Om Pamungkas

Om Pamungkas
berubah


__ADS_3

Ratih menyalakan lampu taman, berkali kali ia melihat jam, sudah hampir jam tujuh malam, tapi suaminya belum juga pulang.


Berkali kali di telfon oleh Ratih, Pamungkas hanya menjawab bahwa sedang ada urusan.


Masakan yang Ratih siapkan bahkan sudah dingin.


Tiga puluh menit berlalu, terdengar suara motor pamungkas masuk ke garasi.


Masih berseragam PDH, ia melepas sepatunya lalu masuk.


Tak mengucapkan salam dan menyapa manis.


" Makan dulu.." Ratih menaruh kopi panas di meja tengah,


" Sudah makan tadi, mau mandi terus tidur, capek.." jawab Pamungkas langsung masuk ke dalam kamar.


Ratih terdiam, entah sudah berapa lama Pamungkas seperti ini,


Hampir sebulan ini sikapnya dingin.


Terkadang saat ia mulai bersikap manis, tiba tiba sikapnya dingin kembali, entah apa yang sesungguhnya laki laki itu pikirkan.


" Apa ada perempuan lain?" tanya Ratih dalam hati, tapi suaminya itu tetap tidur dengannya dan bersikap lembut saat di ranjang,


hanya saja bicaranya tak sebanyak dan sehangat biasanya.


" halluuu..." suara Bayu membuyarkan pikirannya,


" wahhh bu kasir sedang sibuk melamun rupanya.." goda Bayu.


" Melamun apa.. kau sedang libur?" tanya Ratih kurang bersemangat,


" masuk malam.. ayo temani aku ngobrol.. aku sedang suntuk," ujar Bayu.


" Eh! Orang suntuk ketemu orang suntuk.. Buramm.." gumam Ratih.


" Hahahahaa.. kau suntuk? Kelihatan jelas dari wajahmu..!" ejek bayu.


" Berisik, sudah mau pesan apa? awas kalau pesanmu tidak banyak..!" Ratih ketus.


" Astagaa.. galaknya..".


Keduanya berbincang, lama..

__ADS_1


hingga Bayu menghabiskan dua mug susu.


" aku kan sudah menceritakan masalahku, lalu masalahmu?" tanya Bayu.


" Bukan konsumsi umum," jawab Ratih cepat.


" Astaga.. kau ini, aku bertanya karena siapa tau bisa memberi solusi?"


" kau saja pusing kok mau memberiku solusi.."


Mendengar itu bayu tertawa,


" aku tau.. pasti kau ribut dengan suamimu? Iya kan?"


" aku tidak ribut, jangankan marah..


dia tidak pernah bernada keras padaku.." jawab Ratih.


" lalu? yang membuatmu melamun seperti itu apa?"


Ratih diam cukup lama, sepertinya ia menimbang nimbang akan bercerita atau tidak.


" Aku tidak mau membahas diriku, karena kupikir aku tidak ada masalah dengan suamiku.." ujarnya kemudian,


" ada apa sih... bicaralah.."


" uhh! Mengejekk!" Bayu kesal.


" Klining..!" terlihat seorang perempuan masuk.


Itu Tias, matanya langsung tertuju ada Ratih.


Tanpa menunggu Tias mendekat,


" bisa bicara di tempat lain?" tanya Tias pelan,


" kau lihat? aku sedang sibuk berbincang dengan temanku, ada apa memangnya?" sahut Ratih,


" aku ingin bicara?"


" tentang itu lagi? aku tidak mau.." tegas Ratih.


Tias terdiam, lama perempuan itu berdiri disamping Ratih.

__ADS_1


" Pergilah, aku sudah tidak mau berurusan denganmu." imbuh Ratih.


Bayu tak berani berkomentar, ia hanya menatap perempuan yang berdiri disamping Ratih itu.


Ratih menghentikan motornya di depan bengkel, ia sudah mengira, suaminya pasti diam di bengkel.


Ratih berjalan masuk ke bengkel yang sudah mulai sepi itu, betapa terkejutnya ia melihat Sekar ada disana dan sedang berbincang dengan suaminya.


" Lho? tumben? cari bojomu toh?" Hendra menyapa dari luar, di tangannya membawa dua mangkok bakso.


Ratih diam, perasaannya tidak nyaman,


" kok malah diam, ayo masuk, ku pesankan bakso juga?!" ajak Hendra.


Mendengar suara Hendra yang keras Pamungkas baru menyadari kehadiran istrinya, ia tampak terkejut, tapi segera di buang keterkejutannya.


" Ada apa?" tanya Pamungkas, tak bangun dari tempat duduknya.


Ratih mengatupkan bibirnya rapat rapat, menahan diri.


Bisa bisanya dia bertanya ada apa pada istrinya,


bisa bisanya juga dia bercanda santai seperti itu dengan perempuan lain, sementara dirumah dia bersikap dingin, protes Ratih dalam hati.


" Apa harus ada apa apa dulu mencari suami?" jawab Ratih tak kalah dingin.


Pamungkas tersenyum kecut,


" duduklah sini," Pamungkas memukul tempat duduk disampingnya, menyuruh istrinya duduk.


" Tidak, aku pulang saja," ujar Ratih berbalik dan berjalan pergi.


" Lho Rat?!" Hendra mengejar langkah adiknya,


" sudah ku pesankan bakso?!"


" tidak usah mas! aku ini adikmu bukan sih?!" sembur Ratih pada Hendra, air matanya hampir jatuh.


Hatinya nelangsa sekali melihat senyum Pamungkas yang pahit itu.


" Jangan begitu, ayo makan dulu sama sama.." Pamungkas tiba tiba disamping Ratih, entah kapan ia bangkit.


" Jangan bersikap seperti itu di depan sekar.. tidak enak.." imbuh Pamungkas menghela tangan istrinya dan membawanya kembali masuk.

__ADS_1


Semakin sakit hati Ratih, ia di bawa kembali ke dalam oleh suaminya bukan untuk menjaga perasaannya, tapi untuk menjaga perasaan Sekar.


Rasanya ingin marah, tapi ia harus menjaga martabatnya sebagai istri Pamungkas.


__ADS_2