
Laki laki berkaos abu abu tua itu menyusuri jalan setapak berbatu,
setelah beberapa menit berjalan dan merunduk runduk untuk menghindari ranting pepohonan yang lumayan rapat, ia mulai mendengar suara aliran air yang cukup menggoda telinganya, rasa penasaran semakin mendorongnya mendekat.
Setelah melewati satu pohon yang cukup rindang dan lebat, barulah terlihat sungai yang cukup jernih.
lebar sungai itu sekitar tiga meteran, tidak terlalu dalam, namun aliran airnya cukup deras.
Banyak bebatuan besar di tengah sungai, ada pula batu batu yang sepertinya sengaja di tumpuk tumpuk seperti menara, mungkin itu hasil karya anak anak atau para remaja.
Pamungkas melangkah melewati air, meloncat dari satu batu ke batu hingga tiba di tengah sungai dan ia duduk di salah satu batu yang cukup besar untuk di duduki.
" Pasti ibu dulu pernah kesini.." ucapnya dalam hati sembari memandang langit yang di bingkai oleh ranting yang penuh dedaunan.
Pamungkas mengulas senyum getir sekilas,
tempat seindah dan setenang ini seharusnya memberinya kenangan yang cukup baik,
Namun karena ayahnya, tempat seindah apapun menjadi tidak begitu indah untuknya.
Lama Pamungkas duduk dan merenung, dan sejam kemudian terdengar suara beberapa orang yang sedang mendekat,
Rupanya beberapa ibu ibu melintas, mereka membawa peralatan kebun, mereka menatap Pamungkas aneh, mungkin karena wajah Pamungkas asing untuk mereka.
Setelah ibu ibu itu lewat, datang lagi seorang laki laki dan seorang putranya melintas.
Langkah mereka terhenti di tepian sungai dan menatap Pamungkas yang sedang duduk.
" Kau putra Rahmat?" suara laki laki tua membuyarkan lamunan Pamungkas.
Pamungkas menoleh, namun tak ada anggukan di kepalanya.
" Kau pasti putra Rahmat yang ada di jawa itukan?",
Lagi lagi laki laki tua itu bertanya, namun Pamungkas tak juga menjawab.
" Aku kenal dengan ibumu," ujar laki laki itu membuat mata Pamungkas langsung menunjukkan ketertarikan.
" Anda kenal ibu saya?" Pamungkas membuka mulutnya, suaranya menembus suara air.
" Tentu saja, dia perempuan yang lemah lembut dan cantik.. bukankan kau juga pernah kesini saat kau kecil, apa kau lupa?" laki laki itu membuat Pamungkas bangkit dari batu besar itu, dan berjalan mendekat menuju tepian sungai.
Ratih sedang sibuk membantu tante Rapuni memasak,
Ratih memperhatikan cara membuat kapurung dengan serius, ia bahkan sempat mencoba beberapa kali tapi hasilnya malah terlalu cair.
" Tidak apa apa nak.. namanya saja belajar.." ujar Rusdi yang baru saja masuk ke dapur.
" oh om, apa suami saya sudah pulang?" tanya Ratih karena sudah waktunya makan siang.
" Tidak ada dirumah kulihat nak, memangnya kemana suamimu?"
" mau jalan jalan ke sungai sebentar tadi om?"
" ah biarkan sudah.. Mungkin dia sedang melihat lihat orang bekerja di kebun.." ujar Rusdi,
" tapi sudah waktunya makan siang om?"
" suamimu bukan anak anak nak, tidak mungkin dia tersesat, dan sudah pasti dia pulang kalau sudah lapar,"
__ADS_1
Mendengar itu Ratih terdiam, benar memang kata omnya itu, tapi tetap saja.. Di tempat yang asing ini, dirinya selalu khawatir pada suaminya.
" Terimakasih atas makan siangnya pak.." ujar Pamungkas berniat undur diri.
" tidak ada lauk tidak ada apa, tidak usah berterimakasih," ujar laki laki tua itu tersenyum.
" tetap saja, ikan kering dan sayur ubinya enak sekali.."
" karna mau kubuatkan kapurung kau juga tidak bisa makan.." laki laki tua itu tertawa.
Pamungkas mengangguk dan ikut tersenyum.
" Jangan lupa pesanku ya nak?"
Mendengar itu wajah Pamungkas tiba tiba berkerut kembali.
" Dia mencintai ibumu meski sikapnya buruk.. Dia bahkan tidak menikah lagi setelah disini.."
Dan pamungkas masih diam, selama duduk dirumah laki laki tua yang ia temui di tepi sungai tadi,
Ia banyak mendengar cerita tentang ayah dan ibunya, laki laki tua bernama Munar ini tau karena dia adalah teman minum dan judi ayahnya semasa mudah dan hidup di kampung.
