Om Pamungkas

Om Pamungkas
siapa yang menyakitimu?


__ADS_3

Ratih membuka matanya merasakan bibirnya di sentuh,


" Om..." ucapnya lirih, meski pandangannya kabur tapi ia tau dengan jelas itu Pamungkas,


bau tembakau jelas sampai ke hidungnya, siapa lagi perokok berat di keluarganya selain Pamungkas.


" Kita ke dokter ya..?" suara Pamungkas pelan,


" Tidak.. sudah lebih baik.. " jawab Ratih hampir tak terdengar.


" Kau sungguh sungguh?",


Ratih mengangguk pelan.


Pamungkas diam, tapi perhatiannya masih tercurah pada luka di bibir Ratih.


" Ada yang menyakitimu Rat?" tanya Pamungkas gelisah,


ia takut kakaknya marah besar dan memukul Ratih, sama seperti yang di lakukan Hendra saat itu.


" Apa papamu marah padamu??" tanya Pamungkas hati hati,


" tidak.. papa tidak marah padaku, memangnya kenapa om?",


" tidak.. tidak apa apa, tidurlah lagi.. atau ku haus? lapar?" Pamungkas tak henti menatap penuh rasa kasihan.


Ratih adalah perempuan yang mudah stress, juga gampang sakit.


Pamungkas jadi ingat saat merawatnya di sarangan terakhir kali,


Ratih juga demam seperti ini.


Pamungkas turun, menemui Hendra yang baru saja selesai makan.


" Monggo makan malam dulu mas Pamungkas.." Mak Karto merapikan piring.


" Nanti kalau lapar cari sendiri mak, anu mak.. bisa tolong jaga Ratih di atas?",


" oh! nggih mas.." mak Karto menaruh piring piring itu di rak, lalu segera naik ke kamar Ratih.


" Ada luka di bibir adikmu, siapa yang memukulnya?" tanya Pamungkas setelah Hendra berpindah duduk di ruang tamu beserta kopinya.


" Om kira aku atau papa yang menyebabkan luka itu?"


" lalu? dia juga sampai sakit begitu?"


" itu ulah Arga,"


" Arganta?!" suara Pamungkas meninggi,


Hendra mengangguk,

__ADS_1


" semalam Ratih pulang dengan mata sembab dan luka di bibirnya.."


" Mau mati dia rupanya!" Pamungkas mengepalkan tangannya.


" Jangan om, aku juga marah.. tapi papa bilang biar papa saja yang menyelesaikannya..


om juga jangan menyalah gunakan kekuasaan om di kantor,


apa kata orang nanti kalau om semena mena?" Cegah Hendra,


Pamungkas lama terdiam, entah apa yang dia pikirkan.


" Dia apakan Ratih? memukulnya?" tanya Pamungkas setelah lama diam.


" Ratih di cium, dan di paksa kembali padanya,"


mendengar itu Pamungkas kembali membisu, tapi raut wajahnya terlihat lebih buruk sekarang.


Mulutnya tertutup rapat, gerahamnya mengetat dan bergerak gerak seakan menahan perasaan.


" Hendra?!" panggil Adi keras, membuat Hendra buru buru turun dari kamarnya,


menemui Papanya dan mamanya yang baru saja datang.


" Kenapa pa??" Hendra duduk di depan papanya, di sofa ruang tengah.


" Adikmu bagaimana?" tanya Adi langsung,


Adi menatap Hendra cukup lama, ia terlihat gelisah.


" Kenapa pa? ada apa ma?" tanya Hendra memandangi orang tuanya bergantian.


Sofa yang empuk itu tiba tiba saja terasa keras karena situasi yang tegang.


" Kami dari rumah orang tua Arga," jawab mamanya yang berwajah lebih tenang.


" Lalu ma? apa sudah mama dan papa peringatkan dia agar tidak menganggu Ratih Lagi??",


mamanya ikut diam,


" lho? kok diam semua? apa papa mama di perlakukan tidak baik?!" Hendra yang tidak sabaran itu bertanya penuh emosi.


" Mereka memperlakukan papa dan mama baik seperti dulu,


tapi.. Arganta tidak bisa di peringatkan,


dia bersikeras akan menceraikan Tias setelah melahirkan dan akan membawa Ratih kembali setelah segalanya selesai," jelas mamanya karena wajah papanya sudah merah padam karena terlalu banyak memendam amarah.


" Berani beraninya dia?! siapa yang mau menerimanya kembali?! bocah brengsek mau mati!" tegas Hendra.


" Pelan Kan suara mu, ada adikmu yang masih belum stabil," peringat mamanya.

__ADS_1


" Jangankan Hendra, papa mama saja pasti tidak mau punya mantu dia lagi?!".


Papa mamanya diam seribu bahasa mendengar itu.


" Apa adikmu terlihat masih mencintai Arga?" tanya Adi tiba tiba membuat Hendra tersadar tiba tiba,


" Ya masa pa, masih cinta dengan mantan suami yang brengsek?" sahut Hendra sedikit ragu.


" Tapi.. melihat betapa tersiksanya dia melihat tias dan Arga menikah..


mungkin saja.. masih ada pa,


tapi.. mungkin sedikit??" lanjut Hendra masih di susupi ragu, ia tidak bisa menilai dari kata kata Ratih saja, kenyataannya Ratih menjadi semakin kurus setelah tau Tias hamil.


" Kita tidak bisa berbuat apapun jika adikmu masih mencintai Arga.." keluh Ana menyandarkan punggungnya, ia juga terlihat gelisah dan lelah.


" Aku tidak rela ma?!" Hendra menentang keras.


" Kalau adikmu dan Arga saling mencintai kita mau bagaimana?,


kenyataannya Ratih juga belum punya tambatan hati yang baru, laki laki yang sering mengantarnya itu juga bukan kekasihnya.


Andai kata Ratih sudah punya kekasih baru, bisa saja kita memaksanya menikah agar Arga tidak memaksa masuk lagi ke dalam keluarga kita,


kita tidak bisa bersikap frontal karena papa dan mama Arga adalah teman baik kami sedari dulu?" jelas mamanya memberi pengertian Hendra.


" Kita bisa melindungi Ratih saat dirumah, tapi di luar? Arga akan selalu mengejarnya?,


terlihat dari caranya memohon mohon Hen, dia masih berat sekali pada adikmu..


aduhhh! mama sampai pusing melihat air mata penyesalannya itu.." tambah mamanya.


" Itu air mata buaya ma?! jangan gampang luluh?! kita pindahkan saja Ratih ke luar kota?!,


kita kuliahkan lagi atau terserah dia mau membuka bisnis apa?!" usul Hendra.


Adi sejak tadi diam saja dengan wajahnya yang masih penuh kekesalan itu, entah apa yang ia pikirkan, tak ada satupun yang tau.


" Hendra," tiba tiba Adi membuka mulutnya,


" iya pa?"


" Kau bertemu om mu hari ini?" tanya Adi,


" tadi dia disini pa, tiga puluh menit sebelum papa mama datang dia pulang,"


mendengar itu Adi lagi lagi diam, terdengar helaan nafas yang berat.


Hendra dan mamanya hanya bisa saling menatap bingung.


" Panggil Om mu kesini," perintah Adi tegas, membuat putranya itu kaget karena tiba tiba disuruh memanggil Pamungkas.

__ADS_1


__ADS_2