
Mana mungkin Pamungkas bisa tidur, meski ia sudah memutuskan untuk tidak menganggu Ratih, tapi mendengar isaknya yang menyayat hati rasanya Pamungkas tak tega.
Laki laki yang sudah menghabiskan lima batang rokok itu menutup jendela kamarnya.
berjalan keluar menuju pintu, hatinya sungguh tidak bisa tenang.
Di ketuk pintu kamar Hendra,
" Hen, Hendra?" panggil Pamungkas beberapa kali, hingga akhirnya Hendra membuka pintu.
Rupanya Hendra juga belum tidur,
" Kenapa om?" tanya Hendra dengan mata yang masih terbuka lebar.
" Kita bicara sebentar.."
mendengar itu Hendra mempersilahkan Pamungkas masuk ke dalam kamarnya.
" Terus terang saja, aku tidak tenang.." ucap Pamungkas setelah duduk di kursi malas Hendra yang tepat disamping tempat tidur.
" Karena memikirkan Ratih?" Hendra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Setelah om pergi semua tidak membaik.. tidak ada yang bisa kusembunyikan.." lanjutnya.
" Kenapa? ada hubungannya dengan kejadian malam itu?" raut Pamungkas serius,
" Sepertinya tidak om,"
" lalu? apa yang membuatnya seperti itu?"
" masa lalu mengusiknya,"
" mantan suaminya?" dahi Pamungkas berkerut,
" istri mantan suaminya, sahabatnya yang busuk itu datang dan menganggu kembali.."
Pamungkas diam, ia tidak bisa berbuat apapun perihal itu, karena urusan perempuan tetaplah urusan perempuan.
" Apa yang kau lakukan untuk merubah keadaan?"
" perempuan itu hamil om, dia juga datang dengan alasan berdamai,
Hendra bingung harus bagaimana juga.."
Kedua laki laki itu terdiam.
Pagi,
Dingin masih menusuk, Pamungkas yang rajin bangun pagi masih meringkuk di balik selimut.
Sayup sayup Pamungkas mendengar suara motor keluar dari halaman rumah.
Matanya tiba tiba terbuka, karena ia tau itu suara motor Ratih.
" Bukankah ini hari minggu, harusnya dia tidak membuka cafe di hari minggu,
apa karena aku disini? dia jadi pergi..?" ucap Pamungkas dalam hati, ia masih sembunyi di balik selimut meski matanya sudah terbuka.
" Haaaa...hh..." ia mengeluh lirih,
perasaan sialan, tidak hilang hilang juga.
Ratih bertemu dengan Yunda dan Diah, mereka sepakat mencari novel novel lama di kompleks toko buku Wilis.
" Kau mau memasukkan novel novel lama ke taman bacaanmu?" tanya Yunda sembari membolak balik buku disamping Ratih dan Diah.
" Sudah ada sebenarnya, tapi aku memilih judul judul tertentu, karena pembaca di tempatku banyak yang masih SMA.." jawab Ratih mengambil salah satu buku yang sudah cukup langka, judulnya Layar terkembang.
" Iwang pasti senang.." ujar Ratih membuka lembar demi lembar buku itu,
__ADS_1
" kau masih sering bertemu Iwang?" tanya Diah,
" sering.. tapi karena seminggu ini aku off menari, jadi dia yang ke cafe.."
" kenapa kau tidak pacaran saja dengannya? dia lumayan Rat.. orangnya kalem, perhatian.. yang paling penting sama sama suka seni dan hal hal yang berbau tempo dulu, sama sepertimu..
lihat saja lengannya yang kekar saat dia menjadi Rama, belum lagi kalau rambut gondrongnya itu di kuncir ke belakang..
sexy.." Yunda meringis, entah apa yang ia bayangkan.
" Sepertinya kau yang suka padanya?" Ratih tertawa,
" Ah.. aku yang sat set begini suka gemas kalau lihat laki laki kalem..
tapi, Iwang itu memang sexy sih.." Yunda menutup mulutnya agar tidak tertawa karena bayangan di pikirannya sedikit keterlaluan.
" Iwang itu baik, dan perasaanku tidak lebih dari teman..
kasihan kalau dia jadi pelampiasanku nanti..
toh dia tidak menuntut lebih.." jelas Ratih.
" Ah kau bisa saja.. bilang saja kau belum move on?" sela Diah,
mendengar itu Yunda melotot pada Diah dan mencubit lengan Diah.
" Memangnya aku salah bicara? kita kan teman? aku harus tau bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya agar aku bisa membantumu?" ucap Diah sembari meringis.
" Kau benar Di.. aku memang belum bisa move on, tapi ini bukan perkara cintaku pada Arga,
cintaku sudah tergilas habis padanya,
yang tersisa hanya kekecewaan dan sakit hati yang masih begitu dalam..
apalagi melihat perut Tias yang besar itu..
hatiku sakit sekali.." Ratih menaruh buku yang sudah di pilihnya.