" Itu hanya tipuan yg di lemparkan pada orang orang sekitar agar dia tampak baik" sahut Pamungkas masih tak terima.
" Dia di besarkan dengan cara yang buruk, tidak ada yang mengajarinya melampiaskan perasaannya dengan benar,
Ayahmu di besarkan dengan kasar,
Karena itu dia tumbuh dengan kasar pula,
Di tambah lagi dia masuk militer..
Pamungkas diam tak menjawab, namun matanya mulai penuh memerah.
Ratih yang duduk di teras bangkit saat melihat sosok suaminya dari kejauhan,
Ia ingin menyusul, tapi di urungkan niatnya saat menangkap raut yang kurang baik di wajah suaminya.
" Ayo makan mas?" Ratih menyentuh lengan suaminya yang berjalan melewatinya begitu saja.
" Aku sudah makan, kau makanlah segera.." ujar Pamungkas langsung masuk ke dalam kamar.
Ratih mematung sejenak di depan pintu kamar, meski sekilas ia tau ada air mata yang di tahan untuk tidak turun.
Dan benar saja, setelah Ratih masuk, ia menemukan suaminya yang sedang memejamkan matanya sembari duduk bersandar di dinding.
Ada air mata yang meleleh di sudut mata yang tertutup itu.
" Mas dari mana sih mas..??" tanya Ratih mendekat lalu membelai pipi suaminya, entah kenapa ada nyeri yang menyusupi hatinya melihat suaminya seperti itu.
" Kemana dirimu yang biasanya gagah dan tegar..?",
Mendengar itu Pamungkas membuka matanya, ia menatap Ratih sayu.
" Aku bertemu dengan teman laki laki itu.." suara Pamungkas lirih,
" teman masa kecilnya, masa mudanya,
Temannya saat mabuk mabukan dan berjudi.."
__ADS_1
" lalu? Apa mas kecewa mendengar semua keburukan ayah mas.."
" tidak.." pamungkas menggeleng pelan, air matanya kembali jatuh setetes.
" Lalu kenapa mas seperti ini??" Ratih bingung,
" karena aku kecewa dengan apa yang aku dengar..
Aku kecewa tidak mendengar keburukannya,
Aku kecewa..
Karena yang kudengar malah hal yang bisa membuat kebencianku goyah..",
Ratih tertegun sejenak, ia masih belum mengerti apa yang sesungguhnya sudah suaminya dengar.
" Sebenarnya apa yang sudah mas dengar dari orang itu???" tanya Ratih duduk di atas lantai keramik itu, disamping suaminya.
" Masa dia bilang laki laki itu mencintai ibu.." suara Pamungkas bergetar, entah perasaan apa yang ia tahan saat mengatakan hal itu.
" Bohong kan itu Rat? setauku cinta tidak begitu.."
Ratih terdiam, ia sungguh sungguh tidak mampu menjawab,
" kalau dia mencintai ibu.. Mana mungkin akhirnya begini.. Iya kan Rat..??" lagi lagi Ratih tidak sanggup menjawab, di jatuhkan dirinya kedada pamungkas dan di peluk suaminya itu.
" Sudahlah mas.. Jangan terlalu mas pikirkan.." ujar Ratih ingin suaminya tenang.
" Mana mungkin tidak kupikir.. Laki laki yang paling jahat itu dia,
Kenapa orang lain malah mengatakan dia mencintai ibu, bukankan itu omong kosong yang menyakitkan..!"
Ratih diam, ia hanya bisa merasakan gemuruh didada suaminya bersama bahu yang berguncang.
Ahh.. Air mata pamungkas terus saja turun semenjak disini,
Setiap menit seperti pesakitan untuknya,
Hatinya sungguh sungguh tidak terima, dan itu membuatnya selalu tersiksa.
Ratih menghela nafas panjang, di tenangkan dirinya agar sanggup mengendalikan suaminya.
" Sekarang katakan padaku mas, kenapa orang itu bisa mengambil kesimpulan semacam itu?" tanya Ratih pelan dan hati hati.
Pamungkas tidak langsung menjawab, ia cukup lama menahan perasaannya agar tidak bergejolak dan berakhir dengan membuat istrinya gelisah.
" Laki laki itu.."
" ayahmu mas.. dia ayahmu.."
" iya, laki laki itu, dia bercerita tentang segala kekecewaannya pada temannya itu,
katanya dia menyesal sudah mencampakkan ibu dan aku, dia bahkan mabuk dan berkelahi hampir setiap hari..
dan dia semakin menggila saat tau ibu menikah lagi, semakin tidak karu karuan.."
" bukankan itu sudah bisa terbaca mas..?"
" kukira ia menikahi perempuan selingkuhannya itu dan hidup bahagia, bukankan itu tujuannya mencampakkan ibu..?" Ratih mulai kebingungan.
__ADS_1
" Nyatanya dia hidup sendiri sampai tua mas..".