
" Suamimu tidak juga keluar dari kamar.." ujar Ana, ia terlihat cemas.
" Duh gusti.. aku jadi ingat pertama kali dia datang kesini,
Di jemput oleh bapak..
tubuhnya kurus dan tidak terawat banyak luka di kaki dan tangannya, kulitnya gelap sekali..
bajunya pun sudah pendek, dan tidak seharusnya di pakai lagi di usianya.." imbuh Ana masih ingat betul awal Pamungkas masuk ke keluarga ini.
" Kami tidur disini saja.." ujar Ratih pelan, ia masih belum berani mengusik suaminya.
" Biarkan dia menenangkan dirinya dulu,
sudah pasti dia kaget.." Adi menyela,
" kalau aku jadi om juga pasti kaget, wajarlah om marah, dia di perlakukan begitu.." Hendra yang sudah sejam datang, tapi sudah mendengar keseluruhan cerita menyeletuk.
" Jangan asal bicara Hendra, marah atau memaafkan itu sepenuhnya keputusan Pamungkas,"
" Kasihan tau pa si om?"
" karena itulah mbah kung memberi yang terbaik untuknya semasa hidup," jawab Adi.
" Sudah.. Sebaiknya kalian menghiburnya, bicara yang ringan ringan saja.." sahut Ana.
" Tapi aku harus bicara ma.. rasanya ada batu besar yang mengganjal di dadaku jika aku tidak menyampaikannya.." Ratih menatap ibunya,
" Bicaralah.. tapi dengan hati hati.." nasehat Adi pada putrinya.
Semua orang di ruang tengah itu diam, hingga suasana hening.
Saat Ratih masuk ke kamar, rupanya suaminya itu sudah tertidur.
Perempuan itu duduk disamping tempat tidur, memandangi suaminya yang entah baru saja atau sudah lama tertidur.
Laki laki itu bahkan tidak mengganti bajunya meski di lemari lamanya masih tersisa celana pendek dan beberapa kaos.
Entah kenapa meski sedang tertidur, masih terlihat raut tidak nyaman di wajahnya, mungkin saja pengaruh dari perasaannya yang sedang tidak baik.
Ratih menghela nafas panjang, di elusnya wajah suaminya.
" Kasihan.." keluhnya dalam hati,
Ratih memang tidak tau benar tentang masa kecil suaminya, karena beda usai mereka terpaut jauh.
Tapi dari cerita ibunya, memang banyak bekas luka di tubuhnya yang menghitam, beberapa berasal dari bekas luka bakar karena di sundut rokok, dan beberapa bekas pecutan ikat pinggang, saking kerasnya pecutan itu sampai melukai kulit dan menghasilkan bekas.
Ratih memindahkan tangannya ke rambut Pamungkas, membelainya.
Untung saja semua bekas luka itu sudah menghilang saat Pamungkas dewasa, sehingga Ratih tidak bisa menemukannya.
__ADS_1
Memang, ada beberapa guratan tipis di lengan dan punggungnya, mungkin saja itu bekas luka yang sudah memudar, tapi itu benar benar tak terlihat jika tidak di pandang dengan jeli.
Merasakan tangan Ratih Pamungkas membuka matanya,
keduanya berpandangan lama tanpa bicara.
Tangan Pamungkas tiba tiba terulur, menarik Ratih agar rebah dalam pelukannya, dan berbaring bersama.
" Mau tidur disini?" tanya Ratih masih di peluk erat,
laki laki itu tidak menjawab, ia diam sediam diamnya,
menyadari hal itu Ratih diam, tak bertanya lagi.
" Kau bicara pada mereka?" tanya Pamungkas setelah membisu cukup lama.
Ratih mengangguk pelan, ia sedikit ragu, tapi ia harus jujur.
" Kau kasihan dengan mereka?" tanya Pamungkas masih erat memeluk istrinya.
Ratih diam, ia bingung harus menjawab apa, yang jelas ia takut salah memberi jawaban dan memperburuk keadaan.
" Mau mati baru mencariku.." gumam Pamungkas, suaranya bergetar tiba tiba.
" Apa dia pernah memikirkan ibu?
ibu amat mencintainya,
hidup kami tidak layak, tidak ada yang mau mengakui kami sebagai keluarga karena malu dengan kemiskinan kami," ujar Pamungkas,
Ratih mengangkat kepalanya, menatap wajah suaminya, saat itu bersamaan dengan air mata Pamungkas yang jatuh saking nelangsanya mengingat kehidupannya yang dulu.
" Tapi mas dan mbah uti akhirnya bahagiakan.." sahut Ratih pelan.
" Yang tidak merasakan mana tau Ratih..
Kau bahkan tidak pernah di pukul dan di maki,
Kau tidak akan tau rasanya melihat ibumu di pukuli di hadapanmu, dan menangis setiap malam..
Bahkan berkali kali ibu menyayat nadinya sendiri,
mungkin dia ingin menyerah dan berpikir mati lebih baik,
tapi untungnya dia selalu sadar dan berhenti saat melihatku menangis.
Tangannya berdarah darah,
tidak pernah dia datang ke dokter,
Ia membebat lukanya sendiri hingga sembuh hingga luka luka di tangannya terlihat jelas."
__ADS_1
Ratih membeku, matanya ikut berkaca kaca hanya dengan mendengar suara suaminya itu saja.
Ia tidak sanggup membayangkan apapun.
" Ayah selalu bilang, ia menyesal menikahi ibu,
katanya...
ibu terlalu banyak melarang dan tidak mau mengerti kemauan Ayah,
Ayah juga bilang,
Kalau ibu tidak becus mengatur uang,
Padahal gaji ayah habis untuk hutang ayah sendiri.." lanjut Pamungkas
dengan suara tertahan,
" Andaikan kau tau Ratih.. saat rambutku ini di gundul, kau akan lihat banyak bekas luka,
Karena setiap ayah marah, ia melempar apapun yang ada di tangannya ke arahku, ke kepalaku,
kalau dia melihatku menangis, dia akan semakin marah..
Karena itu, meski darah mengalir sampai ke pipiku, aku tetap harus diam seakan tidak ada sakit yang kurasakan.."
Ratih memeluk suaminya, ia ikut menangis.
" Karena itu aku menjadi orang yang sanggup menahan diri,
Saat ingin marah aku tidak boleh marah,
Saat sakit, aku bahkan tidak boleh menangis,
Dan saat mulai dewasa..
aku mulai menyadari bahwa,
diriku mulai tertarik padamu.. keponakanku sendiri,
Aku mati matian menahan diriku, bahkan aku pergi keluar jawa untuk melupakan perasaan yang menurutku tidak pantas..",
" Maafkan aku ya mas yang tidak peka saat itu.." ujar Ratih, entah kenapa perempuan itu malah lebih deras air matanya.
" Kok malah kau yang menangis Yang?" tanya Pamungkas baru menyadari istrinya ikut menangis,
" aku sedih.. aku tidak tau apa apa karena saat mas masuk kesini aku masih sangat kecil.."
" itu bukan salahmu, jangan menangis.. ssttt... diamlahlah.." ujar Pamungkas menenangkan, di hela wajah yang sedari tadi sembunyi di dadanya.
" Aku bersyukur karena ibuku meninggal dalam keadaan yang berbahagia, disini, di tengah kalian.." imbuh Pamungkas mencium kening istrinya.
__ADS_1