Om Pamungkas

Om Pamungkas
langit abu abu


__ADS_3

Mobil kijang berwana biru tua itu berhenti tak jauh dari mereka,


Sesosok laki laki yang pernah Ratih lihat sebelumnya keluar dari dalam mobil dan berjalan mendekati dirinya dan suaminya.


Itu Ruslan.. omnya Pamungkas.


" Maaf nak, sudah lama kalian menunggu?" si om tersenyum senang melihat Pamungkas yang berdiri disamping istrinya.


Meski tak ada senyum atau sapaan ramah dari Pamungkas, Ruslan tetap senang.


" Tidak apa apa om, kami tadi berkeliling cari sarapan.." sahut Ratih menyalami Ruslan.


" Makanan disini pasti tidak cocok dengan lidah kalian? tantemu sudah memasak dirumah, ayo ayoo.. mari segera pulang, makan dan istirahat??" ajak Ruslan.


Ratih melihat suaminya yang diam bagai patung.


" Ayo masuk..?" ajak Ratih menarik lengan Pamungkas,


Pamungkas tak menjawab, namun ia mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam mobil.


" Maaf nak.. Mobil om jelek.." ucap Ruslan di tengah perjalanan,


" tidak om, bisa di jemput om kami sudah berterimakasih.." sahut Ratih, dan suasana di dalam mobil itu kembali hening.


Pamungkas dan Ratih kembali memperhatikan jalan yang mereka lewati,


Rupanya memang masih jauh, mereka menuju daerah yang sedikit tinggi, dimana terlihat jelas perbukitan di sekitar.


Di sepanjang jalan keduanya banyak melihat rumah rumah yang masih terbuat dari kayu, ada yang berbentuk panggung, ada pula yang di bangun tepat di atas tanah.


Banyak pula rumah yang sudah terbuat dari tembok seperti rumah rumah di kota.


Suasana jelas berbeda, entah apa yang membuatnya berbeda, yang jelas langit sedari tadi abu abu, padahal siang sudah merangkak naik.


" Apa disini sudah musim hujan om?" tanya Ratih,


" Sudah nak.. tapi jarang hujan disini.." jawab si om sambil menyetir.


Setelah menyetir selama tiga puluh menit, dan memasuki jalanan kecil yang ukuran jalannya hanya cukup dengan satu mobil itu,


Akhirnya mobil itu berhenti di sebuah halaman rumah yang tidak berpagar dan berumput tebal.


" Nah, ini rumah om.. ayo turun nak..?" Ruslan turun, di ikuti dengan Ratih dan Pamungkas.

__ADS_1


Rumah Ruslan sudah modern, bukan lagi rumah kayu,


Rumah Ruslan berjajar dengan tiga rumah lain, yang bentuknya sudah modern.


Namun ada satu rumah panggung dari kayu yang terlihat masih berdiri dengan kokoh di paling ujung.


Mata Ratih berbinar takjub, tentu saja itu pemandangan yang tidak ada di kota malang.


" Biar kopermu om yang bawa?" ujar ruslan mendekat ke arah Pamungkas yang sudah menurunkan kopernya.


" Biar saya bawa sendiri." ujar Pamungkas sembari mundur.


Ruslan tau kalau Pamungkas menciptakan jarak, tapi ia berharap jarak itu segera pupus.


Ia juga ingin di panggil om dan di sambut dengan baik oleh keponakannya itu.


" Ya sudah, kalian makan dulu dirumahku ya.." Ruslan berjalan menuju teras rumahnya, bangunannya cukup sederhana namun luas.


Pamungkas dan Ratih masuk, keduanya di persilahkan duduk di ruang tamu.


Seorang perempuan berkulit putih dan bertubuh gemuk keluar dari ruang tengah yang sdi sekat menggunakan tirai itu.


" Pamungkas?" tanya perempuan itu setengah berbisik, setelah menatap Ruslan ia menatap Pamungkas.


" Kalian mau tidur dimana nanti?" tanya tiba tiba,


" Apa ada hotel sekitar sini?" tanya Pamungkas cepat.


" Tidak ada nak, ada hotel di dekat kalian turun bus saja itu..


kita ini keluarga, tidak usah kalian tidur di hotel..


Kalau kalian tidak nyaman, kalian boleh tidur dirumah Rusdi,


Dia punya rumah itu kosong..


Karena dia sudah lama pindah ke kalimantan,"


" Tetangga?" tanya Pamungkas,


" eh, tetangga bagaimana? om mu itu nak..


rumahnya disamping rumah Rapuni, agak ke selatan sedikit.. persis sebelah kebun..",

__ADS_1


Mendengar penjelasan Ruslan Pamungkas dan istrinya saling berpandangan.


" Jangan sungkan, sudah seminggu Rusdi pulang, tapi dia lebih sering tidur dirumah ayahmu, atau kau mau tidur dirumah ayahmu?" tanya Ruslan.


" Tidak, kami dirumah pak Rusdi saja kalau tidak merepotkan." jawab Pamungkas cepat.


Ruslan menghela nafas, ia heran kenapa Pamungkas tidak mau memanggil dirinya dan adik adiknya om.


" Ya sudah, kalian makan dulu, setelah itu kuantar kerumah Rusdi," ujar Ruslan.


Ratih membuka jendela, hanya jajaran pohon sagu yang ia lihat.


" Dulu sering lihat di TV, sekarang lihat langsung pohon sagu.." gumam Ratih.


Pamungkas yang mendengarnya diam, tak berkomentar,


laki laki itu hanya merebahkan dirinya dengan tenang.


" Mau ku buatkan kopi, tapi aku takut mau ke dapur mas.. di kira lancang.." ujar Ratih,


" jangan, ini bukan rumah kita, toh katanya rumah ini jarang di tempati, pastinya tidak ada kopi atau gula," sahut Pamungkas.


" Apa kita tidak langsung menemui ayah mas?"


" kita istirahat dulu, barang sejam dua jam, setelah itu kita kesana, mereka juga pasti tau kita lelah.." jawab Pamungkas sembari memejamkan matanya.


" Aku tidak bisa tidur di bus, tidak lelap sepertimu.." imbuhnya.


" Ya sudah, mas tidur saja, tapi.. apa aku boleh jalan jalan di sekitar?" tanya Ratih,


" kemana? Ini kampung orang?" Pamungkas membuka matanya kembali,


" kalau tidak boleh duduk di teras sajalah.. cari angin.."


" benar duduk di teras saja?"


" iya di teras saja.."


" hemm ya wes.. Ingat, jangan kemana mana, akun tidur cuma sebentar?"


Ratih mengangguk,


melihat suaminya kembali terlelap, Ratih turun dari tempat tidur yang di letakkan di lantai itu.

__ADS_1


Ia berjalan keluar, ingin menikmati angin, karena meski mataharinya tidak terik, udara sedikit panas.


__ADS_2