Om Pamungkas

Om Pamungkas
mantanmu?


__ADS_3

Seminggu kemudian, tepatnya hari sabtu,


Pamungkas memutuskan untuk menjemput istrinya setelah dari bengkel.


Ia masih di luar cafe, tapi ia sudah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan untuknya.


Laki laki yang ia lihat minggu lalu, sekarang disini lagi.


Namun ia berpakaian santai, ta berkemeja dan rapi seperti kemarin kemarin.


Ia terlihat berbincang hangat dengan Ratih.


Bahkan keduanya tertawa berkali kali.


Pamungkas jadi enggan masuk, istrinya tidak pernah tertawa selepas itu saat bersamanya, tapi kenapa dengan orang lain dia begitu?.


" Lho? kok tidak masuk mas?" suara Iwang mengagetkannya.


" Oh..? Kebetulan aku akan masuk.." jawab Pamungkas ragu.


" Ayo ngobrol dengan saya, mumpung ketemu..


Di traktir kopi sama suami pemilik cafe saya juga mau.." Iwang tersenyum lebar lalu membuka pintu.


Ratih sedikit kaget melihat Iwang dan suaminya masuk bersamaan,


" Seperti orang janjian saja?" Ratih bangkit.


" Ketemu di depan pintu Rat.." jawab Iwang,


" owalah.. Mas dari bengkel?" tanya Ratih menarik tempat duduk untuk suaminya.


" Iya," jawab Pamungkas pendek, ia duduk bersebelahan dengan Iwang.


" Oh ya?, mas.. Ini temanku, namanya Bayu.." Ratih memperkenalkan Bayu,


" dan Bay.. Ini suamiku, mas Pamungkas.." Ratih tersenyum, keduanya juga tersenyum dan berjabat tangan.


" Kalau yang di sebelah suamiku ini teman baikku.. sekaligus guru tariku," tak lupa Iwang juga di perkenalkan.


" Saya baru pindah kesini sekitar dua bulanan.." ujar Bayu di tengah perbincangan.


" Bekerja di dekat sini?" tanya Pamungkas,


" yah.. Di hotel itu, dekat sekali, terlihat dari sini.. saya bekerja sebagai chef.." Bayu tersenyum sembari menunjuk bangunan hotelnya yang megah.


Memang terlihat jelas dari jendela cafe Ratih.


" Wah.. Boleh kapan kapan kami di undang untuk mencicipi masakan mas Bayu.." goda Iwang,

__ADS_1


" Oh, tentu saja.. saya juga bermaksud untuk mengundang Ratih dan suami, jika berkenan.." Bayu ingin membangun ke keakraban dengan Pamungkas, namun Pamungkas nya datar datar saja dan hanya tersenyum seperlunya.


" Kalau memang di undang tentu saja kami akan datang.. tidak ada alasan untuk menolak, asal waktunya tepat.." sahut Pamungkas.


" Saya akan mencari hari yang tenang untuk mengundang njenengan beserta Ratih, mas Iwang juga pastinya.." Bayu tersenyum sembari menyilangkan kakinya.


" Yunda tidak kau undang?" celetuk Ratih,


" Yunda? Boleh.. Kau hubungi saja dia, sekalian.." sahut Bayu.


" Biar dia membantumu memasak sebelum kami datang,"


" ah, tidak usah.. aku sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, Yunda hanya akan membuatku kebingungan.." jawab Bayu menatap Ratih sekilas sembari tersenyum manis.


Pamungkas diam, sesekali ia meminum kopinya.


" Saya permisi sebentar, ke kamar kecil.." Pamungkas bangkit dan berjalan ke arah dapur cafe.


" Sana, ikuti suamimu.." ujar Bayu,


" suamiku sudah hafal letak kamar mandi," jawab Ratih.


" Mungkin dia lapar Rat, buatkan makanan dulu sana.." celetuk Iwang,


" nah.. Itu, dasar.. tidak peka.." Bayu menimpali.


Ratih menoleh,


" Siapa?"


" Laki laki yang tadi di cafe," Pamungkas menatap layar TV.


Ratih diam, cukup lama.


" Mantanmu kan?" Pamungkas menunggu jawaban.


" Tidak," jawab Ratih pendek,


" kok tidak?"


" kok pertanyaannya seperti itu?"


" karena tak ada teman yang menatap temannya seperti itu?"


" menatap seperti apa?, astaga mas.. kemarin kemarin Iwang, sekarang Bayu?"


" Tatapan Iwang sudah berubah, tidak seperti dulu,


Tapi laki laki itu, seakan akan pernah memiliki hubungan yang lain denganmu?"

__ADS_1


" cemburu boleh, tapi jangan menuduh?" Ratih menatap suaminya tak percaya.


" Aku peka terhadap orang orang yang menyimpan perasaan pada istriku.." jawab Pamungkas masih tenang.


" Maumu apa yang? kok cari salahku terus? Itu kan cafe, taman baca.. Banyak orang disana,


Tentu saja banyak orang atau bahkan temanku akan sering datang kalau tempat itu dirasa nyaman?" jelas Ratih.


" Diam dirumah, serahkan cafe pada orang lain, datanglah tiap tiga hari atau satu minggu untuk memantau," tegas Pamungkas dengan nada tenang.


" Astaga yang? kok makin kesini makin begini?"


" Aku tidak suka istriku banyak bicara dan tertawa dengan laki laki lain, aku juga tidak suka caranya menatapmu."


Ratih diam, perasaannya luar biasa kesal.


" Apa kurang penghasilanku perbulan? Kalau kurang aku akan cari pemasukan lain, asal kau tidak setiap hari datang ke cafe." imbuh Pamungkas membuat hati Ratih makin bergemuruh.


" Sekalian saja ikat aku dirumah,"


" aku tidak mau menyakitimu, ini demi kebaikan kita," nada pamungkas sedikit menurun.


" Aku yang harusnya paranoid, bukan sampean,


tingkah sampean seperti aku ini bisa kepincut dengan laki laki manapun?,


aku sudah bilang sejak awal,


aku ini korban dari pengkhianatan, mentalku juga terganggu sedikit banyak karena hal itu, aku butuh melakukan hal hal positif yang kusenangi?


aku sudah manut saat sampean mengatakan aku tidak boleh menari lagi,


Dan sekarang aku mulai di larang mengelola cafe karena sampean takut dengan para laki laki yang datang kesana?"


Pamungkas diam.


" Aku tidak pernah menyembunyikan suamiku, semua pelanggan di cafe tau benar siapa suamiku,


Aku juga selalu menjaga martabatku sebagai istrimu,


aku berbincang dan menyapa sepatutnya,


kalau aku bercanda itu karena dia teman teman baikku dulu?"


Pamungkas masih diam,


" Aku tidak berbuat kesalahan apapun, jangan tekan aku dengan kecemburuan yang berlebihan itu?"


Pamungkas bangkit, tak menjawab apapun dan berlalu begitu saja meninggalkan Ratih yang masih duduk sembari menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2