
Hendra sudah lama menunggu Pamungkas di teras.
" Dari mana om? di telfon susahnya?" tanya Pamungkas pada laki laki yang baru saja turun dari motornya itu.
" Dari makam mbah kung sama mbah uti, susah sinyal..
ada apa?"
" kok ada apa? ayo ke penghulu, papa sudah menunggu disana??" ajak Hendra.
" Bawa mobil saja, mendung mendung begini Hendra masuk angin nanti?!" Hendra berjalan melewati Pamungkas yang mengunci motornya.
" Sekarang om tau kenapa kau tidak di masukkan tentara oleh papamu.." gerutu Pamungkas mengikuti langkah Hendra.
" Eit..! calon pengantin ndak boleh ngomel.. sudah ikut saja,
om ini enak lho.. tidak harus memanggilku kakak ipar.." Ujar Hendra sembari membuka pintu mobilnya.
" kau mau ku panggil kakak?" Pamungkas menghentikan langkahnya, wajahnya yang serius itu membuat nyi Hendra ciut.
" Alahh.. om ini sensi sekarang, ndak iso di ajak bercanda..?!" Hendra memamerkan giginya.
Yunda, gita, ayu dan teman Ratih yang lain sibuk membantu persiapan Ratih.
Ada yang memakaikan Ratih lulur, ada juga yang membantu membuka kado yang tau tau sudah berdatangan sebelum acara.
" Belum acara kok sudah ada kado sih Rat?" tanya Ayu,
" itu dari saudara jauh mama, mereka tidak bisa datang karena acara pernikahanku.." jelas Ratih sembari berbaring, dia menikmati pijatan Yunda.
" Buka panti pijit saja Yun, pijitanmu enak.." gumam Ratih dengan mata tertutup.
" Mulutmu Rat.. bisa di usir dari rumah aku kalau buka panti pijat.." Yunda mencubit perut Ratih.
" Aduhh..! ini kekerasan, kulaporkan nanti?" Ratih tertawa.
Sementara Ayu yang sedang sibuk membuka kado itu tiba tiba tersenyum aneh,
" hei.. lihat ini pemirsaaa.." Ayu memegang sebuah lingerie,
" Hahahahaa..!" tawa Ayu keras tiba tiba, membuat Ratih dan Yunda menatapnya.
" Seragam untuk perang dunia ini Rat.." mulut Ayu tidak bisa di kendalikan,
__ADS_1
ia bahkan meletakkan lingerie itu di wajahnya untuk menunjukkan betapa tipis dan tidak bergunanya kain itu, karena tidak bisa menutupi apapun.
Wajah Ratih memerah seketika,
" letakkan itu?! aku tidak akan memakainya..!" ujar Ratih.
" Lhoo.. yo jangan begitu, aku hanya bercanda.." bujuk Ayu,
" iya Rat.. pakai buat malam pertama sama om mu..
eh salah?! om ku.. suamikuuu..." Yunda dan Ayu cekikikan, membuat wajah Ratih semakin memerah.
" kalian kesini itu tujuannya apa sih sebenarnya?" tanya Ratih menutupi rasa malunya.
" Tentu saja untuk menganggumu, kan besok kau sudah istri orang?! mana bisa kita ricuh ricuh begini?!" sahut gita yang baru saja masuk ke kamar.
" Lah? sudah bantu tante?" tanya Ayu pada Gita,
" Sudah, tante juga sedang tidur siang, katanya capek.." Gita duduk disamping tempat tidur.
" Ya pasti.. mas Hendra kemana Rat?" tanya Ayu,
" kenapa setiap kesini kau tanya mas Hendra terus?" Ratih mengerutkan dahi,
" Ih, sialan.. semoga saja mas Hendra bukan kakak kandungmu, biar aku tidak perlu meminta restumu?!" balas Ayu tertawa renyah.
Setelah ke empat orang itu ribut bercanda, entah kenapa salah satu diantaranya tiba tiba membahas Arga.
" Arga kau undang Rat?"
" aku masih waras.." jawab Ratih datar.
" Kapok sudah, laki laki bodoh.."
" huss.. biar saja, dia akan menerima balasanya.." sahut satu teman lainnya.
" Katanya satu kesatuan dengan om mu ya?, apa tidak remuk dia Rat?"
" aku mencegah om ku untuk berbuat yang tidak tidak.. aku tidak mau karirnya terganggu gara gara membelaku.."
" wah, tidak terpikirkan olehku kau bijak sekali, kalau aku jadi kau.. sudah ku hasut suamiku untuk menyiksanya dengan berbagai macam cara.."
" Aku ingin hidup tenang.. balas dendam untukku tidak ada artinya, hanya menyakiti hati dan pikiranku saja..
__ADS_1
bukan sehat, malah sakit sakitan aku.."
Ketiga temannya itu saling berpandangan,
" ya tentu saja, buat apa balas dendam.. wong dapat suami yang lebih.. yo opo oraa..?" goda Gita,
" Iyoo.. matang, gagah, sudah punya rumah, haduhhh...
wibawanya greget Rat..?" sahut Yunda.
" Heh..!! awasss awasss..?! bahaya iki?!" Ayu menyela.
" Bahaya gundulmu?! aku ini tau mana yang boleh dan tidak! kau kira aku seperti Tias?! tidak punya otak?!" sembur Yunda pada Ayu.
Ratih hanya bisa menghela nafas mendengar keramaian teman temannya itu.
" Wes wes..! jangan di bahas! itu masa lalu kelam, sekarang Ratih sudah menyongsong hari bahagia dengan pangerannya yang om om itu.." Gita menengahi.
" Husss!!" mendengar kata om om Ratih bangkit dan memukul temannya satu persatu.
" Sudah nyekar bapak dan ibu Pam?" tanya Adi saat perjalanan pulang dari rumah penghulu,
" Sampun ( sudah ) mas.."
" Sudah pamit juga, kalau besok kau akan menikah?",
Pamungkas mengangguk.
" Maafkan mas yo Pam, sejak kecil tak bebani Hendra dan Ratih.." ujar Adi tiba tiba,
" Beban apa mas, bukanya saya yang sudah menjadi beban di keluarga selama ini?" Pamungkas tiba tiba sedih.
" Kalau tidak di bawa kerumah dan di sekolah kan dengan baik..
mana mungkin saya jadi seperti sekarang.." imbuh Pamungkas.
Hendra yang menyetir di depan hanya bisa mendengarkan.
" Tolong yang sabar sama Ratih.. dia tua hanya di umurnya saja.. kemungkinan kau harus membimbingnya sampai tua.."
Pamungkas diam, tak menjawab.
" Yang sabar juga sama Hendra ya om? dek?" celetuk Hendra membuat Adi dan Pamungkas melotot bersamaan ke arah Hendra.
__ADS_1
Seperti biasa, laki laki itu hanya tersenyum lebar.