
" Sudah tidak mau tersentuh olehku?" tanya Pamungkas,
" ah tidak," jawab Ratih masih fokus dengan bukunya.
" Lalu kenapa kau tarik kakimu?"
" hanya takut menganggu mas saja," sahut Ratih tenang.
" Benar tidak mau mengangguku?"
" ya benarlah,"
" lalu kenapa tidur dengan baju setipis itu?",
Keduanya beradu pandang,
" maksudnya?" tanya Ratih mengerutkan dahi.
" Mana ada suami yang tidak terganggu melihat istrinya memakai baju setipis itu?" Pamungkas masih menatap istrinya serius.
" Mas terganggu dengan bajuku?" Ratih bangun,
" ya sudah, biar kuganti.." saat perempuan itu bangkit Pamungkas mencegahnya.
" Sudahlah, tidak perlu kau ganti baju, pakai sesukamu, asal tidak di depan mata laki laki lain." Pamungkas berbalik, membelakangi Ratih.
" lho? Maksud mas apa bicara begitu?" Ratih tersinggung.
" Tidak ada maksud apapun, tidurlah." sahut Pamungkas menutup mata.
" Enak sekali bicara, makin kesini aku makin tidak ada benarnya,
Kalau sudah bosan bicara baik baik, jangan mencari cari salahku." Ratih menggerutu dan berjalan keluar kamar.
" Aku bicara apa! kau bicara apa!" Pamungkas bangkit, melihat Ratih berjalan keluar ia mengikuti.
" Aku sudah tau, aku memang tidak layak untuk mu yang luar biasa om!" tegas Ratih sembari berjalan ke dapur, ia membuka lemari es, mengambil salad dan puding yang ia beli kemarin, entah kenapa, setiap hatinya kesal ia ingin makan.
" Om lagi?!" Pamungkas mengambil puding dari tangan Ratih.
" Bahkan ingin makan pun aku masih di ganggu?" keduanya bertatapan, sama kesal.
" Kau selalu saja menuduhku bosan terhadapmu, sebenarnya kenapa?" Pamungkas menjauhkan puding itu, membuat Ratih semakin kesal.
" karena menurutku memang begitu," Ratih sudah tidak menginginkan puding itu,
Ia beralih pergi.
" Kau punya pendapat aku pun punya?!" Pamungkas tetap mengikuti Ratih yang berpindah ke ruang tengah.
" Semua orang bebas berpendapat," sahut Ratih duduk di depan tv.
__ADS_1
" Bebas berpendapat tapi tidak bebas untuk salah sangka atau bahkan menuduh yang tidak jelas." Pamungkas duduk disamping Ratih.
" Merasa?" Ratih tersenyum pahit,
" merasa apa?"
" kalau memang bosan padaku?"
" aku gila kalau bosan padamu?!"
" lalu kenapa dengan sikap mas?"
" sikap apa? Aku diam karena tidak ingin menyakitimu?"
" dengan menjaga jarak maksudnya?"
Pamungkas membeku, ia bingung harus menjawab apa dan bersikap bagaimana, karena hatinya sekarang juga sedang goyah, begitu pula kepercayaannya pada istrinya.
" Mau mu aku bagaimana Rat?" tanya Pamungkas kemudian, tatapannya sayu.
" Apa belum cukup aku mengalah?" imbuhnya,
" mengalah? apa aku pernah menindas?" Ratih ikut bangkit,
" Kau menindasku, dengan selalu bersikap tidak tegas pada mantan suamimu," Suara Pamungkas tajam.
Sekarang Ratih yang membeku, ia terkejut.
" Kalau dari awal tidak mau menikah denganku ya jangan menikah!
tidak kubunuh saja dia saat di pesta pernikahan sudah untung!
kau malah memberinya kesempatan untuk selalu menemuimu!" Pamungkas meradang.
Ratih lemas, ia tak menyangka kalau suaminya tau dirinya sempat bertemu dengan Arga.
" Aku sudah memberimu kesempatan untuk jujur padaku saat itu,
Berkali kali aku bertanya,
Apa tidak ada hal yang yang ingin kau katakan padaku?
Tapi kau selalu menjawab tidak,
Kau selalu menutupinya, kenapa?
Masih mencintainya?
begitu takutnya kau kalau aku sampai memukulnya? hingga kau tidak jujur tentang pertemuan kalian!" amarah Pamungkas meluap luap.
Ratih bahkan tak bisa menyanggah apapun,
__ADS_1
" Harusnya kau sadar kenapa suamimu diam?! Kenapa suamimu marah?!
Sakit rasanya Ratih! aku mencintai perempuan yang bahkan tidak memandangku sama sekali!" Bentak Pamungkas keras, lalu berbalik pergi.
Laki laki itu mengganti bajunya, memakai jaket tebal dan mengambil kunci motornya,
tanpa Pamit dia pergi begitu saja dari rumah.
Adi yang belum tidur itu tentu saja kaget dengan kedatangan Pamungkas,
Apalagi dia sendirian, tak bersama istrinya,
Raut wajahnya juga terlihat tidak baik sama sekali.
" Dia bertemu dengan mantan suaminya di belakangku??" suara itu lemah dan kecewa.
" Dia masih mencintai laki laki itu, tidak ada jawaban lain atas sikapnya yang tidak jujur padaku??" imbuh Pamungkas,
Hendra terlihat turun dari tangga, dia terkejut saat melihat mata Pamungkas yang sudah penuh.
Tidak berani bertanya apapun, Hendra duduk tenang disamping papanya.
" Tolong panggil Ratih, tanyakan apa sebenarnya yang dia inginkan,"
Mendengar kata kata Pamungkas Hendra dan Adi sama sama tertunduk, keduanya tidak mengira hal semacam ini bisa terjadi pada Pamungkas dan Ratih.
" Jangan begitu, kau masih terbawa emosi.." Adi yang sedari tadi diam mendengarkan, mulai menenangkan adiknya.
" Biar aku yang menemui keluarga Arga.." imbuh Adi.
" Tidak perlu mas,"
" perlu, karena dia sumber masalah?"
" tidak perlu," Pamungkas bersikukuh.
" Kenapa?" tanya Adi heran, namun Pamungkas tak menjawab.
" Kau tidak ingin rumah tanggamu berjalan dengan baik?" tanya Adi,
" istriku tidak pernah memandangku,"
" itu tidak benar, Ratih sejak dulu menyayangimu?"
" sebagai omnya, tidak suaminya,"
" astaga.. kenapa kau jadi kekanak kanakan begini? dimana kedewasaanmu Pam?" Adi tidak habis pikir,
" Dari awal menikah kau sudah tau kondisinya bagaimana,
kenapa kau begini sekarang?" Adi mengingatkan.
__ADS_1