serba salah, Sekar memang sudah di titipkan pada suaminya dan dianggap layaknya adik sendiri oleh Pamungkas,
Tapi bukan berarti boleh sedekat ini.
Ratih sungguh sungguh terganggu, apalagi dengan suami yang tidak peka terhadap perubahan sikap dan ekspresi wajah istrinya itu.
beberapa hari kemudian hal itu terjadi lagi, bahkan mereka berbarengan dari rumah keluarga Ratih.
Kali ini Ratih melayangkan protes pada mamanya.
" memangnya keman sih ma? Kok suamiku yang harus mengantar?"
" bukan suamimu mengantar, tapi mereka berbarengan, toh sekar juga mau ke bengkel," jawab mamanya.
" Dia kan punya motor sendiri?!"
" mereka kan naik mobil hendra Rat, sekar juga ada kepentingan dengan hendra tampaknya?"
Ratih diam, ia dongkol sekali, kenapa mamanya itu begitu santai dan tidak berpikiran buruk sedikitpun.
__ADS_1
Sedangkan Arga dulu, sedikit sedikit Ratih di nasehati agar tidak memperkenalkan teman teman Ratih pada suami.
Dengang langkah kesal Ratih keluar dari rumah, tanpa pamit, segera menaiki motornya dan pergi.