
Ratih menarik kaos Pamungkas,
" sepertinya om lupa lagi ya?" Ratih berjinjit agar suaranya yang lirih terdengar oleh Pamungkas.
Pamungkas yang terkejut dengan sikap Ratih hanya diam dan patuh meski kaosnya di tarik.
" Om sudah janji kan? kenapa sekarang om melewati batas lagi?" Ratih yang mungil itu terlalu dekat, membuat Pamungkas tidak bisa berpikir benar.
Bukannya mundur Pamungkas malah menundukkan kepalanya, bibirnya ingin meraih bibir mungil di hadapannya.
" Om mau kutampar ya?" Ratih mengalihkan wajahnya sehingga bibirnya tidak bertemu dengan bibir Pamungkas.
" Kalau mau teman tidur cari perempuan lain om, jangan keponakanmu.." Ratih masih berusaha menyadarkan Pamungkas yang mabuk akan dirinya itu.
" Tampar saja aku Rat, biar laki laki tua ini sadar.." Pamungkas memejamkan matanya dan bersandar di pundak Ratih.
" Makin kutahan semakin besar perasaanku..
apa aku memang harus segera mencari tante untukmu?"
Ratih membeku, ingin menghindar tapi tubuhnya tetap diam.
Adi yang tadi berniat ke dapur untuk mengambil piring dan pisau entah kenapa mengurungkan niatnya.
Wajahnya terlihat kaku dan tegang,
" Lho mana pisau sama piringnya pa?" tanya Hendra,
" sudah nanti saja, mamamu mana?" tanya Adi duduk di sofa.
" Mama ikut kerumah pak Agus, di sana pa.." ujar Hendra menunjuk arah selatan.
Mendengar itu Adi tak bertanya lagi, ia diam sediam diamnya,
matanya terus menatap lantai rumah.
Seminggu berlalu semenjak Pamungkas pindah,
setiap sabtu Pamungkas ikut membantu di bengkel, sembari memeriksa administrasi bengkel.
Sudah ada satu orang yang ia pekerjakan sebagai admin, tapi tetap saja, Pamungkas ingin menelitinya sesua ia dengan jumlah barang yang ada.
Sedangkan Hendra di percaya sebagai mekanik yang membawahi enam orang montir.
dalam beberapa hari bengkel itu mulai di datangi banyak orang,
__ADS_1
selain karena Hendra yang sebelumnya memang sudah di kenal cermat dan teliti pada mesin mobil,
nama Pamungkas sebagai pemilik juga memberi nilai plus, orang orang jadi lebih mempercayai hasil kerja para montir.
Hari sabtu bengkel hanya beroperasi setengah hari.
Pamungkas mempercayakan para montir yang menutup bengkelnya.
" Mau kemana om?" tanya Hendra melihat omnya itu sibuk membawa cake dan bersiap naik motornya.
" mau ikut?" tanya Pamungkas memakai helm fullfacenya.
" kemana?" Hendra yang sudah menganti bajunya itu mendekat,
" ah.. ikut saja.. sana, pakai pomade sama parfum dulu.." Pamungkas melempar senyum.
" ah.. serius om, kemana?" tanya Hendra ragu,
" main ke kost cewek.."
" ahh..?!! pacar om?! bukannya om sudah punya calon yang katanya anak komandan itu?!" protes Hendra.
" Tidak.. aku tidak akan menikah dalam waktu dekat,"
" kau mau ikut tidak? aku harus menjenguk adik temanku,"
" masih gadis om?"
" masih lah.. perawat.."
Hendra langsung tersenyum,
" Wahh.. kalau kost kan berarti gadisnya setumpuk ya om? ayo dah, siapa tau ada yang nyantol satu.." Hendra mengambil kunci mobilnya.
" Eh.. naik motor saja, boncengan dengan om?"
" ah.. kok boncengan dengan om? kan ada mobil?"
" Kesan pertama itu penting Hen,"
" karena itu kita pakai mobil?"
" salah.. karena itu jangan tunjukkan mobilmu.." ujar Pamungkas.
Hendra pulang dengan wajah yang sumringah,
__ADS_1
" tidak makan le?" tanya Ana pada putranya yang baru saja masuk rumah.
" Sudah makan ma sama om Pam.."
" makan dimana? senang sekali sepertinya?"
" iya dong ma.." Hendra duduk disebelah papanya yang sedang menonton TV.
" seperti orang pacaran saja kelakuanmu.." guman papanya,
" lhaa... papa peramal?" Hendra tertawa,
papa nya langsung menoleh,
" kau pacaran tadi?" tanya Adi serius, ekspresi papanya itu kurang baik sejak pulang dari rumah Pamungkas.
" Belum pah.. tapi tadi om Pam ajak Hendra ke kostnya perawat perawat..
Hendra ada yang sreg sih pa..
tapi kan baru kenalan.." jelas Hendra.
" Pamungkas membawamu ke kost perempuan? Pamungkas punya pacar?" tanya Adi serius, wajahnya berubah muram.
" ke tempat adik temannya pa.. soal pacaran mana Hendra tau.. om Pam kan tidak pernah cerita..?" jawab Hendra membuat papanya mematikan TV tiba tiba dan beranjak pergi begitu saja.
" Lho? sudah tho nontonnya pa??" tanya Hendra heran,
" sudah, jangan di ganggu, mood papamu sedang tidak bagus beberapa hari ini, entah kenapa mama juga tidak tau.
Apel siang sedang berlangsung, Pamungkas berdiri di belakang Komandan bersama para perwira lainnya.
Pamungkas yang sedari tadi diam karena dia baru pindah dan belum faham dengan permasalahan yang terjadi di lingkungan kantor,
menangkap sosok yang ia kenal.
Pamungkas memencet pangkal hidungnya,
" khemmm.." dehemnya pelan, menyingkirkan perasaan tidak senangnya.
Setelah apel berakhir Pamungkas tetap diam di tempat, ia mengawasi para anggota satu persatu bubar.
" Ayo masuk?" ajak salah satu teman satu ruangannya.
" Sebentar, saya ingin menyapa seseorang.." jawab Pamungkas tersenyum ramah.
__ADS_1