Om Pamungkas

Om Pamungkas
kunjungan sekar


__ADS_3

Hendra masuk bersama Sekar, perempuan yang usianya tak terlalu jauh berbeda dengan Ratih itu tersenyum manis, di tangannya membawa satu kotak cake.


" Bang.. Ini buat kak Ratih.." Sekar menyerahkan kotak kue itu.


" Serahkan sendiri, masuklah ke kamar.." ujar Pamungkas.


Mendengar itu Sekar memberanikan diri masuk ke dalam kamar, ada Ratih yang masih terbaring di atas tempat tidur.


Melihat Sekar masuk Ratih buru buru duduk.


" Tiduran saja kak, toh belum sehat.." ujar Sekar berdiri disamping tempat tidur.


" Oh, aku sudah baikan.. lukaku sudah mengering.."


" baguslah kalau sudah membaik, ini kue kak.. tidak tau kakak suka coklat atau tidak.." Sekar menyerahkan kue itu ke Ratih.


" Kenapa repot sekali?" Ratih menerima kue itu,


" Tidak kak, saya memang ada urusan dengan bang Pamungkas.. karena itu saya ikut mas Hendra kesini.." sahut Sekar lagi lagi dengan senyum manisnya.


Ratih mengangguk dan tersenyum, meski sesungguhnya ia tak suka dengan cara Sekar memanggil suaminya,


Ratih juga tidak senang dengan urusannya yang selalu berhubungan dengan suaminya itu, entah apa.


Pamungkas masuk, mengambil kotak kue itu,


" Istriku sedang diet Kar, tidak boleh makan manis manis.." goda Pamungkas tersenyum.


Saat semua orang tersenyum, Ratih tidak bisa tersenyum, entahlah.. Ia benar benar tidak nyaman, apalagi suaminya yang biasanya acuh pada perempuan itu, kini begitu ramah dan akrab dengan sekar.


" Kalau begitu saya di luar saja, kak Ratih istirahat saja.." Sekar pamit keluar,


Bukannya menunggui Ratih, tapi Pamungkas malah ikut keluar.


Saat Ratih sedang dongkol, Hendra tiba tiba masuk,


" ini titipan minyak dari papa, disuruh oleskan tiap habis mandi biar lukanya tidak terbuka lagi kalau di pakai bergerak," Hendra menyerahkan sebotol minyak yang berwarna kuning, di bungkusnya tertera tulisan tulisan cina.


Tanpa bertanya Ratih mengambilnya,


" Mas dekat dengan yang namanya Sekar itu?" tanya Ratih langsung tanpa basa basi.

__ADS_1


" Biasa saja, dia sering ke bengkel mengecek motor.. memangnya kenapa?" Hendra balik bertanya,


" ada urusan apa sih mas dengan suamiku?" tanya Ratih penasaran,


" ah mana aku tau Rat, urusan orang orang macam itu.." Hendra tersenyum sembari mengacak acak rambut adeknya.


" Bagaimana?" tanya Hendra kemudian,


" Apanya bagaimana?"


" menikah dengan om.. Ini sudah enam bulan lebih kan?"


" Menikah dimana mana rasanya sama.." jawab Ratih melengos,


" jangan begitu, ya masa om sama dengan yang dulu..?" rayu Hendra agar adiknya mau sedikit berbagi.


" Ya jelas berbeda,"


" bedanya?"


" dia om kita.." jawab Ratih pelan,


" tapi dia mencintaimu sejak lama.." ucapan Hendra membuat kecemburuanya tiba tiba lenyap,


" tentu saja, dia orang yang dewasa,


tapi kau bisa membuatnya menjadi orang yang kekanak kanankan,


Bukankan itu namanya jatuh cinta.." Hendra tertawa,


" ih, sok tau.."


" ya memang tau.. Sekali kali tanyakanlah.. Sejak kapan dia menaruh hati padamu.."


" pertanyaanmu aneh aneh saja mas, mana mungkin aku menanyakan hal semacam itu pada suamiku?"


" ciehh.. Suamiku.. katanya om?"


Ratih melempar bantal ke arah Hendra.


Pamungkas mengunci pagar rumahnya, suara deru mobil Hendra juga sudah menjauh.

__ADS_1


lampu taman yang redup membuat jalanan terlihat lebih gelap dari biasanya.


" Sepertinya bohlam taman harus di ganti.." ujar Pamungkas sembari masuk ke dalam kamar setelah mengunci semua pintu dan jendela.


" Bukannya baru?" tanya Ratih dengan mata sudah setengah tertutup.


" Baru dari mana? sudah hampir setahun..


aku memasangnya jauh sebelum kita menikah..


Saat rumah ini akan kutempati.." jelas Pamungkas melepas kaosnya dan bertelanjang dada.


" Besok arisan yang, ijin ya? Kan masih sakit?" Pamungkas duduk di pinggiran tempat tidur.


" Yang?" panggil Pamungkas lagi, karena tidak mendapat jawaban.


Karena penasaran laki laki itu naik ke atas tempat tidur dan mengamati istrinya.


" Kok sudah tidur Yang??" Pamungkas seakan tidak terima saat tau Ratih tertidur lebih dahulu.


Di baringkan tubuhnya disamping istrinya.


" Yang.." bisik Pamungkas sembari tangannya menyusup kedalam baju tidur istrinya.


" ndak kasian aku yang? sudah seminggu?" bisik Pamungkas lagi, tapi Ratih tidak bergerak juga, hanya bergumam tidak jelas.


" Ngantuk.. Ngantuk.." ucap Ratih tidak jelas saat tangan Pamungkas kemana mana.


Pamungkas tidak menyerah, ia bangkit dan mengangkat kedua paha istrinya, di masukkan kepalanya ke dalam gaun tidur itu, diantara kedua paha istrinya.


Tak lama Ratih berjingkat, matanya terbuka lebar, raut wajahnya tak bisa di jelaskan.


Tangan Ratih reflek menjambak rambut pamungkas yang cepak itu.


Menyadari istrinya sudah terbangun Pamungkas mengangkat kepalanya dan tersenyum.


" Iya yang..?" tanya nya dengan wajah tidak berdosa.


Sementara Ratih yang masih mengendalikan dirinya akibat perbuatan suaminya itu belum bisa berkata apapun.


Pamungkas menarik tubuh istrinya dengan hati hati,

__ADS_1


" kenapa?" suara berat itu bertanya lirih.


" Jangan.. Jangan disitu mas..?" Ratih terbata bata, ia berusaha menarik dirinya.


__ADS_2