
Air mata itu sudah terhenti saat Ana dan Adi datang, namun sesekali menetes saat Ana bertanya sebab musabab air mata itu jatuh.
" Kau kenapa nduk..??" berkali kali mamanya bertanya, namun jawaban Ratih hanya sedang tidak sehat.
" Kita kerumah sakit saja ya?"
" tidak, besok Ratih juga pulih.." jawab Ratih dengan posisi berbaring dan tidak menatap mamanya yang duduk di sampingnya.
Ana hanya bisa menghela nafas, karna sepertinya cukup sulit untuk mendapatkan jawaban saat ini.
Setelah menunggu Ratih tertidur karena kelelahan menangis, Ana akhirnya keluar dari kamar.
Ia duduk disamping suaminya yang sedari tadi entah bicara apa dengan Pamungkas.
" Sebaiknya panggilkan dokter saja.. Apa ada dokter terdekat yang mau di panggil?, aku tidak tau apa yang mengguncangnya, tapi dia tidak mau ke dokter meski kubujuk.." ujar Ana pada Pamungkas.
Wajah Pamungkas yang sudah mulai tenang kembali resah karena tidak mendapatkan jawaban yang melegakan dari kakak ipar sekaligus mertuanya itu.
Pamungkas lama terdiam sembari tentunduk, entah apa yang di pikirkannya.
" Kami akhir akhir ini kurang akur memang.. tapi.. tidak kusangka hal ini akan menguncang dirinya sehingga berimbas pada kesehatannya.." ucap Pamungkas dengan suara yang sedikit ragu.
" Tidak akur? Kenapa??" tanya Ana menatap Pamungkas serius,
" entahlah.. setiap bicara kata katanya menyayat hati.." jawab Pamungkas, tidak mungkin ia membawa bawa nama Sekar di depan kedua kakaknya sekaligus mertuanya itu.
" mungkin ada kesalahpahaman Pam.. Coba kalian bicara dari hati ke hati.." ujar Adi,
" sudah mbak, mas.. Tapi entahlah, pikirannya semakin tidak jelas saja padaku..
apa.." ucapan Pamungkas terhenti,
" Apa? Teruskan ucapanmu Pam?" Ana menunggu,
" apa.. Dia.. Ingin kembali pada Arga?"
Mendengar kata kata Pamungkas, Ana dan Adi tersentak, keduanya saling menatap terlihat gelisah.
" Lee... ( nak... )" Panggil ana setenang mungkin, dengan tangan kanannya menyentuh pundak Pamungkas.
" Kata katamu sungguh tidak masuk akal bagi kami..
Mungkin juga bagi istrimu..
Mungkin memang ada penyebab kenapa kondisi istrimu begini,
__ADS_1
Tapi yang jelas bukan karena itu..
Kami tau dengan jelas bahwa hal semacam itu tidak pernah di inginkan oleh Ratih.." ujar ana meyakinkan Pamungkas.
Pamungkas diam tak menjawab, malam itu berlalu begitu saja, Pamungkas tidak bisa terpejam dengan sesegukan Ratih yang bisa ia dengar dengan jelas, hingga laki laki itu membolak balikkan tubuhnya karena tidak bisa terlelap, hatinya begitu tidak tenang.
Beberapa hari kemudian, keadaan Ratih masih tak kunjung membaik,
hingga seluruh keluarga memaksanya untuk kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit, ia di haruskan opname karena kondisinya yang terlalu lemah.
Bagaimana tidak, ia sulit sekali makan beberapa hari ini dan hanya mengurung dirinya di kamar.
Beberapa jam kemudian,
Pamungkas yang tidak ikut mengantar kerumah sakit di karenakan tidak bisa ijin, segera datang kerumah sakit setelah pulang dinas.
Langkahnya begitu cepat saat mendapat kabar bahwa istrinya harus menginap dirumah sakit.
Setelah memastikan ruangan istrinya ia membuka pintu, disana ia melihat Hendra dan Ana sedang duduk di sofa panjang yang terletak tak jauh dari tempat tidur Ratih.
