
Pamungkas menahan dirinya, meski matanya menyalang tajam ke arah Arga.
Arga yang di tatap setajam itu tentu saja tak nyaman,
ia tertunduk dalam dari awal apel sampai akhir apel.
" Kau kenapa?" tanya Fakih saat keduanya berjalan kembali keruangan.
" Kenapa apanya bang?" Pamungkas balik bertanya.
" Kendalikan dirimu, semua orang bisa melihat kebencianmu pada Arga," nasehat fakih.
" Siapa bilang aku benci, tidak.."
" lalu?"
" aku hanya ingin menginjak kepalanya saja.." raut Pamungkas datar saat mengatakan itu.
" Jangan sampai orang lain dengar ini Pam, kau bisa di nilai buruk,
usiamu sudah tidak muda, harusnya kau lebih bisa mengendalikan dirimu."
" Yah, usiaku sudah tidak muda, jadi karena itu aku harus terus terusan mengalah pada anak muda?" Pamungkas mempercepat langkahnya.
" Eh??, kau ini kenapa sudah semingguan ini kau uring uringan terus?!" Fakih mengikuti langkah Pamungkas.
" Aku tidak mau menikah.." ucap Ratih lirih saat penjahit sudah selesai mengukur dirinya.
" Kau ini kenapa Rat? jangan macam macam, tensi papamu tinggi terus?" Ana mencubit lengan Ratih kesal.
" Ratih mau buka usaha di solo saja?"
" sola solo..!" mamanya gemas,
" Pamungkas akan menjagamu dengan baik Ratih, sejak kau kecil dia yang selalu mengobati lukamu saat jatuh, bukan mas mu Hendra.
Dia adalah orang yang paling baik untuk menjadi suamimu di mata kami sekarang." imbuh mamanya mencoba mencocokkan beberapa kain pada tubuh Ratih.
" Aku benar benar tidak ingin menikah ma.." Ratih tertunduk layu,
" kenapa? kau masih mencintai Arga?" mamanya menatap kesal,
__ADS_1
" Tentu tidak ma?!" suara Ratih meninggi,
" lalu? apa alasanmu?!" suara mamanya tak kalah tinggi, membuat si ibu penjahit tau diri dan keluar dari ruangan sejenak.
" Apa karena Pamungkas jauh lebih tua darimu?,
kau ingin pasangan yang lebih muda dan gagah?" tatapan mamanya tidak menyenangkan bagi Ratih.
" Om Pam bahkan lebih gagah dari Arga meski ia jauh lebih tua.." gumam Ratih,
" lalu?"
" Ali tidak merasa pantas ma, aku jug malu..
apa kata orang kantor?
om Pam satu kesatuan dengan Arga??"
" apa yang kau cemaskan? pangkat Pamungkas jauh lebih tinggi dari mantan suamimu yang kurang ajar dan tidak becus itu?!".
Ratih diam, ia masih bingung bagaimana cara menjelaskan ketakutannya yang sesungguhnya pada mamanya.
" Pernikahanmu bulan depan, kami mengambil hari baik yang paling cepat agar kerusuhan ini segera berakhir.
Adi sedang menyiram tanamannya di halaman saat Hendra pulang.
" Mana om mu?" tanya Adi,
" lho? tadi cuman ke bengkel sebentar pa? memangnya tidak kesini?" Hendra menghentikan langkahnya.
Tidak, sudah berhari hari dia tidak kesini, tanya mamamu kalau tidak percaya," jawab Adi sembari mematikan air.
" Wah, ada apa ya pa? jangan jangan om Pam ribut dengan Ratih?
malam itu Hendra lihat muka om Pam masam sekali saat keluar dari kamar Ratih,"
" nah kui.. adikmu.. aneh kok memang,
gayanya seperti orang mabuk cinta, pas disuruh nikah begini.." Adi menggerutu.
Hendra terdiam, dirinya juga ikut bingung, tidak tau apa yang di pikirkan adiknya sesungguhnya.
__ADS_1
" Apa mungkin Ratih minder ya pa?" Hendra tiba tiba saja berpikir begitu,
" minder? minder kenopo?!"
" mungkin karena janda pa?"
" wah! aneh aneh ae! apa yang dia minderkan?!"
" iya tau pa kalau adikku itu cantik, sekolahnya juga bagus..
tapi untuk menjadi istri seorang om Pamungkas, bukankah seharusnya perempuan yang lebih tenang dan dewasa pa?,
aku pernah dengar om Pamungkas hampir menikahi seorang dokter gigi, anak komandannya,
kalau Ratih minder ya pantas.."
" papa sudah pernah menawarkan adikmu untuk mengajar di tempat teman papa, tapi dia tidak mau, malah buka cafe sama taman bacaan..
ya kalau dia minder ya salah dia..
sudahlah..
Pamungkas itu bukan orang lain,
dia tidak perduli meski Ratih ongkang ongkang kaki dirumah dan tidak melakukan apapun,"
" karena om sudah menyukai Ratih dari dulu?" tanya Hendra,
papanya mengangguk,
" entah apa yang dia lihat dari adikmu, dia jatuh cinta begitu saja tanpa dia sadari..
heran papa, sudah pindah dinas jauh begitu..
Ratih juga sudah menikah begitu..
Pamungkas kenapa masih tetap begitu ya Hen.. maksud papa tetap saja menyayangi adikmu sampai begitu?"
" lha papa takok aku terus aku takok sopo pa??( lha papa tanya aku terus aku tanya siapa pa??)" ujar Hendra.
" Terus kau sendiri? adikmu sudah mau menikah dua kali ini?" Adi beralih pada Hendra,
__ADS_1
" Masih berusaha ini pa? sabar sabar... perkara perasaan Hendra tidak bisa sat set.." jelas Hendra pada papanya.
" Tapi perkara uang kau sat set?!" Adi memukul lengan Hendra.