
Tak bisa menunggu lagi, laki laki itu ijin pada komandan untuk pulang lebih cepat.
Pamungkas yang masih menggunakan seragam PDHnya itu, menarik gas motornya agar sampai lebih cepat dirumah Arga.
Sesampainya di depan pintu rumah Arga ia buru buru mengetuk, di tenangkan dirinya meski perasaannya carut marut.
Tangannya sudah bersiap siap memukul jika ia menemukan Arga yang membuka pintu.
" Cari siapa?" tanya seorang perempuan separuh baya,
" Pemilik rumah, tolong katakan saya mencari Arga." jawab Pamungkas tanpa keramahan.
" Siapa yuk?!" terdengar suara nyonya rumah mendekat,
" ini buk.. ada tamu cari mas Arga.." perempuan yang di panggil yuk itu mundur sembari membuka pintu lebar.
" Lho??, njenengan??" mama Arga terkejut, di tangannya mengendong bayi.
" Silahkan masuk mas.." persilahkan mama Arga setelah tersadar dari keterkejutannya.
" Saya kesini bukan untuk duduk." sahut Pamungkas dengan suara dalam.
Mama Arga tampak kikuk dan bingung,
" Lebih baik duduk dulu.. bicara pun akan lebih nyaman.." ujar perempuan tua itu dengan hati hati,
hatinya berkata putranya sudah membuat kesalahan lagi.
" disini saja, terlalu repot untuk saya melepas sepatu,
saya dengar Arga pulang, tolong suruh dia menemui saya sekarang." tegas Pamungkas membuat raut perempuan tua itu semakin takut.
" Arga memang pulang satu minggu, karena selama putrinya lahir dia belum pulang sama sekali..
tapi dia sudah kembali tadi pagi mas??
kalau boleh saya tau..
__ADS_1
Apa Arga membuat masalah lagi?" tanya mama Arga hati hati.
Rahang Pamungkas menegang, ia terlihat kesal dengan jawaban mama Arga.
" Tidak usah membuat alasan yang tidak masuk akal, suruh saja dia menemui saya sekarang." Pamungkas tidak asal percaya.
" Sungguh.. papanya yang mengantar ke bandara jam delapan pagi tadi..
Njenengan boleh masuk dan memeriksa ruangan satu persatu jika meragukan ucapan saya.." mama Arga menjelaskan dan meyakinkan bahwa putranya memang sudah kembali ke mimika tadi pagi.
Bayi yang di tangan mama Arga tiba tiba saja menangis, membuat perhatian Pamungkas tercurah ke makhluk kecil itu.
Pamungkas terdiam, rasa kesal dan kasihan campur aduk tidak karuan.
" Ibunya datang kerumah beberapa waktu yang lalu." ujar Pamungkas tiba tiba sembari menatap bayi mungil yang sedang di timang agar diam itu.
" Tias?" tanya mama Arga,
" benar,"
Entah kenapa wajah mama Arga terlihat lebih sedih dari sebelumnya.
" Bagaimana bisa suami mengeluarkan istrinya dari rumah?" tanya Pamungkas yang berdiri tegap di depan pintu rumah Arga itu.
" mereka sudah berpisah.." jawab mama Arga tampak sedih.
Deg!
Perasaan terancam mendadak menyerang Pamungkas.
" Jadi itu sebabnya dia menganggu istri saya lagi?" di atur nada suaranya yang sesungguhnya hampir meninggi itu.
" Arga menganggu Ratih lagi?"
" kata orang orang ada laki laki yang mengawasi istri saya seminggu ini,
saya kira siapa lagi, karena itu saya datang kesini untuk memastikan, dan ternyata benar Arga ada di kota ini,
__ADS_1
Semakin yakinlah saya kalau yang mengawasi istri saya adalah Arga."
" saya sungguh sungguh tidak tau,
Saya juga sudah menasehatinya agar tidak menganggu Ratih lagi..
saya mohon mas..
maafkanlah dia yang kurang dewasa, penyesalannya pada Ratih amatlah besar..
Mungkin sulit baginya melupakan perempuan yang pernah hidup bertahun tahun dengannya..
tolong berikan Arga waktu.."
Pamungkas tersenyum getir,
" ibu selalu memohon untuk kebaikan putra ibu,
lalu bagaimana dengan saya,
Apa karena tidak ada seseorang ibu yang datang kesini dan memohon pada ibu jadi ibu mengabaikan perasaan saya?
Saya ini seorang suami, bagaimana perasaan saya jika rumah tangga saya terus di usik?
Ibu, bukankah ibu sudah berjanji pada saya, jika saya meringankan hukuman putra ibu, ibu akan menjauhkannya dari istri saya?" Pamungkas menekan kemarahannya karena yang di hadapannya adalah orang tua.
Andai saja ibunya masih hidup, mungkin dia tidak akan menahan segala perasan nya sediri seperti sekarang,
Andaikan ibunya masih hidup, mungkin ia bisa mengeluh dan memberinya sebuah jalan keluar yang baik,
Andaikan ibunya masih hidup, mungkin ibunya akan datang kemari dan memperingatkan mama Arga agar jangan menganggu rumah tangga putranya.
Pamungkas menghela nafas berat, di pandangnya bayi yang sudah tenang di tangan mama Arga itu sekali lagi.
" Ini terakhir kali saya bicara,
jika ibu tidak bisa memegang janji ibu, makan saya juga tidak bisa memegang janji saya untuk tidak menyentuh putra ibu di kemudian hari.." ucapnya tenang, dan melangkah pergi.
__ADS_1
Mama Arga hanya bisa melihat kepergian Pamungkas dengan perasaan tak tenang sembari memeluk cucunya.