
Pamungkas turun di bandara militer malang,
kabut tipis menyambutnya, hawa dingin yang tak di dapatkannya di tempat dinasnya yaitu di luar jawa,
kini ia rasakan di tempat kelahirannya ini, jika sebelumnya ia pulang hanya untuk cuti dan sekedar keperluan beberapa hari,
maka saat ini ia benar benar sudah kembali, dan akan menetap, dia akan mengusahakan itu.
Entah kenapa sore ini cuaca begitu menusuk, membawa perasaan kehilangan akan teman temannya semakin pekat, berkali kali Pamungkas menghela nafas, entah apa yang ia rasakan, sedih atau senang.
Dengan jemputan orang dalam ia memutuskan langsung menuju kerumahnya.
Rumah yang juga tak kalah dingin hawanya karena terletak di pinggiran kota,
rumah yang masih berjarak lima puluh meter dengan tetangga itu terlihat sedikit hangat karena pak Agus sudah memberi lampu lampu kecil di halaman.
" Ijin, semua barang sudah saya pindahkan ke dalam.." ujar laki laki muda yang di tugaskan menjemput Pamungkas.
" Ya sudah, sampaikan terima kasihku pada bang Irwan," Pamungkas memberi dua lembar uang seratus ribuan.
" Ijin, tidak usah.. nanti saya di marahi bapak?"
" eh.. itu untuk kau beli rokok, sudah bawa saja," ujar Pamungkas tersenyum santai.
Setelah si penjemput pergi Pamungkas melepas sepatunya, ia berjalan keruang tamu dan ruang tengah yang ber keramik putih itu.
Semua masih kosong melompong,
tak ada kursi, tak ada meja, tak ada apapun, bahkan tempat tidurpun tidak ada.
Yah benar..
ia tidak sempat untuk membeli perabot rumah.
Mungkin malam ini ia memang masih harus tidur dirumah kakaknya, sekalian ia berpamitan untuk tinggal dirumahnya sendiri setelah resmi pindah tugas disini.
Malam menjelang saat Pamungkas sampai dirumah Adi.
Ia tampak segar karena setelah mandi langsung berangkat,
rambutnya terlihat masih tipis karena baru saja di rapikan, bau pomade rambutnya yang segar masih pekat karena terlindungi helm.
Laki laki itu memakai sweater abu abu tua dan training hitam bergaris, hawa dingin benar benar menyapanya dengan baik.
Sesuai dengan apa yang sudah di prediksi oleh Pamungkas, kedua kakaknya itu tidak pernah setuju dengan pilihannya untuk tinggal sendiri, apalagi jarak rumah Pamungkas sedikit jauh.
" Kau ini apa apaan Pam?!" Adi terlihat kesal,
" meski kau sudah punya rumah tapi janjimu kan tetap tinggal disini?!" Adi protes terhadap adiknya.
" Lama lama rumahku jadi rumah hantu mas..
buat apa aku beli rumah kalau tidak ku tempati?"
" lalu yang menjaga anak anakku kalau aku mati nanti siapa?!"
__ADS_1
" huss?! ngomonge sing apik mas...?( ngomongnya yang bagus mas..?)
mas iku sehat ( mas itu sehat)..
masih seratus tahun lagi umurnya.." Pamungkas menghibur Adi.
" Wes aku nggak mau tau Pam, awakmu kudu sering rene?! ( sudah aku tidak mau tau Pam, kamu harus sering kesini?!)" tegas Adi,
" Makan tetap disini yo pam, kan rumahmu satu arah, dan lebih dekat dari rumah ini ke kantormu dari pada rumahmu sendiri toh?" Ana menyela.
" Wah.. bisa menghemat pengeluaran dapur kalau saya makan disini terus mbak.." Pamungkas tertawa,
" bujang rasah rewel.. wes pokoknya meski sehari sekali sempatkan makan disini..?"
" iya mbak.. di usahakan, kalau baru pindah begini ribet.." jawab Pamungkas tenang.
Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam, di luar gerimis.
Pamungkas masih berbincang dengan Adi di ruang tengah saat Ratih tiba tiba masuk kedalam rumah.
