
" Kenapa kau terus datang kesini?!" Ratih kesal karena Tias selalu datang ke cafenya.
" Tau diri sedikit, kau itu sudah berbuat salah padaku!" Ratih yang biasanya lembut dan bisa melihat situasi itu mulai lepas kendali.
Semua pekerja yang sedang bersiap siap menutup cafe sampai memandang ke arah Ratih dan Tias,
suasana di dalam cafe itu menjadi tegang, para pekerja memilih mundur dan menyingkir ke dapur cafe,
mereka tidak ingin di tuduh menguping, meski sesungguhnya suara Ratih juga masih terdengar sampai dapur karena saking kerasnya .
" Kudengar anakku sakit?" Tias mulai memelas lagi,
" kau harus bantu aku supaya bisa bertemu dengannya?" perempuan yang pernah menjadi sahabat baik Ratih itu tak pernah berhenti memohon,
Bahkan setiap dia datang,
Yang selalu ia bicarakan adalah permohonannya, perasaannya yang sakit dan terluka karena di buang dan di pisahkan dengan putrinya.
" tidak!" suara Ratih lantang,
" kenapa tidak?? Kau menginginkan anak bukan?,
Tak apa Rat, tak apa.. Jika kau menginginkan putriku kau bisa merawatnya berdua dengan Arga,
aku rela Rat.. aku rela, ini memang kesalahanku?
Setidaknya..
aku tau dia di rawat oleh temanku sendiri, dari pada di rawat perempuan lain?" Tias menarik lengan Ratih sembari memohon.
" Kau sudah tidak waras ya?!" Ratih menarik tangannya.
" Bisa bisanya?! Kau anggap aku apa?! Kelakuanmu dan Arga sama saja!
Meski aku tidak punya anak, aku tidak akan merawat anak kalian,
apalagi akan kembali pada Arga?!, pemikiran tidak sehat dari mana itu?!" Tegas Ratih sampai suaranya menggema di ruangan.
" Kau masih mencintai Arga kan?
Aku tau itu Rat..
Andai aku tidak merebutnya, kau dan dia pasti masih bersama dan bahagia..
__ADS_1
Ini semua karena aku yang tidak tau diri menginginkan suami sahabatku..?
ayolah Rat??" bujuk Tias,
Ratih tetap pada pendiriannya, ia tidak perduli meski Tias bersujud.
" Kau bahkan tidak bisa hamil Rat..? Lalu kenapa kau tidak kembali saja padanya, pada Arga.. dan merawat putriku dengan baik?" Tias mengatakan hal semacam itu dengan mudahnya, meski wajahnya di Penuhi air mata, tapi itu terlalu gila untuk Ratih, apalagi ucapannya tentang Ratih yang tidak bisa hamil,
Itu sungguh amat menyayat dan melukai harga dirinya.
Ratih mundur menjauh, perkataan itu sungguh sungguh tak bisa di tolerir.
Ratih tidak mau lagi bicara dengan perempuan yang baginya sudah tidak begitu waras itu, apalagi kalau harus mendengarkan kalimat yang mungkin lebih menyakitkan lagi.
" Kau sudah benar benar tidak waras! pergi dari sini!!" Ratih melempar kasar buku yang sedang ia pegang ke arah Tias,
dengan langkah cepat lalu berjalan pergi menuju dapur.
Ria yang melihat bosnya masuk ke dapur segera mengajak pekerja lain keluar, meninggalkan Ratih sediri di dapur.
Ria yang juga geram berjalan ke arah Tias yang masih berdiri mematung dengan air mata permohonannya.
" Maaf mbak, kalau sampean tidak mau pergi, saya akan menyuruh keamanan untuk membawa mbak keluar, jadi mau keluar baik baik atau di seret?" tegas Ria.
Ia sengaja tidak membawa motornya dan meminta Fakih untuk mengantarnya.
" Terimakasih bang, titip motorku.." ujar Pamungkas,
" motor jelek saja, berikan padaku," canda Fakih,
" ngawur.." ujar Pamungkas yang sudah sulit tersenyum itu.
Pamungkas masuk ke dalam cafe setelah Fakih pergi.
" Dimana?" tanya Pamungkas setelah masuk ke dalam cafe,
" di dapur mas, kami bingung karena mbak Ratih terus menangis..?" jelas Ria,
" Kami sudah mau tutup ini mas.." imbuh Rama,
" Ya sudah, kalian lanjutkan bersih bersihnya lalu tutup,
biar kubawa istriku pulang.." Ujar Pamungkas berjalan masuk ke dapur.
__ADS_1
Ratih yang sedang menangis itu tiba tiba diam saat mendengar suara langkah yang ia kenal, suara ketukan sepatu suaminya.
Perempuan itu mengangkat kepalanya yang sedari tadi ia sembunyikan di balik kedua pergelangan tangannya.
Entah kenapa air matanya tiba tiba deras kembali saat ia melihat suaminya mendekat.
" Yang..." suara Pamungkas lembut, ia meraih istrinya dan memeluknya,
air mata Ratih seketika membuat kekesalannya dan kekecewaannya luruh entah kemana,
di dekapnya erat perempuan yang di cintainya itu.
Ratih langsung terisak di pelukan Pamungkas,
sudah tak bisa ia sembunyikan kesedihannya.
Di biarkan istrinya itu menangis di dadanya sampai lelah, dan setelah beberapa menit berlalu, setelah isakan itu berkuran,
" ayo pulang yang.." ucap Pamungkas di telinga Ratih,
Ratih yang sudah mulai lelah menangis itu mengangguk lemah di dada suaminya.
Sementara di luar, Ria, Rama, dan satu pegawai baru bernama Sandi, turut sedih mendengar tangis Ratih yang semakin keras setelah suaminya datang itu.
Ria sekarang tau, perempuan yang bernama Tias adalah perempuan yang sudah merebut suami bosnya itu dulu.
Ria sekarang juga tau, kenapa raut wajah bosnya itu selalu marah bercampur sedih setiap kali perempuan itu datang kesini.
Pamungkas membonceng istrinya, satu tangannya yang bebas sesekali memegangi tangan Ratih yang melingkar di perutnya.
Belum habis sakit hatinya sendiri,
Masih harus di tambah lagi dengan melihat air mata istrinya.
Di hela nafasnya, berusaha membuang beban sementara.
Di raihnya satu tangan istrinya, dan di ciumi jemari istrinya,
ia tak perduli meski berada di tengah jalan dan beberapa orang memandanginya.
" Makan ya yang..?" tanyanya terus menaruh tangan ratih di dadanya,
Seakan menyesali apa yang sudah terjadi pada istrinya, juga karna tidak bisa melindungi istrinya dengan baik.
__ADS_1
Ratih tak menjawab, tapi Pamungkas bisa merasakan kepasrahan istrinya itu melalui sikap Ratih yang mengeratkan pegangan tangannya.