Om Pamungkas

Om Pamungkas
khawatir


__ADS_3

Ana sedang sibuk mencuci piring, sementara Ratih sibuk membantu mak karso menyapu halaman belakang.


" Katanya malam malam ndak boleh nyapu mak?" tanya Ratih mengambil plastik besar untuk sampah.


" tergantung niatnya mbak.. Semua itu ada doanya, sampun.. mbak Ratih ke dalam saja.." ujar mak Karso,


" emoh ah mak, aku pingin ngewangi sampean.. Ben sampean iso cepet cepet turu.. Saknoo.. ( tidak mak, aku ingin membantu mak.. Supaya mak bisa lekas tidur.. Kasian..)",


" kasian opo tho.. cuma nyapu mbak, sebentar lagi saya juga istirahat..


Mbak Ratih sama mas Pam tidur disini?" tanya mak Karso,


" pulang lah mak.."


" kenapa ndak tidur sini, saya kangen masakno sampean pagi pagi mbak..",


Ratih tersenyum mendengar itu,


" kalau mas Pam libur saya tidur disini ya mak.. Oh iya, kan mas Pam sering kesini mak..?"


" nggih, sering kesini.. Mbak Sekar juga sering kesini sekarang..",


Deg.. Ratih terdiam sejenak, rasanya tidak enak, tidak senang saat tau sekar juga sering kesini, sebenarnya kenapa perempuan itu sering kesini.


" masa mak?" tanya Ratih hati hati,


" iya mbak, ndak tau ada urusan apa, saya kira nemuin mas hendra, tapi tidak ada mas hendra pun juga sering kesini, mbak sekar itu orang jawa ya, kok bisa bahasa jawa?"


" ah.. Ndak tau mak, katanya aslinya jawa, tapi merantau ikut kakaknya,


Terus.. Kalau disini ngobrol dengan siapa mak?"


" ya sama bapak sama ibu, kalau pas ada suami sampean ya dengan suami sampean.." jawab mak karso polos.

__ADS_1


Tapi mak karso tidak tau, kalau jawabannya itu membuat Ratih merasa tidak nyaman.


Ratih melihat keruang tengah, semua orang sedang berbincang disana, termasuk Sekar.


Dengan langkah malas Ratih malah memilih berjalan ke dapur dan duduk di atas kursi meja makan.


Mamanya yang sedang memanaskan air diam diam memperhatikannya.


" Kenapa lagi? Capek? Tidur disini saja.." ujar mamanya,


" ma?" bukan menjawab Ratih malah memanggil mamanya dengan suara Ragu,


" hemm.." jawab mamanya mengambil gelas dan cangkir.


" Sekar itu sering kesini ma?" akhirnya Ratih bertanya,


" lumayan.." jawab mamanya santai,


" untuk apa? Maksudnya.. Ada urusan apa?"


Tidak ada salahnya kalau dia akrab dengan keluarga kita tohh?" mamanya tersenyum, mengambil sejumput teh hijau lalu meletakkannya kedalam cangkir.


" dia kan orang lain ma, jangan terlalu akrab, Ratih khawatir..." belum selesai Ratih bicara,


" Rat..." Ana memandang putrinya serius.


" apa yang ku khawatirkan tentang Sekar? Selama dia tidak merugikan kita mama tidak bisa mencegahnya datang kerumah ini,


Dari pada mengkhawatirkan sesuatu yang tidak tidak, lebih baik kau yang harus waspada.." ujar mamanya sembari mematikan kompor.


" maksud mama??" Ratih bingung,


" mama mendengar kabar yang tidak menyenangkan dari mantan suamimu,"

__ADS_1


Ratih terdiam, ia tau arah pembicaraan mamanya, pasti kabar yang sempat linda utarakan waktu itu.


" sekarang jelas jelas itu bukan anak kandungnya, apa kira kira Arga tidak akan mencarimu lagi? Berbuat masalah yang mungkin saja bisa menganggu ketentraman rumah tanggamu lagi?"


Ratih tertunduk, ia benar benar tak bisa menjawab.


" Arganta itu ngawur dan nekat, di acara pernikahanmu saja dia berani begitu, apalagi sekarang?".


Tanpa di sadari Pamungkas yang ingin mengajak istrinya pulang mendengar itu dari kejauhan.


Laki laki itu mundur dan menyembunyikan diri, namun terus mendengarkan pembicaraan mertuanya dan istrinya itu sampai selesai.


Sesampainya dirumah Pamungkas bertindak seperti ia tidak pernah mendengarkan pembicaraan antara Ratih dan ibunya.


Ia tetap mendekap dan menciumi istrinya seperti biasanya, tak ada rasa canggung sedikitpun meski ada sedikit rasa tidak senang mendengar nama Arga kembali di sebut.


Ia percaya, apa yang sudah ia lewati dengan Ratih bukanlah sesuatu yang sepele hingga bisa membuat istrinya itu lupa atau goyah.


Cintanya yang begitu besar tidak mungkin tidak terlihat di mata Ratih.


Pamungkas menciumi kening istrinya yang sudah terlebih dulu terlelap itu.


Tubuh kecil yang mungkin saja tidak berdaya jika ia perlakukan dengan seenaknya.


Sekilas muncul bayangan ibunya, perempuan yang penuh cinta namun juga penuh luka..


Laki laki itu termenung seketika, dengan tangan yang mendekap istrinya.


Lalu tak lama muncul kembali bayangan ayahnya, laki laki yang seperti mesin penghancur itu..


Meski sudah berusaha memaafkan, ternyata ingatan ingatan buruknya tidak bisa hilang.


Pamungkas mengeluh..

__ADS_1


Entah sampai kapan ingatan buruk ini menghilang, meski keduanya sudah tidak ada di dunia, tapi ingatan ingatan itu begitu segar.


Hanya saja.. Dadanya kini sudah tidak begitu sesak lagi.


__ADS_2