" benar.. aku harusnya senang, tapi..
aku justru ketakutan..",
" apa yang kau takutkan Rat? kau cantik, masih muda, bisa mencari uang sendiri..." celetuk Diah.
Ratih diam, ia tak menjawab, ia membuang pandangannya ke arah lain dan terus berjalan.
" Lho? tidak jadi kau beli buku tadi?" tanya Yunda mengejar langkah Ratih.
" Jadi, biar aku keliling dulu.. siapa tau ada yang lebih bagus murah.." jawab Ratih sembari terus berjalan.
Sesampainya dirumah Ratih dan teman temannya sengaja duduk di teras sembari memeriksa buku buku yang sudah di beli sembari memakan camilan yang sudah mereka beli.
Ketiganya berbincang heboh dan haha hihi semau mereka.
Kebetulan papa dan mama Ratih sedang tidak ada, jadi mereka berbicara sebebas mungkin,
membahas si A, si B, hingga si C.
Hingga mereka tak sadar bahwa seseorang sedang ada di garasi sedari tadi.
Pamungkas yang sedang sibuk menggosok motornya agar lebih bersih dan kinclong itu tentu saja mendengar semua perbincangan para wanita yang sedang berkumpul di teras.
Pamungkas yang keberadaannya tertutup oleh mobil papa Ratih yang berbody besar itu hanya diam dan terus menggosok hingga tenang.
" Kalau Arga mendatangimu lagi lempar saja dia dengan batu Rat..
heran, sudah dapat yang lebih gatal kok masih mencarimu.." ucap Diah geram saat tau Arga masih sering mencari Ratih.
" Itukan pertanda, kalau dia hanya melampiaskan nafsunya saja pada Tias,
__ADS_1
dia itu masih mencintaimu Rat? sudah pasti dia menyesal..
mangkannya kau jangan lama lama sendiri,
cari yang lebih gagah dan berpangkat tinggi..
pokoknya harus yang lebih Rat?!" Yunda berubah menjadi kompor.
" ada lagi yang harus lebih.." Diah menyela sembari tersenyum,
" opo?" tanya Yunda,
" ukurannya.."
" ukuran opo?" Yunda sok bodoh membuat Ratih mencubit nya,
" Ukuran benda yang bisa membuat Ratih menyerah di atas tempat tidur.." setelah mengatakan itu Diah terkekeh,
di susul tawa Yunda yang keras.
" Husss.. apa kalian?!" Ratih ikut tertawa meskipun malu.
" Klontang..!" ada suara seperti besi berukuran kecil terjatuh yang membuat ketiga perempuan itu diam seketika.
Suara itu jelas jelas dari garasi,
" Suara apa Rat? katanya tidak ada orang dirumah?" tanya Diah,
" ah.. paling mak Karto.." jawab Ratih sebenarnya Ragu.
Ketiganya kembali melanjutkan pembicaraannya, asik tanpa perduli langit mulai menurunkan gerimis.
Pamungkas yang sudah selesai menggosok motor tentu saja bangkit, ia juga menyadari kalau mulai turun gerimis.
Laki laki bercelana pendek berwarna army dan berkaos putih itu berjalan keluar dari garasi, karena tidak ada pintu yang menghubungkan garasi dan rumah,
ia harus berjalan melewati teras jika ingin masuk kerumah.
dengan langkah tenang ia berjalan, mendekat ke arah teras.
Ketiga perempuan itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, kedua memandang Pamungkas terheran heran,
namun keduanya menundukkan pandangannya dengan cepat saat Pamungkas berjalan melewati ketiganya dan masuk begitu saja tanpa menyapa.
" Sopo?? ( siapa??)" tanya Yunda pelan dan hati hati.
" Om ku.." jawab Ratih sedikit kikuk,
" om?? kok tidak pernah lihat?? kok masih muda??" Yunda dan Diah serempak.
Ratih menghela nafas, rasanya ia malas menjelaskan.
" Yang benar kau Rat? mana mungkin om mu?" Diah mengejar,
" memangnya kenapa?" tanya Ratih dengan ekspresi malas.
" Masih muda, gagah begitu? kalau om kan harusnya.. setidaknya??",
melihat Ratih yang dahinya semakin berkerut Diah menghentikan ucapannya.
" Usianya dan papa cukup jauh..
dia selama ini dinas di luar jawa.." jawab Ratih mau tak mau menjelaskan juga.
" Tentara??" tanya Yunda,
Ratih mengangguk,
" wahh.. bagaimana ini, Iwang ganteng sexy.. om mu Ganteng gagah.. bisa bisanya kau beruntung begini sih Rat.." keluh Yunda.
__ADS_1
" Tapi ngomong ngomong Rat.. kalau om mu sejak tadi disana.. berarti dia mendengar semua pembicaraan kita? dari yang bersih sampai yang jorok??" Diah memandang Yunda dan Ratih bergantian, ketiganya tiba tiba di serang rasa malu yang luar biasa.