Om Pamungkas

Om Pamungkas
pengurus rumah tangga


__ADS_3

Ini pertaman kalinya Ratih masuk kerumah Pamungkas.


Rumah lama yang diperbarui dan di perbaiki bangunannya.


Tidak sebesar rumah papanya, tapi halamannya cukup luas, dekorasi nya pun hangat.


Pamungkas dan Hendra datang sejak pagi tadi, untuk menunggu pihak toko mengantar perabot.


Sementara Ratih, papa, mama dan mak Karto datang siang, saat semua sudah selesai di masak dan di atur rapi dalam kotak makanan.


" Ambil tumpengnya Hen?!" suruh si mama pada putranya,


" biar aku saja mbak, Hendra sedang memasang colokan colokan listrik.." Pamungkas berjalan keluar, mengambil tumpeng dari dalam mobil dan membawanya masuk, melewati Ratih dan sedari tadi duduk tenang di sofa baru pamungkas.


" Wes Pam.. sekarang panggil tetanggamu yang ada di sekitar, seadanya saja.. mau cuma empat, lima.. ndak opo2.. sisanya biar di antar di bagi bagi.." ujar Ana,


" anu, pak Agus.. temani saya ya..?" Pamungkas memanggil pak Agus yang menjaga rumahnya selama ini.


" Nggih, monggo pak.." pak Agus mengangguk dan mengikuti langkah Pamungkas keluar.


Tak lama Pamungkas kembali,


" Berapa orang pam?" tanya Adi,


" cuma lima e mas, jam segini banyak yang kerja, banyak juga yang ke kebun.." jawab Pamungkas cepat.


" Ya wes.. di tata, biar segera di doakan, terus di bagi bagi saja, ibu ibunya kan pasti dirumah.." Ana mengatur kotak kosong untuk tumpeng.


Tak lama datanglah lima orang, di tambah pak agus dan putranya tujuh orang.


Mereka melafalkan niat dan doa agar di beri berkah dan keselamatan.


Sementara Ratih dan Hendra malah sembunyi di kamar depan.


Seperti payah Hendra malah tiduran di tempat tidur yang masih terbungkus plastik itu.

__ADS_1


Ratih yang berdiri disamping jendela hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan kakaknya.


" Apa sih Rat, aku juga mau minta tempat tidur baru ah ke papa, yang besar begini.." Hendra meringis,


" katanya mau mandiri?"


" nanti maksudnya kalau pengantin baru.." Hendra tertawa,


" memangnya sudah punya pacar?"


" mau punya, tapi belum punya.."


" ihhh.." Ratih gemas.


Tanpa di sadari Ratih Pamungkas masuk ke dalam kamar yang hanya terisi tempat tidur dan lemari itu,


" Om minta tolong Rat, mengantar nasi kotak yang tersisa ke tetangga tetangga, biar yang jauh jauh om yang mengantar, kau yang dekat dekat saja.." Pamungkas kemudian kembali keluar.


" Wes rono rono.. ater ater ( mengirim makanan ke tetangga)," Hendra melanjutkan rebahannya.


Keduanya berjalan berdampingan sembari membawa beberapa tumpukan kotak nasi di tangannya.


" kenapa memangnya?" Pamungkas melambatkan langkahnya menyamai Ratih.


" Sepi om, jarak tetangga juga agak jauh.."


" ah, tidak masalah.. justru enak kan, privasinya terjaga.."


" tidak takut om?"


" apa? maling?"


" itu.. kan masih banyak kebun di kanan kiri.." Ratih sambil menoleh ke kanan dan kiri, masih banyak pohon pisang dan mangga liar.


" lalu kenapa?"

__ADS_1


" itu.. perempuan yang suka terbang dari pohon ke pohon.." ujar Ratih polos,


Pamungkas tidak bisa tidak tertawa.


" Hantu maksudmu?" tanya Pamungkas,


" he emmm.." Ratih mengangguk, ia tampak takut dengan suasana rumah Pamungkas.


" tidak masalah.. asal hantunya cantik.." jawab Pamungkas asal,


tapi jawaban yang asal itu malah membuat Ratih berwajah masam.


Semua orang berkumpul di ruang tamu, sedangkan Ratih mencuci piring dan gelas di dapur.


Dapur yang cantik dan rapi, warna keramik biru muda mendominasi.


" Tinggalkan piring barang satu atau dua ya Rat, om tidak punya piring.. ah, sendok juga.. gelas juga.." suara Pamungkas dari ruang tengah masuk ke dapur.


" Kenapa tidak sekalian semua saja di tinggal om?" Ratih masih sibuk mencuci piring.


" Boleh..? kalau boleh kau saja yang di tinggal.." Pamungkas tau tau berdiri di belakang Ratih.


Ratih tau laki laki itu berdiri dekat sekali dengannya, karena nafas Pamungkas yang hangat mempermainkan rambut nya.


Ratih diam, tak bergerak, ia berpura pura tidak tau kalau Pamungkas sedang di belakangnya.


" Maksudku.. pasti mudah sekali jika ada orang yang mau tinggal dan membantuku dengan pekerjaan rumah tangga.." Pamungkas yang hampir saja khilaf itu langsung mundur.


Tentu saja itu hanya alasan, bertahun tahun ia hidup di luar jawa, tak seharipun dia membutuhkan pembantu.


" Om mau mempekerjakan ku maksudnya?" Ratih berbalik, hingga keduanya berhadapan.


" Kau mau?" tanya Pamungkas sembari menela ludah, keduanya beradu pandang.


" om bisa gaji aku berapa?" tanya Ratih asal bicara,

__ADS_1


" Berapapun, asal kau mau tinggal disini dan mengurusku.." jawaban yang tak pernah di perkirakan oleh Ratih.


" om itu butuh pekerja rumah tangga atau teman tidur sih?" tanya Ratih sembrono, membuat wajah Pamungkas bersemu merah.


__ADS_2