" Ratih? kau hujan hujan lagi?" Adi menegur putrinya,
" Tidak pa, gerimis sedikit, mau pakai jas hujan malas.." jawab Ratih melirik Pamungkas, sementara Pamungkas malah sibuk memandang TV, tak memandang keponakannya itu sama sekali.
" kau itu kebiasaan, mangkannya belajar mobil yang benar, biar kemana mana tidak kehujanan?!" tegas papanya,
" sudah pernah kan, malah nubruk motor orang..
ya wes, Ratih capek.. mau langsung tidur.." tanpa basa basi perempuan itu langsung berjalan ke tangga.
" Kenapa kau? keponakanmu acuh kau ikut acuh?" tanya Adi menyadari ada keganjilan sikap diantara keduanya.
" Acuh bagaimana sih mas, lha wong Ratih itu sedang basah dan lelah, ya masa saya mengajaknya bicara? kalau masuk angin kan kasian dianya.." jawab Pamungkas cepat.
Tak lama Hendra masuk, melihat Pamungkas Hendra sedikit kikuk.
" Dari mana Hen?" sapa Pamungkas mencairkan suasana.
" Dari teman om," jawab Hendra pelan lalu mendekat,
ia meraih tangan Pamungkas dan menciumnya seperti biasa.
" Kok tidak chat Hendra? biasanya minta di jemput?" basa basi Hendra.
" Tidak usah, ada anggota lettingku yang menjemput.. kebetulan dia dinas di pangkalan.."
" om berarti sudah resmi pindah kesini?"
Pamungkas mengangguk,
" bisa segera kita buka bengkelnya kalau begitu??"
" tunggu seminggu lagi, om masih banyak yang harus di urus, setelah itu kubantu kau buka dan mengatur semua.." ujar Pamungkas.
" Kau tidak jadi tidur di bengkel?"
__ADS_1
" tidak.." Hendra tertunduk,
" kalau aku tidur disana siapa yang jaga Ratih, papa, mama.."
" bukankah dekat, tidak terlalu jauh?"
" tidak.. aku pulang pergi saja.." pemuda itu terlihat sayu.
" Hendra naik dulu om, mau mandi terus tidur.." pamit Hendra berlalu.
" Kau lihat..?" Adi memandang Pamungkas,
" apa mas?"
" anakku semuanya seperti tidak perduli dengan usiaku,
mereka sibuk dengan dirinya, tanpa berpikir bahwa papanya sudah tua.."
" mas.. jangan begitu.."
" kau jug begitu Pam, kapan kau menikah?"
Pamungkas langsung diam,
" kau itu contoh untuk anak anakku, tapi kau malah terus membujang.."
Pamungkas menghela nafas,
" kalau aku menikah, apa istriku nanti bisa membantuku mengurus bocah bocah itu? atau dia malah menambah beban pikiranku dan membuatku tidak bisa melakukan tugas ku sebagai om..
kalau aku menikah dan istriku menuntut ku untuk fokus pada keluargaku sendiri bagaimana?" tanya Pamungkas.
" Ya mau bagaimana.. ah.. aku jadi bersalah padamu.."
" tidak perlu merasa begitu mas.. itu memang sudah jadi tugasku kelak.."
" andai saja mereka sedewasa usianya.. ini salahku terlalu memanjakan mereka.." keluh Adi.
Pamungkas naik ke kamarnya,
saat melewati pintu kamar Ratih langkahnya terhenti.
Terdengar suara isakan yang tipis,
Pamungkas membeku di tempat, Ratih sudah memperingatinya agar tidak melewati batas, ia menegasi dirinya sendiri.
Di lanjutkan langkahnya menuju pintu kamarnya,
" ceklek.!" terdengar suara pintu di buka,
Pamungkas menoleh, ternyata pintu kamar Hendra yang terbuka.
" Pura pura saja tidak mendengar om, setelah menangis biasanya dia langsung tidur nyenyak.." ujar Hendra pada Pamungkas, dan setelah mengatakan itu Hendra langsung menutup kembali pintu kamarnya,
meninggalkan Pamungkas yang masih kebingungan.
__ADS_1