Om Pamungkas

Om Pamungkas
bohong


__ADS_3

Sesampainya dirumah keduanya tidak saling bicara, satu sibuk di kamar dengan laptopnya, satu duduk di ruang tamu, merokok sembari sibuk dengan HPnya.


Ratih sesungguhnya kesal sekali, tapi ia tidak ingin membuat keributan.


Pamungkas masuk ke dalam kamar karena baginya sudah terlampau malam dan ia harus tidur.


Tapi ia terganggu saat melihat istrinya malah duduk di samping jendela dan sibuk menatap laptopnya.


" Ayo tidur," suara Pamungkas datar, ia melepas kaosnya seperti biasa.


" Duluan saja." jawab Ratih tak kalah datar, ia bahkan tak mengalihkan pandangannya dari laptop.


" Memangnya besok tidak ke cafe kok begadang?" Pamungkas masih berdiri disamping tempat tidur.


" Sepertinya tidak, aku mau keluar ke batu."


Pamungkas mengerutkan dahi,


" ke batu? ada keperluan apa? dengan siapa?" laki laki itu berjalan mendekat ke arah istrinya.


" Sendiri." jawab Ratih singkat.


" Bohong." kata kata itu terlontar begitu saja dari mulut Pamungkas.


Ratih yang tidak terima langsung menatap suaminya, bisa bisanya ia di tuduh berbohong.


" Maksud mas apa menuduhku berbohong?" tanya Ratih sengit,


" itu hobi barumu kan?" balas Pamungkas berdiri di hadapan istrinya.


" apa maksudnya? Jelaskan?!" Ratih menaruh laptopnya di meja dan berdiri di hadapan suaminya,


ia tak gentar meski tubuhnya kecil.


" Ah, sudahlah.." Pamungkas melengos dan berbalik, tapi Ratih ingin penjelasan, di tarik lengan suaminya yang berotot itu.


" Bisa bisanya, setelah menuduh orang pembohong?" Ratih menatap Pamungkas kesal sekaligus sedih.

__ADS_1


" Kalau memang bosan terhadapku bicara baik baik, jangan bicara yang tidak jelas dan menyakitkan begitu?" imbuh Ratih dengan mata berkaca kaca.


" Bosan? tidak salah?" lagi lagi senyum Pamungkas kecut, ia menelan rasa pahit di hatinya.


" maksud mas apa?" suara Ratih sudah bergetar.


" Ya benar kan? memangnya tidak salah menuduhku bosan?" Pamungkas menjawab lebih tenang, amarahnya memudar melihat mata Ratih yang penuh.


" Heran.." ujar Ratih berusaha mengendalikan perasaannya.


" yang sering pulang telat siapa, yang sering nongkrong di bengkel dengan perempuan siapa? kok jadi aku yang di tuduh bosan?" suara Ratih pelan namun tajam.


" Lho lho lho..?? tuduhan macam apa itu?" Pamungkas terlihat tak terima,


" aku ke bengkel karena dari awal aku turut serta disana?!


jangan aneh aneh menuduh?!


lebih baik kau buang pikiran burukmu?!" tegas Pamungkas.


Keduanya berpandangan, sama sama terlihat menanggung sakit hati.


Pamungkas tersentak, ia tidak menyangka akan dapat tuduhan semacam ini dari istrinya, bukannya kekecewaannya di mengerti, tapi ia malah mendapat tuduhan kejam.


" aku tidak pernah berubah!" tegas Pamungkas, ia menatap istrinya yang memunggunginya.


" Oh ya? bahkan dinding pun tau betapa dinginnya sikapmu padaku mas.." tegas Ratih pelan.


Pamungkas terdiam, mulutnya terbuka, ingin menyanggah, tapi entah kenapa di urungkan niatnya.


matanya terlihat di penuhi kerisauan.


" Terserah apa katamu, tapi perasaanku tidak pernah berubah!" ucap Pamungkas tegas, tapi tak di gubris oleh istrinya.


Melihat Ratih yang masih saja seperti itu Pamungkas tak bisa menahan rasa kecewanya,


mengambil kaosnya kembali dan berjalan keluar dari kamar.

__ADS_1


Ratih yang menyadari suaminya keluar dari kamar tak mencegahnya, matanya sendiri sudah tergenang saking kesalnya.


Pamungkas tak kembali ke dalam kamar, ia memilih tidur di sofa depan TV, tapi bukannya tidur, laki laki itu hanya bolak balik tidak jelas.


Karena lelah bolak balik saja, akhirnya laki laki itu bangun.


Ia menyalakan TV, entah apa yang ia lihat, ia memang menatap TV, namun pandangannya kosong.


Dadanya sesak, ada begitu banyak emosi yang ia tahan.


Tidak mudah baginya harus bersabar sampai sekarang.


Tidak satu dua kali gangguan terjadi dalam rumah tangganya, bahkan sejak awal menikah.


Tapi sebagai pribadi yang dewasa ia selalu di tuntut untuk mengerti dan memaafkan.


Waktu sudah menjelang pagi, tapi matanya tak juga di serang kantuk.


Ia bangkit, dan berjalan masuk ke kamar perlahan.


Melihat istrinya yang tergolek lelap rasanya ingin mendekap dan berbaring disampingnya.


Namun hatinya yang terluka karena ketidak jujuran istrinya mencegahnya.


Beberapa hari setelah kejadian istrinya pulang dengan tangis ia bertemu Rama, dan dengan polosnya Rama menceritakan bahwa ia melihat bosnya berhenti dan berbincang dengan laki laki yang di curigai Rama sebagai penguntit itu.


Rama tak bisa tau dengan jelas apa yang di bicarakan, tapi Rama terus mengawasi untuk berjaga jaga.


Rama bercerita, kalau laki laki itu selalu memegangi lengan Ratih saat Ratih akan pergi.


Sejak mengetahui hal itu hati Pamungkas benar benar sakit, ia merasa istrinya sudah berbuat curang padanya dengan berbohong,


dengan menutupi pertemuannya dengan Arga.


Muncul pertanyaan besar dalam hati Pamungkas,


Apakah masih ada rasa cinta, karena itu harus ada kebohongan.

__ADS_1


Pamungkas mengepalkan tangannya, menahan dirinya agar tidak mendekap dan merasakan hangat tubuh istrinya.


Dengan langkah berat di tinggal kan Ratih yang tampak lelap itu, ia kembali ke sofa ruang tengah, dan menghabiskan rokoknya sampai pagi.


__ADS_2