
Semua makanan yang tadi sempat di kunyahnya keluar begitu saja.
Entah kenapa dirinya yang baik baik saja tiba tiba begini.
Pamungkas Segera berlari membawa minyak kayu putih setelah istrinya itu berpindah ke dalam kamar dan berbaring.
Ratih terlihat lemas, dan kehabisan tenaga karena begitu hebatnya ia muntah.
Pamungkas ingin menggosok perut istrinya dengan Minyak kayu putih, namun Ratih menampik tangan Pamungkas.
Pamungkas tentu saja Heran kenapa sikap Ratih tiba tiba sinis begitu.
" Biar kami keluar dulu," ujar Ana dan Sekar yang berdiri di depan pintu kamar, semua orang terlihat khawatir.
" Sebaiknya saya pulang.." pamit sekar ketika sudah diruang tengah,
" maaf ya, maklum.. Kehamilan pertama.. rewel.." Ana menepuk lengan sekar, meminta maaf atas apa yang ia lihat.
" Namanya saja orang hamil, kau dulu juga rewel waktu hamil Ratih.." sahut Adi membela putrinya.
" Iya.. Saya mengerti tenang saja, mungkin saya membawa makanan yang tidak tepat..
Sebaiknya saya kembali ke bengkel, saya ada janji dengan mas hendra tante, om..?" ujar Sekar sembari tersenyum,
" ya sudah ya sudah.. Kembalilah.. Hati hati dijalan.." ujar Ana, sementara Adi hanya tersenyum sembari mengangguk.
Sementara di dalam kamar Pamungkas masih menghadapi situasi yang membingungkan.
Istrinya itu benar benar tidak mau di sentuh,
Sudah dua kali tangan pamungkas di tampik dengan kasar.
" Kalau tidak mau kusentuh ya sudah, tapi olesi tubuhmu dengan minyak kayu putih," Pamungkas menaruh botol minyak kayu putih itu di meja samping tempat tidur.
Cukup lama ia memandangi istrinya, namun istrinya itu malah berbalik membelakanginya,
Terlihat jelas sorot kebencian di mata Ratih, entah kenapa tiba tiba begitu.
" Istirahatlah, aku keluar dulu," suara Pamungkas masih sabar, ia bangkit dan berjalan keluar kamar meninggalkan istrinya itu.
Setelah Pamungkas pergi, dan terdengar suara pintu di tutup, air mata Ratih mulai turun, perempuan itu terisak, hatinya sakit sekali, ia tak sengaja melihat ada cincin yang melingkar di jemari Sekar tadi.
Itu Pasti cincin yang di bicarakan oleh iwang,
__ADS_1
Pikirannya tidak bisa jernih, hanya hatinya dan hatinya yang bicara.
perasaan terkhianati yang dulu di rasakannya, kini hadir kembali.
Rasanya tidak kuat, ia tidak ingin menanggung hal itu kembali.
Ia benar benar tidak pernah membayangkan,
Laki laki yang ia kenal sedari kecil itu bisa dengan mudah mengkhianatinya,
Apakah semua laki laki sama saja??.
Ratih menggeleng pelan, tidak sanggup ia membayangkan masa depan, ia tidak mau terjebak dalam pernikahan yang tidak sehat untuk kedua kalinya,
Entah hubungan suaminya dan sekar sudah sampai dimana, ia sungguh tidak sanggup membayangkan, karena cincin sudah terlingkar di jari sekar.
Apakah Pamungkas sedang berencana menduakannya, menyimpan Sekar diam diam, atau.. Suaminya itu sedang mengatur rencana untuk meninggalkannya, tapi karena kehamilan Ratih yang tiba tiba,
Rencana itu jadi berantakan.
Benar.. Bisa saja, bisa saja hal itu terjadi karena pasti Pamungkas mengira Ratih tidak akan mampu memberinya keturunan, karena itu ia sudah menyiapkan sekar untuk masa depannya.
Ratih memegang kepalanya, menggeleng pelan dengan air matanya yang masih mengalir,
Apa yang pikirannya sungguh sungguh menakutkan, namun demi janin di perutnya,
" Mungkin dia ingin makan yang kecut kecut.. Coba kau carikan mangga muda di toko buah, asam bisa mengurangi mualnya.." perintah Ana, dan tanpa menunggu waktu lama Pamungkas langsung berangkat.
Ia berputar putar, dari satu toko buah ke buah yang lain.
Setelah sekitar satu jam setengah, akhirnya Pamungkas datang, ia membawa mangga dan kelapa muda.
Namun saat Pamungkas menaruh plastik yang berisi barang bawaannya itu di dapur, ia melihat Ana buru buru menghampirinya dengan raut wajah gelisah.
" Saat kau pergi tadi, Istrimu menangis terus, sempat muntah lagi, dan setelah muntah dia menangis lagi.. Kau bawa saja dia kerumah sakit?!" ujar Ana,
Pamungkas segera berjalan ke arah kamar mendengar itu.
Sesampainya di pintu kamar, ia melihat mak Karso sedang memijit kaki Ratih, sembari mengoleskan minyak kayu putih.
Ratih terlihat memejamkan matanya sembari sesekali sesegukan.
Mak Karso membeli pamungkas isyarat dengan satu jari yang di letakkan di mulutnya, agar Pamungkas tidak berisik.
__ADS_1
Melihat itu Pamungkas mundur dan berbalik.
" Dia kecapekan menangis.." ujar Adi duduk disamping Pamungkas.
" Katakan sejujurnya padaku, apa kalian ada masalah?" tanya Adi serius,
Pamungkas mengusap wajahnya yang lesu,
" tidak mas, kurasa tidak.." jawab Pamungkas bingung,
" kau rasa?"
" iya, aku merasa tidak ada masalah mas.. Kami hanya bertengkar kecil lalu kembali berbaikan.. Sudah itu saja.. Selebihnya tidak ada.."
" kau yakin?"
Pamungkas mengangguk,
Adi menghela nafas berat,
" Setiap jiwanya terguncang hebat, ia akan sakit.. aku tau itu karena dulu aku pernah membawanya ke psikiater,
Aku lupa apa namanya, psikosomatik kalau tidak salah.. Kalau salah maklumilah, aku sudah tua ingatanku kabur..
tubuhnya akan merasakan hal hal tertentu setiap dia merasa tertekan, cemas, dan ketakutan.
hal itu terjadi sejak dia tau perselingkuhan Mantan suaminya,"
" kenapa aku tidak tau mas?"
" karena kau jauh dan tak pernah lama disini.."
Pamungkas tertunduk sejenak,
" lalu apa sekarang dia begitu lagi?" tanyanya pada Adi,
" menurutmu? lihat tubuhnya yang tiba tiba sehat tiba tiba sakit, selain bawaan bayi apa yang bisa membuatnya mudah menangis?" tanya Adi balik,
" tapi saya tidak berbuat sesuatu hal yang..? Sungguh mas.. aku tidak macam macam.." raut wajah Pamungkas serius,
Laki laki yang ketegasannya luar biasa saat di tempat kerja itu, benar benar terlihat tidak berdaya di depan Adi sekarang.
" aku juga tidak mengerti mas, kenapa air matanya selalu tumpah.." ujar Pamungkas.
__ADS_1
" Coba kau ajak bicara dari hati ke hati istrimu, minta maaflah meski kau tidak bersalah.. Mungkin dari sana semua keluh kesahnya akan terbuka..
Tapi tunggulah waktu yang tepat.." nasehat Adi.