Om Pamungkas

Om Pamungkas
sejak kapan


__ADS_3

Sedari tadi Hendra sibuk memperhatikan Pamungkas.


Di pandanginya dari atas ke bawah,


" Benar.. semakin di lihat semakin beda dengan papa.." ujar Hendra dalam hati,


Sesungguhnya ia pernah berpikir kenapa wajah omnya itu berbeda sekali dengan papanya, tapi ia buang jauh jauh pikiran itu.


Jika wajah papanya lebih cenderung bulat dan tidak begitu tinggi tubuhnya,


om nya itu malah punya bentuk wajah yang tegas, tajam khas orang timur.


Kulitnya lebih gelap dari papanya, begitu juga bentuk alis yang tebal dan garis hidung yang tidak Hendra dan papanya miliki, apalagi Ratih.


Tinggi badannya pun jauh di atas papanya, omnya itu sungguh orang yang menonjol jika berdiri diantara keluarga.


Setidaknya seorang saudara kandung mempunyai kemiripan meski satu persen, tapi mereka berdua sungguh sungguh tidak mirip.


Hendra menghela nafas pelan, ia benar benar tidak bisa fokus pada pekerjaannya.


" Bagaimana ini.." keluh Hendra lirih tak sadar.


" Apanya yang bagaimana?" tanya Pamungkas yang sedari tadi sadar di perhatikan.


" Ah.. tidak om.." jawab Hendra mengalihkan pandangan.


" Kalau tidak fokus libur saja.." ujar Pamungkas,


" kau terlihat di bebani dengan banyak pikiran.." imbuh Pamungkas menepuk pundak Hendra.


Hendra diam, ia mengambil lap yang berada di sampingnya dan membersihkan kedua tangannya yang kotor.


" Ratih sakit.." Hendra menatap omnya,


Pamungkas langsung bereaksi,


" sakit? sakit apa?" Pamungkas mendekat,


" Badannya panas semalaman.." wajah Hendra sayu,


" aku kasian pada adikku.." imbuh Hendra membuat Pamungkas sedikit kaget.


" Katakan padaku ada apa?" tanya Pamungkas serius.


" Jenguklah dia om..",

__ADS_1


mendengar itu Pamungkas semakin heran, ia menatap Hendra sejenak.


" Tentu saja sebagai omnya aku akan menjenguknya, memangnya ada apa Hen? wajahmu terlihat tak baik?" tanya Pamungkas merasa Hendra memang berbeda sekali hari ini.


" Sejak kapan om suka pada Ratih?" tanya Hendra tiba tiba membuat Pamungkas tersentak, kemudian laki laki itu termenung cukup lama.


" Itu bukan hal yang bisa kita bicarakan di tempat yang seperti ini.." jawab Pamungkas setelah lama berpikir dan setelah mendapatkan ketenangannya kembali.


Setelah keduanya berada di ruangan yang di khususkan untuk Pamungkas,


Hendra langsung terduduk lesu.


" Katakan padaku om, sejak kapan?" tanyanya langsung tanpa basa basi.


Pamungkas yang tidak bisa lari lagi akhirnya menjawab.


" Sejak ia menginjak SMA.." Pamungkas sedikit tertunduk, tentu saja ia malu pada Hendra, seharusnya dirinya menjadi om yang sempurna, tapi malah jatuh cinta pada keponakannya sendiri.


" Tapi kau tau kan, aku sudah berjanji akan menjaga segalanya kembali pada tempatnya.." ujar Pamungkas kemudian.


" Kenapa om? apa semudah itu perasaan om pada Ratih hilang?" Hendra tersenyum pahit.


" bukan begitu Hen.." Pamungkas terlihat bingung sekarang,


" Aku sudah pernah bertanya pada adikmu, jika dia mau aku akan berjuang meski harus menghadapi papamu..


aku juga terbentur rasa tanggung jawabku pada kedua orang tuamu..


aku tidak ingin di nilai serakah..


aku punya banyak hutang budi pada papamu Hen.." jelas Pamungkas tak kalah lesu sekarang.


" Aku bertahan bertahun tahun dengan perasaanku,


menyaksikan adikmu berganti pacar, hingga akhirnya dia bersuami..,


beruntungnya aku di pindahkan ke luar jawa, setidaknya patah hatiku tidak begitu parah.. karena tidak melihatnya setiap hari,"


" jadi benar om bukan saudara kandung papa?"


Pamungkas menatap Hendra heran,


" Kau tidak tau?" tanya Pamungkas,


" aku tidak tau, papa baru memberitahuku, itupun karena dia memergoki om dan Ratih,"

__ADS_1


" memergoki kami maksudmu??"


" iya, entah apa yang kalian lakukan saat acara pindahan rumah?"


Deg! Pamungkas memucat, kakinya tiba tiba lemas.


" Papa sudah tau om.." suara Hendra membuat perasaan Pamungkas semakin kalut.


" Apa.. apa respon papamu?" keresahan terlihat begitu jelas di mata Pamungkas.


Pamungkas mengikuti langkah Hendra,


" Naiklah om, papa mama sedang keluar.. entah mereka kemana, sedari pagi mak Karto yang menemani Ratih.." ujar Hendra belok ke arah dapur.


" Sudah naiklah om.." ujarnya, meski sesungguhnya ia kurang setuju, tapi setelah ia tau Pamungkas bukan om kandungnya, ia merasa tidak berhak untuk menentang,


dan lagi.. meski Pamungkas jauh lebih tua, tapi ia merasa omnya itu layak menjaga adiknya.


Pintu Kamar Ratih terbuka, mak Karto sedang duduk di kursi disamping Ratih, yang sepertinya sudah sedari tadi tertidur.


" Mas Pamungkas tho.." Mak Karto bangkit,


" sudah dari tadi tidurnya mak?" tanya Pamungkas mendekat.


" Lumayan mas, sampun nginum obat, langsung tilem.. ( sudah minum obat, langsung tidur..)" jawab mak karto pelan.


Perempuan tua itu terlihat lelah, Pamungkas yang melihat itu tak tega.


" Mak.. sampean istirahat dulu, biar Ratih saya yang jaga.." ujar Pamungkas,


" Tapi kalau mbak Ratih bangun nanti mas??"


" biar saya yang mengurus.. mak turun istirahat, barang satu dua jam mak.."


Pamungkas setengah memerintah.


Akhirnya mak Karto menurut dan turun,


Pamungkas duduk di kursi samping tempat tidur dengan hati hati.


Di pandanginya Ratih yang terlelap itu, wajahnya pucat, rambutnya yang panjang kesana kemari tertekuk tak karuan.


Pamungkas ingin sekali menyentuh wajahnya, namun di urungkan niatnya itu karena takut membangunkan Ratih.


Pamungkas memicingkan matanya tiba tiba saat melihat ada luka di bibir bawah Ratih,

__ADS_1


terlihat memerah, pertanda belum lama.


__ADS_2