Om Pamungkas

Om Pamungkas
ibu


__ADS_3

Seminggu berlalu, Ratih masih tidak berani membicarakan tentang kedua om yang menitip pesan kepadanya.


Suaminya juga terlihat sibuk karena banyak kegiatan, sehingga rencana ke Sarangan pun masih belum bisa terlaksanakan.


Pamungkas membuka matanya tiba tiba,


ia melirik jam,


setengah sebelas malam.


Di lihat Ratih yang lelap disampingnya, di elusnya beberapa kali kepala istrinya itu, demi mengusir keresahannya.


Setelahnya ia bangkit, sembari menghela nafas berat.


Ia bermimpi, almarhum ibunya datang dan duduk di ruang tamu rumahnya.


Anehnya di mimpinya ibunya terlihat masih begitu muda, memakai jaket loreng dan tersenyum, sembari mengangguk pelan pada Pamungkas.


Pamungkas berjalan keluar dari kamar,


mengambil rokoknya dan duduk di ruang tamu.


Baru ia membakar rokoknya, terdengar suara pintu kamar yang tadi di tutupnya terbuka.


Ratih rupanya juga terbangun,


" Kukira sampean kemana.." perempuan itu duduk disamping suaminya.


" Memangnya aku bisa kemana?" Pamungkas balik bertanya, ia terlihat murung.


" Aku mimpi ibu.." ucapnya kemudian pelan, dengan mata menatap langit langit rumah.


" Almarhum mbah uti?" Ratih menegaskan,


Pamungkas mengangguk,


" padahal ibu tidak pernah kesini.. kok bisa ya? apa ibu minta di kunjungi ke kuburan.." suaranya setengah bergumam.


Ratih diam, ia terlihat bingung dan ragu ragu,


" Ibu pakai jaket loreng, jaket ayah dulu..


kalau ayah berhari hari tidak pulang, ibu selalu pakai jaket itu, mau tidur, belanja, mengantarku sekolah.." lagi lagi suara Pamungkas di penuhi getir.


" Dulu, aku mana tau yang namanya cinta,


Sekarang aku tau, yang di lakukan ibu itu ada bagian dari cinta,

__ADS_1


meski ayah menginjaknya, menjambaknya, menempelengnya, ibu tetap memaafkannya.."


" Cinta itu tidak melukai orang yang di cintai mas.." sela Ratih,


" sudah jelas ayahku tidak mencintai ibu kalau begitu.." Pamungkas menatap Ratih.


" Kalau aku sampai begitu, bunuh saja aku..


atau kalau kau tidak sanggup membunuhku, buatlah hidupku sengsara.." lanjut Pamungkas menatap istrinya serius.


" Jangan begitu, kenangan buruk seharusnya membuat mas lebih berhati hati bukan..?" Ratih menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.


" Apa itu bukan pertanda? Kalau ibu menginginkan mas membuang segala kemarahan di masa lalu?" ucap Ratih pelan, dan hati hati.


Pamungkas diam, ia tak menjawab.


" Mas.. Kata om om itu..


ayah mas hanya menunggu kedatangan mas..


dia memohon mohon pada adik adiknya untuk mencari mas dan membawa mas kesana..


Mungkin saja, ada hal yang mau dia sampaikan pada mas untuk yang terakhir kali.." lanjut Ratih, namun suaminya tetap saja diam sembari menghisap rokoknya.


Melihat suaminya hanya diam, Ratih mulai takut untuk melanjutkan kata katanya.


tapi..


menurutku..


mimpi mas tentang mbah uti.. adalah suatu pertanda agar mas merelakan masa lalu.." Ratih lebih berhati hati.


Pamungkas masih tak menjawab, tapi tak lama ia mematikan rokoknya di asbak,


lalu merangkul istrinya,


" Ibu sudah bukan istri ayah..


beliau sudah menemukan bapak,


bapak laki laki baik yang bertanggung jawab dan amat menyayangi ibu..


sungguh tidak pantas di bandingkan dengan ayah kandungku..


kurasa itu hanya mimpi asal asalan karena pikiranku sedang tidak karuan.." ujar Pamungkas, ia tetap mengelak meski hatinya resah.


" Kita bukan membicarakan cinta, dan mana yang lebih baik antara ayah mas dan mbah kung.." sanggah Ratih halus,

__ADS_1


" lalu?" Pamungkas melepas rangkulannya dan menyandarkan punggungnya di sofa.


" Memaafkan atau tidak terserah sampean mas.. tapi janganlah terus terusan menyimpan rasa sakit hati.." Ratih menggenggam jemari suaminya.


" Di laci lemari mas, ada kertas..


Itu titipan dari om mas..


Isinya adalah alamat..


aku sebagai istri hanya memberi masukan, segala keputusan tetap mas yang berhak mengambilnya..


Aku akan menghargai jika memang mas belum mampu menerima..",


Mendengar itu Pamungkas menatap istrinya.


Pamungkas memasuki area pemakaman, setelah berjalan sekitar lima menit, ia berhenti tepat di depan dua makam.


Laki laki itu duduk di samping makam ayah tiri dan ibu kandungnya.


Di taburkannya bunga yang sengaja ia bawa, lalu mengirim doa.


Betapa sayangnya ia pada bapak tirinya, kasih sayangnya sungguh tidak tergantikan bagi Pamungkas.


Andai saja, keduanya masih ada, ia bisa menunjukkan dengan bangga betapa bahagianya dirinya memiliki Ratih sekarang.


" Bapak.. Ibu..." suaranya lirih sembari mengelus batu nisan keduanya.


" Aku kudu yok opo ( aku harus bagaimana ) pak.. Bu..?" laki laki itu tertunduk cukup lama, entah apa yang ia pikirkan.


Yang jelas ia duduk disamping batu nisan sembari tertunduk cukup lama. Beberapa orang yang lewat bahkan tak berani untuk berkata permisi karena Pamungkas duduk di bawah.


Entahlah, dari mana rasa nelangsa lagi lagi timbul,


Rasa sakit akan masa lalunya mendesak desak.


Mencengkeram ingatannya agar semua sakit terasa segar.


" Ora ole (tidak boleh) nangis dek (di) kuburan mas.. " seseorang mengingatkan Pamungkas, sehingga laki laki itu menatap sosok yang sedang berdiri tak jauh darinya itu.


Rupanya anak dari penjaga makam, usianya jauh di bawah Pamungkas.


" Saya tidak menangis," jawab Pamungkas membuang pandangannya ke tanah.


" Meratap juga tidak boleh..",


Mendengar itu Pamungkas menghela nafas lalu bangkit.

__ADS_1


__ADS_2