
" Aku minta maaf, aku yang salah.." ucap Ratih pelan, dengan kepalanya yang masih tersandar tenang di dada Pamungkas.
Pamungkas tertegun, istrinya tiba tiba saja meminta maaf.
" Kenapa meminta maaf?" tanya Pamungkas setenang mungkin.
" Aku salah..
aku sudah tidak jujur padamu mas.." Ratih menyembunyikan wajahnya.
Pamungkas mudur, di hela wajah istrinya agar mudah di pandanginya.
" Coba kudengarkan?" kata Pamungkas sembari menatap Ratih lekat lekat.
" Aku tidak jujur kalau sudah bertemu dengan Arga, tapi sungguh.. aku tidak sengaja??",
" aku tau kau tidak sengaja," sahut Pamungkas,
" tapi kenapa kau tidak jujur dan malah menyembunyikannya?" tanya Pamungkas sabar,
" Karena ku takut mas berkelahi dengannya..
aku takut mas terlibat masalah??" jelas Ratih dengan tatapan sayunya,
" Sudah kupukuli dia," ucap Pamungkas sembari menghela nafas, sesungguhnya ia tidak ingin memberitahu istrinya, tapi ia takut akan ada kesalahpahaman yang baru.
Di tunggu wajah terkejut istrinya, tapi tak di dapatkannya,
" aku sudah tau.." ujar Ratih sembari membelai wajah suaminya.
" Aku yang salah mas.. karena aku mas menahan emosi dan sakit hati..
jika mas menikahi perempuan selain aku, mungkin hidup mas tidak akan serumit ini.."
" huss..! ngomong apa?!" Pamungkas meraih tangan Ratih yang membelai wajahnya dan mencium tangan itu lembut.
" Jadi bagaimana? masih mau aku memilih?" tanya Ratih,
Pamungkas menggeleng pelan,
" Tidak yang.." jawab Pamungkas sembari memeluk istrinya, panggilan yang,
Yang sudah lama tidak terdengar, kini mulai terdengar lagi.
" Jadi.. permintaan maafku sudah di terima?" tanya Ratih saat Pamungkas melepaskan pelukannya.
" Aku juga minta maaf.." balas Pamungkas,
" mas tidak bersalah.."
" iya aku bersalah.. aku sudah banyak bersikap kasar padamu.."
" kasar?"
__ADS_1
" iya.. aku marah..
aku marah padamu karena aku tidak sanggup membayangkan kau di sentuh laki laki lain,
aku juga tidak sanggup membayangkan akan kau tinggalkan suatu saat..??" ujar Pamungkas serius.
" Tidakkah mas berpikir terlalu banyak?"
" tidak banyak, tidak berlebihan juga, karena Arga bilang kalian masih saling mencintai, dan aku hanya menjadi penghalang.."
" Mas percaya??" Ratih memandang serius suaminya.
Pamungkas diam, laki laki yang masih belum memakai pakaiannya dan hanya tertutupi selimut itu malah mengalihkan pandangannya, seperti tidak ingin menjawab pertanyaan istrinya.
" Astaga.. bisa bisanya percaya?"
Ratih mencubit perut Pamungkas lalu memelintirnya,
" aduh..!" Pamungkas meringis kesakitan,
" Aku tidak percaya, tapi hatiku sakit mendengarnya?" ujar Pamungkas cepat.
" Tidak percaya tapi setelahnya kau perkosa istrimu??"
" Kau merasa ku perkosa?"
" tentu saja!"
" apa kabar dengan gaun tidurku yang rusak?
Dan tubuhku yang sakit disana sini keesokan harinya?!"
Pamungkas diam, ia menyadari kesalahannya.
Melihat suaminya yang diam, Ratih bangkit, hari sudah mulai malam, lampur teras dan halaman depan belum di nyalakan.
" Kemana?" Pamungkas tak mengijinkan Ratih pergi, tangannya erat di pinggang Ratih.
" Sudah gelap, lihat halaman depan?" jawab Ratih.
" Biar saja, nanti.." kata Pamungkas masih tidak mau melepas Ratih.
Pamungkas menyalakan lampu terasnya setelah jam tujuh malam,
laki laki itu benar benar tidak mengijinkan istrinya bangkit dari tempat tidur.
" Tidak usah masak, pesan makanan saja.." Pamungkas kembali masuk ke kamar.
" Padahal tinggal masak sebentar.." Ratih masih rebahan dengan gaun tidurnya.
" Sudah.. disitu saja.." ujar pamungkas mengambil HPnya dan memesan beberapa makanan lewat aplikasi online.
Setelah memesan laki laki itu kembali ke atas tempat tidur,
__ADS_1
Memeluk istrinya di sana sini.
" Om.." panggil Ratih, membuat Pamungkas menatapnya tidak senang.
" Am, om, am, om!" protes Pamungkas,
Ratih tertawa,
" ayo ke sarangan.." Ratih mengecup bibir suaminya,
yang di kecup bibirnya senang, dan membalas dengan ciuman.
" Coba aku tanyakan jadwal dulu, minggu minggu ini di kantor banyak kegiatan soalnya.." jawab Pamungkas setelah bibirnya lepas dari bibir Ratih.
" Kalau sedang luang saja.."
" memangnya.. Kenapa tiba tiba mengajak ke sarangan?"
" senang saja dengan situasi disana..
Apalagi..
Disana pertama kalinya mas menciumku.."
Pamungkas tersenyum, tersipu.
Ratih berhasil membangkitkan kenangannya saat itu,
Senang bercampur malu, tak bisa ia ungkapkan.
" Mana tau kalau setelah itu kau jadi istriku yang.." ujar Pamungkas,
" mana tau juga kalau setelah itu, om lebih berani dan suka menciumiku di sembarang tempat.." ejek Ratih membuat suaminya itu malu,
" Huss..!"
" huss apa? Memang iya.. untung jadi suami,"
" Kalau tidak?"
" kalau tidak ya ku laporkan,"
Pamungkas tertawa lepas mendengarnya, lalu berkata,
" laporkan saja, aku menunggu di laporkan, supaya aku di paksa tanggung jawab.."
" ihh..!"
" ihh apa? nyatanya kau juga senang kucium.." Pamungkas gemas, di rengkuh tubuh kecil istrinya itu.
" Jangan cemburu cemburu lagi ya?"
" cemburu kok di larang?" sahut Pamungkas tidak ada habisnya menciumi Ratih.
__ADS_1