Om Pamungkas

Om Pamungkas
sakit hati


__ADS_3

Sesampainya dirumah Ratih menangis sejadi jadinya,


lepas apa yang di katakan Iwang benar atau tidak, ia tau, bahwa ada sesuatu diantara suaminya dan sekar.


" Huhuhuhuuu....??" perempuan itu menenggelamkan wajahnya di atas bantal,


Bagaimana mungkin, sosok laki laki dewasa dan bijaksana itu mampu mengkhianatinya sampai begini,


Bagaimana mungkin?


Om yang sudah ia kenal sedari kecil itu?.


" Huhuhuhuhuuu..." perempuan itu tidak henti menangis, tubuhnya bahkan sampai gemetar.


Setelah mendengar kata kata iwang, ia tidak sanggup lagi berpura pura baik baik saja,


Ia memilih pulang dari pada harus menunjukkn air matanya di depan iwang dan pegawainya.


Perempuan itu terus saja menangis tersedu sedu, andai seseorang melihat kondisinya sekarang, Ratih benar benar tampak menyedihkan.


Emosi di dadanya bergejolak tak karuan, menyebabkan tangis yang cukup memilukan jika terdengar oleh telinga orang lain.


" Bagaimana mungkin aku si khianati lagi... Uhuhuhuhu.." ucapnya si sela sela tangisnya.


Banyangan akan pengkhianatan yang di lakukan arga dan tias muncul kembali, memenuhi kepalanya, Rasa sakit menyergapnya, di tambah dengan bayangan bayangan Pamungkas dengan sekar, entah apa yang sudah keduanya lakukan.

__ADS_1


" Ya Tuhan..." Ratih menggeliat di atas tempat tidur sembari memukul mukul dadanya yang sesak akan bayangan bayangan buruk.


" Ya Tuhan...?!" keluhnya lagi di barengi tangis yang lebih keras.


Sementara Pamungkas yang mendapat kabar dari Rama bahwa Istrinya sedang tidak enak badan dan tiba tiba pulang, bergegas minta ijin dan pulang.


Rama begitu serius saat mengatakan,


" Mbak Ratih sampai mau menangis saking sakitnya mungkin, bawa ke dokter saja segera mas..?" .


Pamungkas mengendarai motornya dengan sedikit ngebut,


meski keduanya sedang bertengkar pamungkas tetap saja tidak bisa tidak khawatir.


Sesampainya di depan rumah, pamungkas menemukan motor yang di parkir begitu saja dengan kunci masih menempel.


Saat Pamungkas melepas helmnya samar samar terdengar suara tangis.


Tanpa melepas sepatu Pamungkas masuk ke dalam kamar,


Dan benar saja, ia menemuka istrinya itu sedang menangis tersedu sedu di atas tempat tidur.


Raut Wajah Pamungkas berubah semakin khawatir,


Dengan langkah cepat ia berjalan menuju tempat tidur.

__ADS_1


" Rat? Sayang?!" panggilnya merengkuh tubuh yang lemah karena kelelahan menangis itu.


" Mana yang sakit? Katakan mana yang sakit??" Pamungkas menghela wajah yang penuh air mata itu.


Sementara Ratih, melihat suaminya si hadapannya, tangis yang semula sudah mulai reda, tiba tiba kembali tersedu.


Melihat wajah Pamungkas hatinya begitu terluka.


" Yang mana yang sakit??!" Pamungkas menyeka air mata Ratih dan menyingkirkan rambut ratih yang menutupi wajahnya.


" Kita ke dokter ya?" ujar Pamungkas mengangkat tubuh istrinya, namun Ratih menampik tangan Pamungkas yang berusaha mengangkatnya.


" lepaskan, aku tidak sakit." ujar Ratih sesegukan.


" kau seperti ini? Tidak sakit bagaimana??!" pamungkas ngotot, bagaimana ia bisa tenang melihat istrinya yang penuh air mata seperti itu.


" pergilah..!" ujar Ratih keras, lalu kembali tersedu.


Melihat hal itu tentu saja Pamungkas kebingungan, ia menjauh mundur.


Laki laki itu berjalan keluar kamar, dengan gerakan setengah kebingungan di lepas baju seragamnya sehingga menyisakan oblong nya.


laki laki itu mencoba duduk, namun kembali bangkit saat ia mendengar tangis istrinya semakin pecah.


di pegang kepalanya dengan kedua tangannya, bingung.. Ingin masuk ke kamar, tapi di lihat dari kondisi Ratih ia sedang tak mau di dekati.

__ADS_1


Akhirnya di tengah ke bingungannya, Pamungkas mengambil HPnya, dan segera menghubungi kakak iparnya.


__ADS_2