Om Pamungkas

Om Pamungkas
orang jahat


__ADS_3

Arga tidak bisa menahan perasaan rindunya, meski sudah di peringatkan oleh Pamungkas ia tetap saja ingin melihat Ratih dari kejauhan.


Selama seminggu, di hari yang berbeda, Arga memantau Ratih dari kejauhan. Mulai siang, sampai Ratih pulang dari cafe.


" Mbak.." panggil Rama pada Ratih yang sudah menaiki motornya itu,


" Dari kemarin lusa, saya lihat laki laki itu berdiri disana sembari melihat mbak,


Apa orang jahat ya mbak?" Rama membuat Ratih melihat kanan kiri.


Benar, sekelebat sosok laki laki terlihat, namun begitu cepat menghilang di balik gang.


" Kok baru bilang Ram?" tanya Ratih,


" saya awalnya tidak berprasangka buruk, tapi kok berkali kali dia begitu terus,


saya takut orang jahat yang mengintai sampean.." ujar Rama.


" Biar di jemput mas Pamungkas saja ya mbak, saya khawatir?"


" tidak usah.. nanti telfon aku saja, kalau aku belum sampai dirumah di jam biasanya dan tidak mengangkat telfon mu, kau telfon suamiku ya?"


" baik mbak.." Rama mengangguk ragu, namun di biarkan bosnya itu berlalu dari cafe dengan motornya.


Di sepanjang jalan perasaan Ratih tidak tenang,


Seorang laki laki bermotor matic hitam mengikutinya.


Merasa takut, Ratih berhenti di depan sebuah toko ATK dan segera mengambil HPnya, niatnya ingin menghubungi suaminya.


Namun laki laki yang mengikutinya sedari tadi itu ikut berhenti, dan dengan cepat merai tangan Ratih.


" Ini aku??!" Arga membuka helm full face nya.


Ratih tercengang, ia tidak menyangka bahwa laki laki itu Arga.

__ADS_1


Laki laki yang biasanya cerah dan terawat itu tampak lebih gelap kulitnya, tubuhnya pun terlihat lebih kurus.


Laki laki yang jarang memakai motor ini tiba tiba saja memakai motor, karena itu Ratih tidak menyangka sama sekali.


" Aku tidak berniat jahat.." ujar Arga melepaskan tangan Ratih dan mundur hati hati.


" Kau.." Ratih terbata, entah kenapa matanya berkaca kaca, perasaan aneh menghinggapinya.


" Aku hanya ingin melihatmu dari jauh.. tapi melihatmu ketakutan aku terpaksa menemui mu.." Arga memberi pengertian.


" Bukankah kau tidak boleh menampakkan wajahmu di hadapanku lagi?" akhirnya Ratih bicara, meski dengan perasaan yang.. entah kesedihan muncul dari mana.


Laki laki yang berdiri di hadapannya itu tampak menyedihkan.


" Aku tau.. aku mengambil resiko besar.." jawab Arga dengan tatapan sendunya.


" Aku belum sempat meminta maaf dengan baik,


atas perbuatanku di pesta pernikahanmu.." ujarnya pelan,


" kau sadar kalau itu tidak benar?"


Ratih tercengang, ia tak percaya Arga bisa berkata seperti ini,


Kesadaran yang tak pernah ia lihat sebelumnya, sekarang di depan matanya.


" Kau baru sadar sekarang?"


laki laki itu mengangguk,


" Aku tau semua sudah tidak bisa kembali seperti semula.. aku tau.." ujar Arga dengan air mata yang turun begitu saja.


" Aku sudah punya anak.. seorang putri.. kau pasti tidak mau melihatnya.."


" aku tidak membenci bayi yang tidak bersalah.." sahut Ratih berusaha untuk tidak tenggelam dalam perasaannya yang kacau.

__ADS_1


" Aku sudah menceraikan Tias.. Itu satu bukti kalau kau tidak tergantikan..


aku juga sudah menerima semua hukumanku dengan ikhlas.." laki laki itu menunjukkan segala kelemahannya.


" Aku harap kau melihat perubahanku yang sungguh sungguh.."


" meski aku melihatnya, bukankah sudah tidak ada gunanya?"


" aku akan sering pulang setelah ini Rat.. kuharap, kelak kau mau menyapaku jika bertemu.."


" kau berharap terlalu banyak, sebelum aku menyapamu suamiku mungkin sudah memukulmu, jadi lebih baik kau segera pergi jika ke depannya melihatku." Ratih berusaha tegas, ia menoleh ke kiri dan kanan, untung saja tempat itu tidak begitu ramai meski beberapa orang sempat melihatnya.


" Sebelum aku pergi, aku ingin memberimu sebuah saran,


Berbaikanlah dengan Tias, kasihani putrimu," saran Ratih naik kembali ke atas motornya.


" Tidak.. meski tidak bersamamu aku tidak bisa dengannya,


bagaimana kau bisa memaksaku untuk hidup dengan perempuan yang hanya kujadikan pelampiasan nafsu?" Arga menarik tangan Ratih pelan.


" Kau manusia kan? bagaimana kau bisa seperti ini??" Ratih tak habis pikir.


" Karena aku sudah menyadari diriku manusia aku mengambil keputusan seperti ini,


Akan semakin hancur Rat..


Akan semakin hancur..


Karena tidak ada kasih sedikitpun yang kurasakan, setelah nafsu itu hilang, yang ku punya hanya kebencian.."


" seharusnya kau juga membenci dirimu sendiri?!"


" sudah.. sudah.. dan sekarang aku hanya bisa memperbaiki keadaan dengan merawat putriku baik baik.."


" jangan pisahkan bayi itu dengan ibunya Arga?!" Ratih mulai kehilangan kesabaran.

__ADS_1


" Ibunya hanya punya obsesi? apa kau masih belum menyadarinya? yang dia inginkan adalah aku..


Dia menggunakan anaknya untuk memilikiku?" Arga tak melepaskan tangannya dari Ratih.


__ADS_2