
" Setelah tau kebenarannya, hanya penyesalan yang kutemukan..
Aku mengambil cuti, kembali kejawa mencari kalian..
Tapi aku menemukan kenyataan pahit bahwa ibumu sudah di nikahi laki laki lain,
Laki laki kaya yang usianya jauh di atas ibumu..
Beberapa kali aku mengintipmu saat pulang sekolah,
kau tampak sehat dan baik saat keluar dari mobil yang sampai pensiunpun mungkin aku tidak akan mampu membelinya,
Ibumu pun tampak terawat dan jauh lebih cantik..
Rasanya diriku yang hina ini sudah tidak pantas menunjukkan wajah lagi di hadapan kalian,
Karena itu aku hidup tanpa menganggumu dan ibumu lagi..
hidupku berat nak.. amat sangat berat saat tau bahwa ibumu sama sekali tidak bersalah,
penyesalan mencekikku setiap hari, dan aku hanya bisa mabuk untuk melupakan semua itu, menghancurkan diriku sendiri.." laki laki tua itu menangis sejadi jadinya.
Sementara Pamungkas hanya bisa mematung sembari menahan bahunya agar tidak berguncang hebat pula.
air matanya meleleh tanpa bisa ia kendalikan di hadapan para om dan tantenya.
Ratih memeluk suaminya, ia saja tidak sanggup mendengar apalagi suaminya, entah seberapa tersiksa hatinya, apalagi saat tau bahwa semua penderitaannya semasa kecil di akibatkan kebodohan pikiran ayahnya sendiri.
" Kau laki laki paling bodoh yang pernah ada, kau membuang anak dan istrimu hanya karena kesalahpahaman yang belum tentu benar,
Kau perlakukan aku sampai sebegitunya hanya karena pikiran kotor yang kau kembangkan sendiri, bukankah ini luar biasa.. Semakin besar saja kebencianku padamu..!" Pamungkas bahkan tak sanggup lagi berkata kata keras, kekecewaannya akan kenyataan yang sesungguhnya membuatnya lemah.
__ADS_1
Air mata yang lama tak tumpah sebanyak ini, kini tumpah tanpa perduli, ia bahkan tak sadar tubuh istrinya sedang erat memeluknya.
" Sesungguhnya aku tidak pantas meminta maafmu nak.. Tapi hanya itu yang tersisa dariku..
Setidaknya maafkan aku untuk dirimu sendiri..
Maafkan aku agar kau terbebas dari dendammu padaku..
Hiduplah dengan baik nak.. Hiduplah dengan baik.." ujar Rahmat dengan sisa tenaganya lalu jatuh menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur kembali,
" Maafkan aku nak.. Maafkan aku.." ujarnya lirih dengan mata yang tertutup karena kelelahan menangis dan bicara.
Pamungkas tak menjawab, di hapus air matanya dengan sekali usapan di wajah, lalu dengan pandangan nanar ia menatap om dan tantenya yang hanya bisa diam, beberapa diantaranya terlihat ikut menangis.
Tapi hal itu tidak membuat Pamungkas merasa iba dengan mereka.
" Sudah cukup kami disini, setelah mengetahui semua kebodohan ini aku semakin tidak sanggup untuk tetap tinggal." suara Pamungkas lirih namun tajam.
Melihat itu nyeri melintas di hati Pamungkas, ia kasihan tapi juga marah, tak ada yang bisa ia lakukan selain segera pergi dari tempat itu, kekecewaan menikamnya semakin dalam.
Tak ada seorangpun dapat mencegah keputusan Pamungkas untuk pergi, semua orang tau ia menanggung kekecewaan yang besar pada ayahnya.
Ratih mengejar langkah suaminya, menuruni tangga kayu,
" apa tidak besok saja kita pulang?" tanya Ratih tergopoh gopoh karena langkah suaminya yang cepat.
" Aku sudah tidak sanggup berlama lama disini Ratih, kenyataan yang kudapat membuatku semakin marah dan kecewa, tidak mengertikah kau dengan apa yang kurasakan sekarang?!" tegas pamungkas membuat istrinya itu beringsut mundur,
Ratih tiba tiba saja takut pada sosok suaminya yang mungkin bisa kapan saja meledak karena amarah yang di tekan sedemikian rupa.
" baiklah, aku akan membereskan barang barang kita.." Ratih berjalan terlebih dahulu melewati Pamungkas.
__ADS_1
Ratih mempacking semua pakaian mereka tanpa bertanya lagi.
Suaminya itu duduk termenung sembari merokok di ruang tengah tepat depan pintu kamar yang mereka tempati.
Ratih bisa mendengar dengan jelas helaan nafas yang dalam, bahkan helaan itu di sertai sesak.
Oh kasiannya.. Pikir Ratih, Ratih mengira pertemuan ini akan berakhir dengan kebahagiaan dan keikhlasan,
Ratih menggeleng pelan, tidak sanggup lagi berpikir, ia sudah cukup pusing melihat wajah suaminya yang penuh kekecewaan.
" mas tidak ganti baju?" tanya Ratih pada suaminya yang hanya berkaos coklat dan bertraining panjang hitam itu.
" aku begini saja, kalau dingin aku pakai jaket nanti di jalan," jawab Pamungkas lirih dengan matanya yang tak henti memperhatikan pintu masuk.
Laki laki itu terlihat bingung dan bimbang, entah apa yang sesungguhnya di rasakannya, bahkan sebagai istripun, Ratih takut salah memahami.
Tiga puluh menit lebih sudah berlalu, Ratih sudah siap.
" Sudah semua?" tanya Pamungkas melihat istrinya sudah mengganti baju.
" Sudah mas.." jawab Ratih pelan,
" Ya sudah, biar aku minta tolong ke om Ruslan untuk mengantar kita ke jalan mencari bus," Pamungkas bangkit, tapi tak lama ia bangkit, ia mendengar sebuah tangisan yang keras,
Ratih dan Pamungkas bahkan sampai beradu pandang heran.
Hingga akhirnya suara tangis itu semakin jelas, di sertai suara derap langkah setengah berlari.
Ratih terbelalak karena sadar itu suara tante Rapuni.
Dan benar saja tante Rapunilah yang berlari masuk ke dalam rumah dengar air matanya yang tak terbendung.
__ADS_1
" Ayahmu sudah tidak ada Pamungkas..!" ujar tante Rapuni pada Pamungkas, perempuan tua itu bahkan tak beralas kaki.