Pamungkas langsung mendekat ke tempat tidur, dimana Ratih berbaring.
Di genggam tangan istrinya yang matanya sedang terpejam itu.
Pamungkas mengangguk, lalu mencium kening istrinya yang lelap itu.
Wajahnya masih pucat dan bibirnya terlihat begitu kering.
" Maaf, ada rapat yang tidak bisa di tinggal mbak.." ujar Pamungkas setelah membelai Rambut istrinya.
" Tidak apa apa, Hendra yang memaksanya kerumah sakit, papanya juga mengomel tadi.."
" kugendong saja, rewel sih.." sahut Hendra,
" Sudah kupaksa dari dua hari yang lalu, tapi dia bersikeras dirumah saja.. Aku sampai tidak tenang di kantor.." terlihat wajah lelah Pamungkas.
" Lalu apa kata dokter mbak??" tanya Pamungkas,
" kami juga menunggu hasil lab, mungkin sebentar lagi..
Yang jelas istrimu tidak bisa pulang malam ini.."
" tidak masalah.. Yang penting lekas membaik, dirumah malah kepikiran.." ujar Pamungkas mengangguk.
__ADS_1
" Kau tidak pulang dulu tadi? Setidaknya kau ganti baju?" tanya Ana,
" setelah ada kabar dari dokter mbak.."
" ya sudah lah.." jawab Ana duduk tenang disamping Hendra yang sibuk memainkan HPnya.
" Bukankah sekar bekerja disini?" tanya Ana pada Hendra,
" iya ma, tapi dia baru saja pulang, katanya mau menjenguk, kubilang besok saja sekalian kerja," jawab Hendra.
Sekitar tiga puluh menit kemudian seorang dokter masuk bersama seorang perawat,
Pamungkas buru buru bangun dari duduknya.
" Suaminya?" tanya Dokter menatap semua orang bergantian,
" Saya dok?!, saya suaminya," jawab Pamungkas.
" Untuk hasil lab normal, tapi karena kondisi pasien lemah, kami sarankan menginap, untuk berapa lama kami sarankan untuk tiga atau empat hari sampai kondisi pasien benar benar pulih, karena jika pasien terus dalam kondisi lemah, itu akan berbahaya bagi pertumbuhan janinnya," ujar dokter.
" Mohon maaf dok, pertumbuhan apa??" tanya Ana dengan ekspresi ragu dan tidak percaya.
" Pertumbuhan janinnya bu, karena usia kandungan pasien masih 8 minggu jadi masih rentan ya, butuh banyak banyak istirahat.." jawab dokter membuat seluruh orang di ruangan terdiam, Ana menatap Pamungkas dengan mata berkaca kaca, sementara tangannya rapat menutup mulutnya.
Dokter mendekat ke Ratih yang sedang terbaring, memeriksanya sejenak, berbicara tentang hal hal yang penting untuk di perhatikan, kemudian keluar dari ruangan.
Setelah dokter keluar dari ruangan, Ana langsung memeluk Pamungkas dengan haru, begitu pula Hendra.
" Selamat Pam.. Selamat! Bukankah itu keajaiban??" Ana berurai air mata.
" Selamat om, akhirnya doa om terkabul.." ujar Hendra tak kalah haru,
Namun Pamungkas hanya diam sembari mengangguk, ia masih tak percaya dengan yang ia dengar.
" sungguhkah...??" tanyanya dalam hati,
Ia benar benar terkejut, kedua kakinya tiba tiba lemas,
" kau terkejut, duduklah.." Ana dan Hendra membiarkan Pamungkas duduk.
Di pandangi Ratih yang sedang terlelap itu, wajah mungil yang beberapa hari ini di penuhi air mata itu ternyata sedang mengandung buah hatinya, apakah ia sudah tau, atau belum tau.
" Tenanglah Pam, tarik nafas perlahan..
Kami juga terkejut sama sepertimu.." ujar Ana melihat mata Pamungkas berkaca kaca.
__ADS_1
Di raih tangan istrinya, dan di ciuminya dengan perasaannya yang berkecamuk, antara terkejut, senang, dan haru.