Om Pamungkas

Om Pamungkas
berat


__ADS_3

Langit mendung, tak ada sedikitpun sinar matahari yang masuk membuat suasana lebih tampak seperti sore menjelang magrib dari pada pagi.


Ratih bisa melihat wajah suaminya yang pucat itu, pandangannya kosong, mulutnya terkatup rapat,


gerahamnya seperti penuh menahan sesuatu.


Tubuh yang lebih tinggi di banding yang lainnya itu terpaksa harus sedikit merunduk di sepanjang jalan,


semua orang sudah melarangnya untuk ikut membopong jenazah ayahnya karena beban akan semakin berat jika ia merunduk sama dengan lainnya, namun entah kenapa ia bersikeras ingin mengantar jenazah ayahnya menuju rumah terakhirnya.


Entah hatinya tiba tiba terketuk atau bagaimana Tuhan menggerakkan hati Pamungkas.


Dengan kopiah putih pinjaman dari om Rusdi, kaos yang ia pakai semalam tanpa ganti, juga kakinya yang tanpa alas itu,


ia berjalan dengan langkah sedikit cepat menyamakan dengan yang lain, meski kakinya melangkah dengan pasti tapi tak ada yang tau bagaimana isi hati Pamungkas, betapa hancur perasaannya, kekecewaannya seakan kandas oleh kepergian Rahmat.


Ratih yang berjalan di belakang para pengusung jenazah hanya bisa sesekali menatap kaki suaminya yang pucat itu juga punggung suaminya dari kejauhan.


" Itu anak Rahmat satu satunya, eh.. kasian mi, baru juga bertemu Rahmat sudah pergi.." terdengar suara seorang ibu ibu bicara di belakang Ratih,


" setidaknya mereka sudah bertemu.." salah satu ibu menyahut,


Lalu setelah itu suasana kembali senyap, tergantikan suara para pengusung jenazah.

__ADS_1


Ratih tertunduk, kembali memperhatikan kaki suaminya yang di penuhi tanah, hatinya ikut pedih.


Setelah pemakaman selesai gerimis tiba tiba turun, di awali dengan hujan yang kecil lalu tiba tiba saja menjadi lebat.


Suara hujan begitu keras, karena beberapa atap rumah terbuat dari seng, berisik.. Membuat orang orang yang sedang duduk di lantai kayu rumah panggung itu hening dan tertunduk.


Rumah ayahnya penuh dengan tetangga dan sanak saudara, mereka berbicara betapa terkejutnya mereka atas kepergian Rahmat padahal ia sakit sudah cukup lama.


Semua orang berbicara bahwa ia memang menunggu putranya satu satunya untuk berpamitan.


Ratih yang mendengar semua perbincangan itu tak mampu menahan kesedihan, ia pamit untuk beristirahat menyusul suaminya dirumah om Rusdi.


Ratih menuruni tangga kayu dengan hati hati, lalu sedikit berlari saat sudah menginjak tanah, ia menghindari hujan dan air yang mulai menggenang di teras.


Setelah masuk tak ia temukan suaminya di ruang tamu atau di ruang tengah.


Ratih berjalan melewati tempat tidur dan menutup jendela yang terbuka lebar karena air hujan mulai masuk membasahi tirai dan lantai.


Diam diam Ratih menatap suaminya sembari menghela nafas dalam, tidak ada hal apapun yang bisa ia katakan pada suaminya itu, entah apa yang di rasakannya Ratih juga tidak tau benar, sudah pasti hatinya sedang patah, kepiluan, kekecewaan dan kehilangan yang tiba tiba Pamungkas rasakan tak bisa Ratih tolong.


Hal ini begitu cepat terjadi, tak lama setelah kebenaran terungkap, kenapa ayahnya memperlakukannya dengan kejam, bukannya lega.. Pamungkas malah kehilangan.


Yang membuat Ratih khawatir justru kediaman suaminya itu, tak adanya satupun air mata yang menetes dari sudut mata suaminya itu,

__ADS_1


Pamungkas diam sediam diamnya saat semua keluarga meratap menangis, ia pun tidak bicara sama sekali meski banyak yang berusaha mengungkapkan kesedihan akan kepergian ayahnya kepadanya.


Pamungkas seperti cangkang kosong yang bisa retak jika disentuh sembarangan untuk saat ini.


Setelah lama Ratih memandangi suaminya, tiba tiba kaki Pamungkas sedikit bergerak.


Ratih tau suaminya itu tidak benar benar tidur, Ratih tau suaminya itu lelah, tapi tentunya tidak mudah untuk tidur dengan perasaan yang berantakan. Ahh.. Ratih mungkin saja tidak akan sanggup menanggung beban perasaan semacam ini jika dirinya berada di posisi Pamungkas.


Ratih berpikir..


Mungkin saja suaminya berusaha lari dari para saudara jauh yang sedari pagi bergantian ingin menemui suaminya, menemui satu satunya keturunan dari almarhum Rahmat yang sudah puluhan tahun tidak mereka lihat.


Ratih mendekat, menyentuh kaki suaminya yang terasa dingin itu,


" Makan sedikit ya mas.. dari kemarin belum makan kan.." ujar Ratih pelan dan hati hati,


" hemm, tidak.." ternyata Pamungkas menyahut,


" nanti kalau lapar aku cari makan sendiri.." imbuh Pamungkas dengan suara berat.


Sehari berlalu, setelah kembali ke makam ayahnya sendirian Pamungkas memutuskan untuk pulang siang ini juga, membuat semua sanak keluarga kecewa, kenapa Pamungkas tidak tinggal lebih lama dengan mereka.


" Saya harus bekerja," itu saja jawaban singkat Pamungkas saat di tanya kenapa kembali cepat sekali setelah kematian ayahnya.

__ADS_1


Ratih hanya bisa patuh, ia tau.. Semakin lam disini, semakin sesak dada suaminya.


Kenangan yang membuat seseorang tiba tiba membisu dan pilu, berpusat di tempat ini.


__ADS_2