Om Pamungkas

Om Pamungkas
bimbang


__ADS_3

Pamungkas duduk di teras, ia sengaja menunggu istrinya.


Setelah satu jam duduk, akhirnya sebuah mobil berhenti di depan rumah, terlihat istrinya keluar dari mobil taksi online dan berjalan masuk ke halaman.


Ratih melewati Pamungkas begitu saja, tak berbasa basi sedikitpun.


Pamungkas bangkit dari kursi, menyusul langkah istrinya, di perhatikan istrinya yang masuk ke dalam kamar dan segera mengganti bajunya dengan daster itu.


Sementara Ratih yang sadar di perhatikan tetap saja diam.


Ratih menaruh obat obatan yang ia dapatkan dari dokter di meja samping tempat tidur.


Melihat itu Pamungkas mendekat, mengambil obat obatan itu, membolak baliknya sebentar lalu menaruhnya kembali.


" Apa kata dokter?" tanya dengan nada lembut,


" lambungku bermasalah," jawab Ratih pelan.


" Katanya sakit kepala?"


" iya, kata dokter pengaruh asam lambung," jelas Ratih.


" Kenapa tidak bicara padaku?" Pamungkas bertanya lebih pelan,


" tentang apa?"


" sakitmu?" Pamungkas memandang istrinya lekat.


" Bukankah mas sibuk, mana berani aku menganggu," jawab Ratih dengan nada lelah.


" Aku suamimu, siapa yang mau kau ganggu kalau bukan aku?" Pamungkas duduk di depan Ratih.


" Apa kata orang kalau tau kau berangkat kerumah sakit sendiri? meski tak mau kuantar, seharusnya kau telfon Hendra?"

__ADS_1


" sudah kukatakan, aku tidak mau menganggu orang sibuk," jawab Ratih, perempuan itu mengambil bantal dan merebahkan dirinya.


Pamungkas menghela nafas berat melihat tingkah istrinya,


" Makan dulu, lalu minum obat," Pamungkas menyentuh kening Ratih.


" Sudah makan di jalan tadi, sekalian minum obat." jawab Ratih memejamkan kedua matanya.


" Apa sungguh gara gara asam lambung saja?" tanya Pamungkas masih khawatir.


" Benar." lagi lagi jawaban Ratih pendek.


Pamungkas diam di tempat, meski Ratih acuh ia tetap diam menunggu, sembari sesekali menghela nafas berat.


" Bagaimana aku bisa tidur kalau mas menghela nafas terus?" Ratih membuka matanya,


" Apa tidak ada yang mau kau bicarakan denganku?" tanya Pamungkas tiba tiba, ia masih mengharapkan kejujuran istrinya.


" membicarakan apa?" tanya Ratih memandang Pamungkas,


Ratih tidak bisa tidur malam ini, ia masih terbayang bayang kejadian tadi siang.


Tiba tiba kepalanya sakit lagi,


tangis bayi itu bahkan masih terngiang di telinganya.


Bayi kecil yang tidak bersalah, tidak adil rasanya kalau ia harus membenci bayi itu.


Bukannya benci, ia justru kasihan..


Sekecil itu ia sudah di pisahkan dengan ibunya, dan papanya pun tidak bisa setiap hari bersamanya.


Tanpa sadar Ratih menghela nafas, bisa bisanya ia mengendong anak hasil perselingkuhan Arga dan Tias.

__ADS_1


Pamungkas yang juga belum tidur mendengar helaan nafas istrinya.


" Kenapa?" tanya Pamungkas,


" tidak apa," jawab Ratih lirih,


" mau kupijit kakimu?"


Ratih sedikit terkejut, sudah sebulan lebih sikap Pamungkas dingin, kenapa tiba tiba mau memijit kakinya?.


" Tidak usah, mas tidur saja." jawab Ratih cepat.


Tapi Pamungkas seakan tak mendengar, laki laki itu bangkit dan menyentuh telapak kaki istrinya.


" Lho mas??" Ratih menarik kakinya karena kaget, tapi Pamungkas memeganya dengan sigap.


" Diamlah, tutup matamu.." ujar Pamungkas masih memegang kaki istrinya.


" Tapi?"


" Tapi apa? Kau takut kuganggu? aku tidak akan menganggu orang yang sedang sakit.." tegas Pamungkas.


Mendengar itu Ratih mengalah, di biarkan suaminya itu memijit kakinya.


Pamungkas yang sudah sedari tadi melihat Ratih terlelap, bangkit dari atas tempat tidur.


Ia memberanikan diri menyentuh HP istrinya yang tergeletak di meja.


Baru pertama kali, sungguh ini benar benar baru pertaman kali ia menyentuh barang istrinya tanpa ijin.


Di bawa HP itu keluar dari kamar, dan duduk di ruang tamu yang lampunya sudah ia matikan itu.


Perasaan nya tak karu karuan, ia bimbang antara memeriksa HP itu atau tidak, ia takut akan kenyataan yang mungkin ia temukan.

__ADS_1


Bagaimana kalau dia masih berkomunikasi dengan Arga, bagaimana kalau memang Ratih belum bisa membuang Rasa cintanya.


Yang ia tangkap dari cerita Iwang adalah, rasa cinta yang masih begitu besar, dari sanalah muncul kesedihan dan kekecewaan yang dalam.


__ADS_2