Om Pamungkas

Om Pamungkas
makan siang


__ADS_3

" Kok disini?" Ratih baru tau kalau suaminya sudah duduk di salah satu kursi setelah beberapa menit.


Ia sibuk melayani orang yang datang dan pergi di kasir.


" Tidak boleh aku melihat istriku sebentar?" Pamungkas menarik tangan istrinya dan menyuruhnya duduk disampingnya.


" Ria?!" panggil Ratih,


" iya mbak?!" jawab Ria mendekat.


" Kau ke kasir dulu, Rama suruh keluar menggantikan mu,"


" lha mbak mau kemana?"


" aku mau buatkan suamiku makan siang sebentar.." ujar Ratih lalu bangkit meninggalkan suaminya.


Setelah sekitar sepuluh menit sibuk di dapur, Ratih keluar dengan segelas susu besar sapi segar, salad dan kentang goreng sepiring.


" Tidak ada nasi, tapi ini bisa buat mas kenyangkan..?"


Ratih menaruh makanan itu di meja Pamungkas.


Pamungkas tertawa ringan melihat betapa besarnya gelas susu itu.


" Aku tau kau ingin suamimu kenyang, tapi porsi susu ini berlebihan.." ujar Pamungkas,


" Kalau tidak habis yang jangan habiskan, aku hanya takut mas tidak kenyang karena tidak makan dengan nasi.." ujar Ratih pelan,


" Makan berdua ya?"


" Aku harus bantu anak anak mas?"


" hemm.. Ya sudah, bantulah.." Pamungkas membiarkan istrinya kembali ke meja kasir.


Tak lama setelah Pamungkas makan terlihat seorang laki laki bertubuh tinggi masuk,


terlihat Rapi dan sedikit flamboyan.

__ADS_1


Sesampainya di depan meja kasir laki laki itu langsung tersenyum manis pada si kasir seakan akan sudah lama mengenalnya.


" Selamat siang, aku mau susu segar segelas tanpa gula,"


" itu saja? minum di tempat?"


" aku sedang tidak mood makan, tp perutku harus terisi.. tiba tiba aku ingat kau menjual susu segar berbagai rasa disini..


tentu saja minum disini, sembari menatapmu sejenak.." laki laki itu tersenyum renyah.


" Duduklah,"


" oh ya, bungkus delapan.."


" Delapan?"


" yah.. Original saja.."


Setelah membayar laki laki itu duduk tak jauh dari meja Pamungkas.


Pamungkas bisa melihat dengan jelas bagaimana cara laki laki itu tersenyum pada istrinya.


Tentu saja ia terlihat mencolok dengan seragam lorengnya.


Ratih mendekat dan duduk,


" Sudah?" tanya Ratih melihat piring piring dan gelas itu sudah kosong.


" Habis, bersih.." Pamungkas menghela tangan istrinya.


" katanya tadi kebanyakan?"


" ternyata enak yang.. nanti bawa pulang ya, diminum sebelum tidur enak sepertinya.."


" supaya bengkak?"


" tidak mau toh suamimu berisi sedikit?"

__ADS_1


" begitu juga sudah bagus.." ucap Ratih dengan wajah sedikit bersemu, tidak bisa di pungkiri, tubuh Pamungkas selalu membuatnya senang, dan semuanya sudah cukup bagus menurutnya.


" Yang benar?" Pamungkas mengecup tangan Ratih.


" Kelakuanmu mas? seperti tidak ada orang saja disini?"


Pamungkas tersenyum,


" Aku minta maaf ya, semalam aku salah pulang kemalaman.. tapi aku sungguh tidak neko neko.." ujar Pamungkas pelan,


" Pokoknya kalau bosan denganku bicara, jangan berbuat curang di belakang.." sahut Ratih juga pelan.


Raut Pamungkas berubah,


" Aku melihatmu tumbuh yang..?" ujar Pamungkas tak percaya istrinya sanggup berkata seperti itu.


" Aku juga melihat om menua.." Ratih tersenyum,


" ih.. Bikin hati orang dag dig dug saja.. Kalau dirumah sudah ku angkat ke tempat tidur.." Pamungkas gemas.


" Kembalilah ke kantor, nanti telat.." Ratih melirik jam,


" ya sudah, pulang cepat ya yang.. Pokoknya aku pulang kau sudah harus dirumah.." Pamungkas bangkit, mencium kening istrinya.


Tentu saja laki laki yang duduk tak jauh darinya memperhatikan, dan semua yang ada di sana juga melihat sikap manis Pamungkas.


" Itu suamimu?" tanya Bayu saat Pamungkas sudah pergi.


" Benar.. Astaga, aku lupa mau mengenalkan kau padanya?" ujar Ratih meletakkan minuman pesanan Bayu.


" Tidak perlu, nanti juga ada waktunya kami berkenalan.." ujar Bayu mengulas senyum.


" Ganteng, matang, gagah, penyayang.." imbuh Bayu,


" syukurlah.. " imbuh bayu lagi.


" Kau bicara apa sih Bay?" Ratih diam diam senang mendengar pujian Bayu, apa yang di katakan Bayu sepertinya benar semua.

__ADS_1


" Memang benarkan? tidak hanya kelihatannya saja?" tanya Bayu,


" bukannya kau sedang buru buru? sudah minumlah," Ratih mengalihkan pembicaraan.


__ADS_2