
Mood Pamungkas kurang baik beberapa hari ini, ia tidak marah terhadap istrinya, ia justru marah terhadap dirinya sendiri karena selalu di selimuti ketakutan.
Ia takut istrinya yang muda itu goyah,
Ia takut saat melihat laki laki yang lebih muda darinya berdekatan dengan istrinya.
" Kau tidak percaya diri? Kenapa?" tanya Fakih,
Pamungkas diam, ia terus saja merokok di samping ruang idik.
Di kursi kayu panjang di bawah pohon mangga.
" Kau ini belum tua.. Aku bahkan lebih tua darimu.. Apa sih yang kau takutkan?" Fakih menepuk pundak Pamungkas.
" Abang kan sepantaran dengan istri.." sahut Pamungkas,
" apa yang harus abang takutkan?" imbuh Pamungkas.
" Yah.. benar.."
" abang tidak tau rasanya.." Pamungkas setengah menggerutu.
" Istriku bahkan masih terlihat seperti perempuan yang belum menikah jika cincin kawinnya di lepas,
Sebelumnya ada mantan suaminya, guru tari yang gondrong dan kalem itu, lalu sekarang tambah satu lagi," raut Pamungkas masam.
Fakih tertawa,
" Kau benar benar tidak percaya diri rupanya,
memangnya kau kalah apa?" tanya Fakih.
" Usia pasti, muda, energik dan.. Aku kan tidak bisa tampil flamboyan dan menyenangkan.."
" flamboyan? hahahahaaa..!" Fakih tertawa lebih keras.
" Maksudmu memakai baju warna warni untuk memikat dan mencuri perhatian?"
Pamungkas mengangguk.
" Tanpa berpenampilan seperti itu kita sudah menarik perhatian Pam.. Kau tau benar itu?"
" tapi istriku minoritas.. di suka laki laki yang sejalan dengannya,"
" contohnya?"
" aku tidak tau, rasanya kami seperti hidup di dunia yang berbeda.. Apalagi saat aku melihatnya menari dan sibuk dengan buku bukunya,
__ADS_1
Dia menjadi sosok yang berbeda saat melakukan hal hal yang ia sukai.." Pamungkas membakar satu batang rokok lagi.
Fakih terlihat berpikir, ia juga bingung harus memberi saran apa, yang bisa ia lakukan adalah menambah rasa percaya diri juniornya itu.
" Dengarkan aku, setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan..
kau punya integritas, kau adalah orang yang setia dan pengertian..
kau menerima apapun itu tentangnya,
istrimu juga pasti merasa beruntung memilikimu,
tapi tidak semua rasa beruntung harus di ungkapkan..
mungkin karena pernikahan pertamanya gagal, ia jadi enggan untuk membicarakan perasaannya..
jadi jangan terlalu erat menggenggamnya, bukan patuh, tapi dia akan lari..
setauku..
Perempuan yang hatinya penuh dengan rasa sakit sikapnya akan lebih sulit di mengerti..
seperti luka lebam atau memar, di sentuh sedikit saja pasti sakit,
Berbeda dengan perempuan yang tubuhnya bersih tanpa memar,
" Tentu saja respon setiap perempuan berbeda, tapi sebagai seorang suami yang memiliki istri dengan masa lalu seperti itu kau memang harus lebih sabar,
Kalau perkara laki laki yang mengelilinginya..
tunjukkan saja taringmu,
ya masa kau tidak tau bagaimana cara mempertahankan wanitamu..?"
Pamungkas diam, entah apa yang ia pikirkan, matanya menyalang ke arah jalan.
" Harusnya kau senang, kalau banyak yang tertarik pada istrimu,"
" ah! Abang ini bagaimana? kalau abang jadi aku nyenyak tidurmu bang?"
Fakih tertawa lagi,
" selama istriku bisa di percaya tidurku nyenyak nyenyak saja.. bersyukurlah, tidak semua orang bisa dapat istri yang lebih muda, keponakan sendiri lagi.." Fakih tertawa lagi.
" Abang ini menguatkan atau mengejek?"
" yah.. sambil menyelam minum air,
__ADS_1
menguatkan iya, mengejek sedikitlah.." jawab Fakih terhibur dengan raut masam Pamungkas.
Saat Pamungkas pulang Ratih belum pulang,
berkali kali Pamungkas menelponnya, tapi tidak di angkat.
Pamungkas yang tidak sabar mengambil kunci motornya, berniat menyusul istrinya karena hari sudah mulai malam.
Tapi baru Pamungkas membuka pagar, motor Ratih masuk.
Pamungkas mendekat dan memperhatikan gerak gerik istrinya, ia enggan bertanya, karena sejak hari itu Pamungkas dan Ratih tak banyak bicara.
Tapi melihat Ratih berjalan masuk dengan cara berjalan yang tak seperti biasanya Pamungkas mengejar langkah istrinya.
" Kenapa?!" tanya Pamungkas meraih lengan Ratih.
Saat itu terlihat wajah pucat milik istrinya.
" Ratih?! kenapa?!" Pamungkas memeriksa tubuh istrinya,
" astaga..?!" Pamungkas menemukan lengan yang tergores dan celana yang robek di bagian lututnya.
" Kau jatuh atau di tabrak orang?!" Pamungkas mengambil tas di tangan istrinya,
" jatuh.." jawab Ratih pelan, ia tampak menahan perih, lengan dan lututnya tampak tergores aspal.
Tanpa pikir panjang laki laki itu mengendong istrinya dan membaringkannya di kamar.
" Kita ke dokter ya?, aku takut ada luka lain?"
Ratih menggeleng,
" Jatuhku pelan, hanya menghindari orang tua yang tiba tiba menyeberang.. tidak perlu ke dokter.."
" Tapi yang.. kau pucat sekali?"
" hanya tidak kuat merasakan perih.." keluh Ratih.
Pamungkas bangkit, di telfonnya pak Agus agar mencari dokter terdekat, tak ada dokter mantri pun jadi,
yang penting rasa sakit istrinya berkurang.
" Sudah ku suruh pak Agus mencari dokter.. Sabar ya yang?" Pamungkas tidak berani menyentuh istrinya.
" Kau melamun ya?" tanya Pamungkas hati hati, ia tau benar kalau pikiran Ratih tidak tenang karena ucapannya waktu itu.
Diam diam ia menyesal, kenapa harus menambah beban pikiran istrinya, sekarang kalau sudah begini, dirinya juga yang merasa bersalah.
__ADS_1