Om Pamungkas

Om Pamungkas
perjuanganmu


__ADS_3

" Kau pukul berapa kali?" tanya Derry pada Frans,


" Ada mungkin tiga kali," jawab Frans sembari meminum minumannya.


" Kalau kau Raf?" Derry beralih pada Rafael,


" Ee... ada mungkin lima kali," jawab Rafael,


" kau sendiri? berapa kali?" tanya Rafael balik.


" Ah! tidak kuhitung, pukul pukul saja too.." Derry meringis.


Ketiganya masih menikmati suasana pesta yang masih berlangsung.


Ratih memegang hidung Pamungkas,


" sakit?" tanya Ratih lirih.


" tidak," jawab Pamungkas datar.


" Sungguh?"


" ya." jawab Pamungkas lagi lagi datar.


Mendengar nada Pamungkas, dan raut Pamungkas yang sepertinya masih marah itu Ratih bingung.


" Maafkan aku om..?" ujar Ratih duduk disamping Pamungkas, ia memandang Pamungkas dengan wajahnya yang sudah bersih dan tanpa make up sedikitpun itu.


Mendengar ucapan Ratih raut wajah pamungkas semakin kaku, terlihat lebih kesal.


Laki laki itu berdiri, masuk ke kamar mandi, dan kembali keluar hanya dengan celana pendeknya.


" Om marah ya padaku?" tanya Ratih masih duduk di atas tempat tidur, sementara Pamungkas sibuk menggosok rambutnya dengan handuk.


Melihat Pamungkas yang acuh Ratih semakin kikuk.


" Om lapar?"


" tidak, aku sudah banyak makan dengan teman temanku tadi." lagi lagi jawaban yang datar.


Yang bisa Ratih lakukan hanya diam,


" tidurlah jika kau lelah." ujar Pamungkas.


Deg..

__ADS_1


Ratih berkaca kaca, dengan gerakan lamban di naikkan kakinya ke atas tempat tidur, lalu di baringkan tubuhnya.


Tangannya erat menarik selimut, sesungguhnya tidak dingin, karena ia memakai gaun tidur yang panjang,


tapi ia kebingungan dan hanya selimut itu yang bisa ia cengkeram erat.


Berusaha tidur, namun tak bisa tidur.


Rasanya ingin menangis, dan baru kali ini juga ia takut pada sosok omnya itu.


Tiga puluh menit berlalu, Ratih merasakan Pamungkas yang berbaring tak jauh darinya.


Beberapa kali laki laki itu terdengar menghela nafas.


Ratih memaksa matanya terpejam, tapi kakinya malah tak sengaja bergerak menyentuh kaki Pamungkas.


Ratih memberingsut menjauh, ia takut menyinggung Pamungkas yang sudah kesal itu.


Tapi tak di sangka sangka Pamungkas malah melingkarkan tangannya ke pinggang Ratih.


Ratih tersentak dan berbalik menatap Pamungkas.


" Kenapa? aku tidak boleh menyentuhmu?" suara Pamungkas berat.


Gaun tidur yang tipis itu tentu saja bisa merasakan betapa hangat kulit pamungkas, dan betapa keras dada itu.


" Aku sedang marah Ratih, kau tau?" Pamungkas membalikkan tubuh Ratih agar menghadap kearahnya.


Wajah bertemu wajah, nafas pamungkas yang hangat menyapa pipi Ratih.


" Maafkan Ratih om, ini salah Ratih?" ujar Ratih menyentuh dada Pamungkas.


" Siapa yang kau panggil om?" Pamungkas kembali kesal.


" Aku siapamu Rat?" tanya Pamungkas sembari mendesak tubuh Ratih.


Ratih cukup lama diam, tapi tak lama ia menjawab,


" su..suami.. suamiku.." suara Ratih lirih.


" jadi berhenti memanggilku om." bisik Pamungkas.


Tak mau menunggu lama di kecupnya leher Ratih, tentu saja perempuan itu menggelinjang.


Melihat Ratih yang menggelinjang seperti itu tentu saja hasrat Pamungkas naik.

__ADS_1


Diciuminya perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu.


sementara tubuh Pamungkas berpindah ke atas tubuh Ratih.


Tangan yang sudah di beri hak itu kini mulai bebas menjelajah kemanapun.


Ratih yang sudah lama tidak di sentuh se intim itu tentu saja langsung bereaksi.


Tangannya tak lagi diam, namun melingkar di leher dan pinggang Pamungkas.


Gaun tidur itu di sibakkan oleh Pamungkas, tangannya merayap diantara paha Ratih.


Namun saat Pamungkas menarik turun apa yang di kenakan Ratih untuk menutupi tubuh bagian bawahnya itu, sontak Ratih memberingsut menjauh.


Wajahnya tegang, seperti sedang ketakutan.


Pamungkas hanya bisa terperangah melihat istrinya yang tiba tiba menghindar menjauh itu.


Lama Pamungkas menatap Ratih, ia terlihat kecewa dengan sikap Ratih.


" Maafkan aku om, aku... aku hanya.. kaget..?" suara Ratih bergetar.


Hilang sudah hasrat Pamungkas, ia merasa di tolak, kekecewaan menyerbunya.


Dengan langkah sigap laki laki itu turun dari tempat tidur dan mengambil kaosnya.


Pamungkas mengetuk Pintu kamar yang di tempati Rafael dan Frans.


Setelah pintu itu terbuka, Pamungkas masuk begitu saja.


Tanpa bicara laki laki itu duduk di kursi yang terletak di ujung kamar.


Wajahnya tidak baik, wajahnya penuh kecewa, matanya berkaca kaca menahan amarah.


" Apa yang terjadi?" tanya Frans mendekat pada Pamungkas.


" Tenanglah.. tenanglah.. "Frans menepuk lengan Pamungkas.


" Aku kurang apa Frans?! katakan padaku aku kurang apa?!" tanya Pamungkas dengan suara bergetar menahan perasaan.


Frans dan Rafael tertegun, mereka kaget melihat temannya seperti ini.


Dengan Raut sedih Rafael memeluk Pamungkas,


" Ini adalah cobaanmu, perjuanganmu.. bersabarlah, dan jadi pemenang.." ujar Rafael juga tersayat hatinya melihat Pamungkas di penuhi kesedihan di hari pernikahannya.

__ADS_1


__ADS_2