Om Pamungkas

Om Pamungkas
jinak jinak merpati?


__ADS_3

" Istrimu itu masih kaget.. wajar saja dia begitu..


kau harus mengerti,


kau yang sebelumnya om nya tiba tiba saja menjadi suaminya..


belum lagi kejadian tadi sore..


dia pasti shock.." kata kata Frans masih terngiang di telinganya.


Dengan langkah tenang Pamungkas kembali ke kamarnya.


Perasaan ya sudah jauh lebih baik sekarang,


teman temannya memberinya pengertian dengan baik, karena sedikit banyak mereka lebih mengerti perempuan karena sudah bertahun tahun menikah.


Di buka pintu itu pelan, jika Ratih masih bangun ia berencana meminta maaf atas tindakannya yang sedikit kasar dan acuh.


Tapi ternyata perempuan itu sudah tertidur,


Pamungkas mendekat, terlihat bekas air mata,


sepertinya Ratih belum lama tertidur.


Tangannya ingin membelai Ratih, tapi ia takut malah akan membangunkannya.


Di urungkan niatnya,


Di selimuti tubuh Ratih yang ringkih itu.


Pamungkas bisa melihat dengan jelas tiap lekuk tubuh yang di balut gaun tipis itu,


dalam hatinya mengeluh,


ingin sekali ia mendekap, memeluk, tapi rupanya Ratih masih belum bisa meruntuhkan dinding perasaan yang menguasai Ratih.


Jika benar apa yang Frans katakan, perempuan yang sudah menjadi istrinya ini,


yang sedang tergolek lelap di hadapannya ini,


masih mempunyai trauma dan ketakutan akan pernikahan karena kegagalan pernikahan pertamanya.


Benar.. Pamungkas harus memberinya waktu.


Pamungkas turut membaringkan dirinya disamping Ratih.


Mencoba untuk tidur meski sesungguhnya terlalu sulit untuk tidur.


Keesokannya Kantor Ramai, semua berita sudah menyebar luas.


Tapi Pamungkas di larang untuk datang ke kantor, ia boleh meneruskan ijin tiga harinya.

__ADS_1


Komandan Berjanji akan mengurus semuanya dengan adil dan sesuai prosedur.


Banyak telfon yang masuk, menyatakan penyesalannya atas apa yang terjadi.


Tapi Pamungkas terlihat malas menanggapi,


semakin banyak yang bertanya, semakin sakit hatinya.


" Ada tamu mas.." mak Karto naik ke kamar Pamungkas.


" Siapa?" tanya Pamungkas menaruh tasnya yang terisi baju penuh.


" Mas turun saja.. bapak, ibu dan mbak Ratih juga sudah di bawah.." Pamungkas heran,


" itu tamuku atau tamu istriku mak?" tanya Pamungkas lebih jelas.


" Tamu sampean dan mbak Ratih.." jawab Mak Karto lalu mundur pergi.


Pamungkas sesungguhnya enggan, hari ini ia tak ingin mendengar yang aneh aneh.


Tapi demi kesopanan ia tetap turun ke bawah.


Suasana ruang tamu yang sudah tegang, bertambah tegang setelah Pamungkas datang.


Laki laki itu duduk dengan tenang, namun wajahnya datar.


" Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pamungkas seakan tak tau.


Tidak hanya Pamungkas yang terkejut, tapi semua orang yang ada di ruangan.


Pamungkas bangkit dan menjauh, matanya langsung mencari sosok istrinya yang duduk disamping mamanya.


Ratih tertunduk dalam, tak menatap Pamungkas sama sekali.


" Kalau mau bicara bicara saja bu, jangan bertindak berlebihan,


saya tidak suka." tegas Pamungkas dengan nada tenang.


" Mbak? mas? bicara saja yang benar, Pamungkas orang yang bijaksana.. tidak perlu sampean sampai begitu demi Arga yang sudah menjatuhkan harga diri kalian itu?" Ujar Ana pada mama Arga.


" Saya mohon.. memang tidak pantas saya memohon atas kesalahan Arga, dia sudah sangat keterlaluan pada mas Pamungkas dan Ratih..


tapi saya tetap seorang ibu..??" mama Arga tetap tidak mau bangkit.


" Kalau ibu memohon agar putra ibu tidak di tindak tentu saja tidak bisa, itu bukan wewenang saya, dan apa yang dia terima sekarang sudah sesuai prosedur." jelas Pamungkas tegas.


" Tidak masalah apapun mas.. yang penting tidak di pecat saja mas..?" ibu Arga masih belum menyerah.


Pamungkas lagi lagi menatap istrinya, ia sungguh lelah menghadapi orang tua Arga.


" Tindakan putra njenengan sudah termasuk melawan atasan,

__ADS_1


yang dia maki maki di acara pernikahan saya juga perwira menengah semua. jadi saya sendiri juga bingung bagaimana cara menyelamatkan mantan suami istri saya itu." Ratih menatap Pamungkas, terlihat sekali laki laki itu masih di balut amarah yang belum reda.


" Komandan melarang saya untuk datang ke kantor, jadi saya sungguh sungguh belum tau keputusan komandan.


Kemungkinan Arga masih di disiplinkan sekarang.. atau malah sudah di sel." Pamungkas sesungguhnya iba dengan kedua orang tua itu, tapi mengingat putranya yang kurang ajar, rasa iba itu pergi.


" Jika saya mengasihani dia, apa njenengan mau berjanji?" tanya Pamungkas.


" Janji apa itu mas??"


" jangan sampai, bahkan seumur hidupnya, menampakkan wajahnya di hadapan istri saya lagi.


Jika.. sekali saja dia melanggar, jangan salahkan saya atas apapun yang terjadi nanti pada Arga." tegas Pamungkas


Setelah papa dan mama Arga pergi Pamungkas langsung naik ke kamarnya, raut wajahnya datar, namun bukan berarti tidak menyimpan kemarahan.


Laki laki itu membuka jendela kamar, lalu menyalakan rokoknya.


Tak lama Ratih masuk,


" Ayo makan dulu..?" ajak Ratih yang berbaju ungu muda itu, rambutnya tergerai panjang.


" Makanlah.. aku sedang tidak lapar," jawab Pamungkas tak menoleh, ia tetap menghadap jendela.


" Mau makan di luar?" tanya Ratih mendekat.


" Sudahlah.. makanlah dulu," ujar Pamungkas.


Ratih yang merasa bersalah karena sejak kemarin banyak masalah menarik ujung baju suaminya.


laki laki bertubuh tinggi itu tentu saja menoleh.


" Haduhh.." keluhnya gemas, di matikan rokok itu.


" Sudah kubilangkan tadi, makanlah duluan.." Pamungkas berbalik dan menatap Ratih.


" Kita pulang saja kalau begitu?" Ratih lebih mendekat, lalu menjatuhkan dirinya di dada pamungkas.


Perempuan itu ingin menenangkan hati suaminya, meski tidak bisa membuatnya tersenyum, setidaknya kemarahannya berkurang.


Ia sadar benar, sejak kemarin, ia tak pernah membahagiakan hati om yangs sekarang menjadi suaminya itu.


Pamungkas termanggu, perempuan yang semalam menolaknya kini malah menjatuhkan dirinya.


Apa ini, jinak jinak merpati?


mau tapi tak mau?.


Tangan Pamungkas melingkar di pinggang Ratih.


" Jangan menggoda, kalau kau lari lagi nanti aku marah.." ucap Pamungkas lirih.

__ADS_1


__ADS_2