Om Pamungkas

Om Pamungkas
tidak lagi perduli


__ADS_3

Pamungkas sedang sibuk memindahkan beberapa bunga yang ia minta dari rumah pak Agus ke tanah yang masih kosong disamping rumahnya,


ia sengaja menyibukkan dirinya agar pikirannya tidak kemana mana.


Tak lama kemudian Hendra dan Sekar datang, mereka membawa camilan dan es buah.


Ketiganya mengobrol lama, hingga tak sadar siang sudah berganti sore.


" Kok Ratih belum pulang om?" tanya Hendra yang sedang duduk tenang sembari mengupas buah.


" Mungkin masih mampir kemana.." jawab Pamungkas malas,


" mampir kemana? sabtu begini harusnya tau kalau suaminya libur.."


" Mungkin kak Ratih masih ada kepentingan lain, mana kita tau?" sela Sekar.


Pamungkas tersenyum tipis,


" Bagaimana lukanya mas?" tanya Hendra melihat luka di tangan pamungkas mulai mengering.


" Sudah mau sembuh, cuman gatal sekali kalau malam.." sahut Pamungkas,


" nanti saya kasih resep, saya titipkan mas Hendra ya, di oleskan ke luka yang sudah mulai mengering supaya tidak gatal dan membekas.." ujar Sekar,


" ah biar saja ada bekasnya, biar kelihatan kalau preman.." Hendra tertawa.


Saat ketiganya sibuk bercanda, suara motor Ratih menderu masuk ke dalam garasi.


Baru saja Ratih melangkah masuk, Hendra di buat tertegun oleh adiknya sendiri.


" Dari mana Rat?" tanya Hendra bangkit,


" sore kak.." sapa Sekar, tapi hanya di balas senyum tipis.


" Dari cafe, tapi mampir ke batu sebentar.." jawab Ratih sembari masuk ke dalam kamar.


Ratih dan Pamungkas bahkan tak berpandangan,


malah Hendra yang sibuk mengikuti langkah adiknya masuk ke kamar.

__ADS_1


" Mas, kok masuk? Aku iki mau ganti baju?!" protes Ratih saat tau Hendra mengikutinya masuk dan duduk di kursi di samping jendela.


" Jangan aneh aneh Ratih..?!" peringat Hendra tiba tiba, ia memperhatikan adiknya dari atas sampai bawah.


" Sejak kapan kau suka mewarnai rambut? lalu apa itu? tebal sekali bulu matamu?" Hendra sungguh memperhatikan adiknya dengan teliti.


" Suamiku tidak protes kenapa mas protes?" Ratih duduk di kursi meja riasnya dan mulai membersihkan wajahnya.


" Suamimu terlalu mencintaimu karen itu dia tidak protes,"


" bukan sebaliknya?"


" maksudmu?"


" dia diam karena tidak lagi perduli denganku mas," Ratih menatap kakaknya.


Hendra heran,


" Pikiranmu ini di tutupi apa? kok tidak bisa membedakan kasih sayang dan rasa tidak perduli?" Hendra bangkit.


" Kalau aku jadi suamimu, kau makin cantik begini, akan ku ikuti kau kemana mana,


" sekarang kutanya, buat apa kau ke batu sore sore begini?" tanya Hendra,


" Aku hanya melihat lihat bunga mas, aku suntuk," jawab Ratih terus terang.


" Kau ribut?"


" tidak,"


" lalu?"


" aku hanya sedang bosan,"


" dengan suamimu?"


Ratih tak menjawab, ia hanya menghela nafas dan kembali menatap kaca.


" Jadi kau mempercantik dirimu karena bosan?"

__ADS_1


Ratih masih diam, ia malas menjelaskan, bagaimanapun Hendra adalah laki laki,


Ia tidak akan mengerti kekhawatiran dan kecemasan Ratih.


Sesungguhnya tuduhan Hendra semuanya salah, ia mempercantik dirinya atas saran dari seniornya mbak Ruhiyat,


Kebetulan setelah mencari pakaian bayi waktu itu, mbak Ruhiyat mengajaknya perawatan di salon.


Mbak Ruhiyat berkata, terkadang perlu berpenampilan di luar kebiasaan untuk menarik perhatian suami.


Ratih tidak hanya merubah dandanannya, tapi juga cara berpakaiannya.


Dan itu berhasil membuat orang orang di cafenya terpukau, tapi tidak dengan suaminya sendiri yang ekspresinya terkadang datar dan terkadang galak tidak jelas.


" Jangan karna beda usiamu dengan om jauh ya kau jadi seenaknya begini Rat?" Hendra terus saja memperingatkan adiknya.


" Kok aku terus mas, adik iparmu peringatkan juga, tidak adil rasanya kalau aku saja yang ditekan,


Padahal kelakuan suamiku juga aneh."


" Kau ini ya, tidak mungkin om Pam aneh aneh?"


" sudahlah! Aku mau mandi, mas keluar sana!" Ratih bangkit dan mendorong Hendra agar keluar dari kamarnya.


Pamungkas mematikan semua lampu rumahnya, dan menyisakan lampu tengah saja.


Laki laki itu masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya,


disana terlihat Ratih yang membaca buku dengan baju tidurnya yang tipis itu.


Pamungkas melirik istrinya yang terbaring disampingnya,


mata perempuan itu tampak masih lebar karena fokus dengan buku di depan wajahnya.


Kaki Pamungkas tak sengaja menyentuh kaki Ratih,


kalau sebelumnya Ratih malah menaikkan kakinya ke paha Pamungkas,


Sekarang berbeda, Ratih dengan cepat menjauhkan kakinya, bahkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2