
Ratih yang baru saja bercanda dengan Ria itu tiba tiba kehilangan senyumnya,
" Klintinggg.." suara pintu cafe di buka,
Arga yang masih menggunakan seragamnya berjalan ke arah meja kasir, dimana Ratih berada.
" Kau sudah sembuh?" tanya Arga meletakkan tote bag kertas, entah apa isinya, kue atau entahlah Ratih tak ingin tau.
" Dari mana kau tau aku sakit?" Ratih memicingkan mata.
" Papa mamamu yang bilang saat kerumah,
maafkan aku Ratih, padahal kau dulu tidak mudah sakit, tapi kenapa sekarang kau mudah sekali sakit?" Arga bersikap santai, dia menaruh kedua lengannya di meja kasir dan mencondongkan dirinya ke arah Ratih.
" Kau masih sedikit pucat.. tapi kau tetap saja cantik..
apa kau mewarnai rambutmu?
kulihat sedikit coklat.." Arga berusaha menghela jemari Ratih, tapi Ratih menarik tangannya dengan cepat.
" Kumohon.. pergilah.." desis Ratih menahan diri.
" Kenapa? kau tidak percaya aku sungguh sungguh?,
aku bahkan sudah bicara langsung dengan papa dan mama.."
" Om dan tante! panggil mereka begitu, mereka bukan mertuamu lagi." tegas Ratih menahan diri.
" Mana mungkin aku memanggil mereka om dan tante..
aku tidak rela.." laki laki berparas ganteng itu terlihat serius.
" Tidak hanya perkara mereka, perkara dirimu pun aku tidak rela.." ujarnya,
" Kalau kau tidak rela, harusnya kau berpikir ulang sebelum tidur dengan Tias di kamarku,
tidak cukup itu,
setelah bercerai kau masih tidur dengannya, perut Tias buktinya,
kau mau bicara apalagi?" Ratih sengit.
" Aku tidur dengannya karena nafsu, bukan cinta??
tanyalah pada laki laki manapun?
__ADS_1
mereka bisa tidur dengan siapapun meski tanpa cinta?!"
" Tidak waras! kau ingin memperburuk citra laki laki?!,
papaku juga laki laki, tapi tidak sepertimu!".
Arga terdiam mendengar itu, dia menoleh kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang mendengarnya.
" Jujur saja.. aku hanya membutuhkan anak dari Tias, selain itu tidak ada Rat.." Arga setengah berbisik.
" Jadi kau menyelingkuhiku karena aku tidak mampu memberimu keturunan? semudah itu? kita bahkan belum lima tahun menikah?!"
" aku.. aku hanya bingung Rat, karena setiap bertemu orang, mereka selalu bertanya tentang momongan.." Arga tertunduk malu.
" Yakinlah, aku akan berubah..
sejak dia hamil aku sudah tidak pernah menyentuhnya Rat..
percayalah?"
" Karena itu kau mencariku?!"
" aku mencintaimu??"
" gila! pergi, pergi dari sini!" Ratih mendorong kedua lengan Arga agar menjauh dari meja kasir.
mendengar ancaman Ratih Arga menarik dirinya,
ada sedikit kecemasan yang di baca Ratih,
rupanya laki laki itu takut pada Pamungkas.
" Baiklah.. aku akan pulang, turun piket lusa aku akan menemuimu lagi, jaga kesehatanmu baik baik ya Rat.." kalimat yang begitu manis dan penuh perhatian, sayangnya itu sudah tidak berguna untuk Ratih.
Arga mundur dan berbalik, melangkah pergi, banyak mata yang mencuri pandang, rata rata para perempuan,
tentu saja, Arga bukan laki laki yang jelek,
karena itu Tias sampai mengkhianatinya Ratih demi bersama Arga.
Pamungkas Seperti tidak betah dirumahnya, kakinya ingin untuk terus pergi kerumah Ratih,
melihat perempuan itu setiap hari.
Apalagi sekarang ia tidak perlu menutupi apapun, restu sudah di tangan.
__ADS_1
" Ah.. kenapa aku harus pindah rumah ya..?" Pamungkas bergumam sembari mengangkat lengan kaosnya ke bawah siku.
Pamungkas melirik jam,
sudah selesai magrib, Ratih pasti sudah pulang.
Diambil kunci motornya, dan berjalan keluar kamar.
" Anu bu, mba Ratih katanya makan di atas saja.." ujar Mak karto,
" Lha.. mulai lagi anak itu.." guman mamanya,
" Ya wes.. jarno ae mak..( ya sudah.. biarkan saja mak..)" ucap Ana kemudian.
Seperti biasa, Adi sedang duduk tenang di ruang tengah, menonton saluran televisi favoritnya.
Sementara Hendra baru saja turun dari kamarnya.
" Laparrr maa....!!" suara Hendra manja seperti bocah,
" lapar ya makan, malah bengok bengok...! ( malah teriak teriak..!)" sahut mamanya.
" Masak opo ma?" Hendra mendekat ke meja makan.
" Kare ayam kampung sama rica ayam kampung.."
" wahhh.. sip ma!" Hendra tak menunggu, ia langsung duduk dan menunggu dengan tenang.
Tak lama, beberapa menit kemudian, suara pintu depan terbuka, seseorang berjalan dari ruang tamu ke ruang tengah.
" Wes maem Pam?!" tanya Ana yang sudah hafal dengan gerak gerik Pamungkas.
" Lha kesini mau makan kok mbak.." Pamungkas tersenyum, wajahnya tampak segar sekali.
" Om tak sawang sawang tambah nguanteng e saiki? ( om di lihat lihat tambah guanteng sekarang?)" goda Hendra yang sudah mengangkat sendok berisi nasi.
" ga punya uang receh ini Hen.." sahut Pamungkas duduk disamping Adi yang masih menonton TV.
" Ndak makan mas?" tanya Pamungkas,
" Nanti saja," jawab Adi,
" kebetulan kau datang, Ratih rewel lagi, minta makan di kamar, naiklah sana.." imbuh Adi.
" Mbok ya Pamungkas itu biar makan dulu pa?" protes Ana,
__ADS_1
" Nanti saja mbak, saya belum terlalu lapar.. biar saya naik ke atas," ujar Pamungkas bangkit.