
Sepanjang perjalanan Ratih sesekali mencuri pandang pada suaminya,
Sama seperti saat masih di kampung, tak banyak yang Pamungkas katakan, ia hanya berbicara seperlunya lalu kembali diam.
Laki laki itu masih seperti cangkang kosong.. Ratih benar benar merasakan perbedaan pada suaminya setelah kematian ayah mertuanya.
Mata suaminya tak lagi di penuhi amarah, kebencian pun entah menguap kemana,
Perubahan emosi yang benar benar luar biasa, membuat Ratih kebingungan dan terdiam.
Setelah penerbangan usai, dan semua barang mereka sudah di tangan, tanpa menunggu apapun Pamungkas segera mencari taksi.
" Mau beli makanan?" tanya Pamungkas ketika di tengah jalan,
" boleh mas.." sahut Ratih mengangguk.
" Pak, kita berhenti rumah makan sebentar, lima ratus meter dari sini" ujar Pamungkas pada sopir taksi,
" siap mas.." jawab si sopir taksi.
Sementara di tempat lain,
" Mereka sudah di jalan, kita kesana saja sekarang.." ujar Ana,
" beri waktu mereka istirahat.." sahut Adi tenang.
" Anak itu pasti hancur hatinya, mana bisa aku menunggu besok untuk melihat wajahnya??" protes Ana ingin segera menemui Pamungkas,
" bukan Ratih yang ku khawatirkan, tapi Pamungkas, apa kau ingat saat pertama kali bapak membawanya kerumah ini? Kukira dia akan merebut semua kasih sayang bapak dari anak anak kita..
Tapi nyatanya, jangankan merebut, menyayangi dirinya sendiri saja dia tidak sanggup..
bekas luka di tubuhnya membuatku sakit hati sampai detik ini,
__ADS_1
Aku saja sulit memaafkan ayah kandungnya, entah bagaimana perasaan hatinya??"
Mendengar istrinya bicara Adi tak menyahut, laki laki itu duduk sembari membuang pandangannya ke arah pintu rumahnya yang terbuka.
" Kau juga sayang padanya kan pa?"
" kenapa kau tanyakan hal semacam itu? Kita menjaganya dengan sepenuh hati agar dia bisa tumbuh dengan baik.." sahut Adi.
" Karena itu ayo kita kerumah Ratih?? Ratih bicara di telpon, pamungkas bahkan tidak menangis.. Oh, kasiannya pa..??" Ana merengek.
Adi menghela nafas berat,
" ya sudah, ambil jaket.. Kita kesana, tapi sebentar saja.." Adi akhirnya menyetujui kemauan istrinya.
Setelah sampai dirumah seperti biasa, keduanya langsung membersihkan diri, Ratih yang sudah selesai terlebih dahulu mulai menata makanan yang sudah mereka beli tadi ke atas piring.
" Mas, kalau sudah selesai ayo makan.." ujar Ratih pada suaminya yang masih memakai kaos.
Mendengar itu Ratih hanya menghela nafas dan berbalik,
Ia berjalan kembali ke meja makan dan menutup makanan makanan itu dengan tudung saji.
Rasanya malas makan sendirian, tapi perutnya lapar,
Dibuka kulkasnya, ada beberapa roti dan coklat, tapi.. sudah hampir dua minggu ia pergi,
" tidak apa apalah.. Kan di simpan di kulkas.." ujarnya pada diri sendiri lalu mengambil coklat.
Ratih duduk di sofa tengah, menyalakan TV dan memakan coklat di tangannya.
Entah apa yang di lakukan Pamungkas, laki laki itu tak juga keluar dari kamar.
Tiba tiba terdengar suara mobil berhenti dan pintu pagar yang di geser.
__ADS_1
" Pam..? Pamungkas? Lee..??!" suara ibu Ratih terdengar mendekat,
Tentu saja Ratih bangkit, mengabaikan coklat yang yang baru dua kali gigitan, lalu segera membuka pintu.
" Opo tho ma??" ujar Ratih sembari membuka pintu,
" nangdi bojomu? ( dimana suamimu?)" tanya Ana langsung,
" di kamar," jawab Ratih masih bingung kenapa mamanya langsung mencari suaminya.
Tak lama papa Ratih juga masuk, melihat itu Ratih berjalan ke kamar dan memanggil suaminya,
" Ada papa dan mama?" Ratih membuat Pamungkas yang sedang rebahan atau entah tidur itu membuka mata dan bangkit.
Ana yang duduk di sofa langsung bangkit saat melihat Pamungkas keluar dari kamar,
buru buru di peluknya Pamungkas hingga pamungkaspun kaget.
" Owalah Pam??! Seng sabar ya lee..??" ujar Ana sembari memeluk Pamungkas erat.
Pamungkas mematung cukup lama, wajahnya masih datar untuk beberapa saat,
Tapi wajah datar itu tiba tiba berubah karena ucapan Adi yang berdiri di belakang Ana,
" Kami adalah keluargamu, kau adalah bagian dari kami.. Kami semua mencintaimu Pam..".
Sontak Pamungkas melepaskan pelukan kakak iparnya, dan beralih pada kakaknya Adi,
Di peluknya laki laki tua itu erat dengan bahu yang berguncang hebat.
Tak ada satu katapun keluar dari mulutnya, hanya suara tangis yang sudah lama ia tahan.
Di tumpahkan semuanya, laki laki itu menangis sejadi jadinya, sampai sampai membuat Ratih tertegun.
__ADS_1