Om Pamungkas

Om Pamungkas
Mas


__ADS_3

Pertama sampai di Mimika Arga terlihat datar dan tegar.


Namun di minggu minggu kedua dan ketiga, ia menangis..


Hampir setiap malam sembari memegang senjata di tangannya ia menyesali semuanya.


Seandainya ia setia, seandainya dia berpikir panjang dan tidak melepaskan Ratih, mungkin ia tidak akan sampai disini.


Bukan hanya Ratih yang ia rindukan, tapi juga mamanya, papanya ,dan situasi rumahnya yang tenang.


" Ee.. Makan dulu.. Melamun terus..?" salah satu teman jaganya menepuk pundak Arga.


" Iya bang, duluan saja.." jawab Arga,


" jangan begitu.. Kita makan sama sama.. Ayolah..?!".


Mendengar seniornya berkata seperti itu Arga bangkit, dan berjalan mengikuti seniornya ke dalam.


" Di nikmati saja.. kami sudah satu tahun disini, lama lama juga terbiasa..


laki laki.. Sekuat apapun, tidak mungkin tidak merindukan keluarga.." ujar salah satu seniornya saat mereka makan bersama.


" Iya bang.. " jawab Arga datar.


" kau orang jawa kan? Katanya orang jawa itu sabar sabar?"


Arga terdiam, ia tidak menjawab.


Berbulan bulan berlalu, ia mulai menerima kenyataan dan hidup dengan baik, meski setiap hari ia harus hidup penuh dengan ketegangan karena hidup di daerah yang rawan konflik.


Sampai akhirnya ia mendengar kelahiran putrinya.


" Kau tidak pulang le?" tanya mamanya,


" tidak ma," jawab Arga tenang.


" Kenapa?"


" aku akan pulang jika Tias sudah pergi dari rumah,"


" kau masih ingin menceraikannya?"


" tentu saja, aku tidak bisa hidup dengan perempuan yang tidak kucintai."


Si mama terdiam, lama..


" Kau tidak kasihan putrimu?" tanya mamanya kemudian,


" kasihan, karena itu lebih baik aku dan ibunya berpisah sekarang, mama rawatlah sampai aku pulang..


Aku sudah belajar menerima kenyataan ma,


Setelah kembali ke malang aku akan menjadi Papa yang baik untuknya," ujar Arga tenang.


Mamanya tertegun, ia merasakan perubahan putranya, meski tidak banyak tapi yang jelas Arga bukan lagi anak manja yang ia kenal.


" Bagaimana kabarmu Rat?" laki laki bertubuh tinggi itu mengulas senyum sembari menjabat tangan Ratih.


" Bayu?" Ratih tersenyum tak percaya,


" Iya, lama ya.."


" iya lama.. terakhir kali..?"

__ADS_1


" hari terakhir ujian akhir sekolah.." jawab Bayu mengulas senyum manisnya lagi.


" Astaga, iya.. kau bahkan tidak mengikuti wisuda dan pergi entah kemana.." ujar Ratih pada teman sekolah SMA nya itu.


" Kau kemana saja?" tanya Ratih,


" aku? Kuliah di bali, setelah lulus aku langsung menetap disana,"


" lalu sekarang?"


" hotel tempatku bekerja membuka cabang,


tidak jauh dari sini.. sepuluh menit jalan kaki,"


" hotel bintang empat yang baru saja di buka itu?" Ratih bertanya dengan antusias,


Bayu mengangguk sembari tersenyum.


" Mampirlah kapan kapan.. aku bekerja sebagai chef disana.."


" Serius??" Ratih tak percaya, laki laki yang suka berkelahi di masa SMA nya ini sekarang bekerja di dapur dan bergelut dengan makanan.


" Kenapa? tidak percaya?" Bayu mengambil kertas di meja kasir, menuliskan nomor HPnya.


" Ini nomorku.." ujarnya memberikan kertas itu pada Ratih.


" Kau penuh kejutan Bay.." Ratih mengambil kertas itu dengan senyum penuh dengan rasa tidak percaya.


" Kau juga.." ujar Bayu,


" Aku?"


" yah.. aku mendengar banyak beritamu dari Yunda.."


" jadi Yunda yang memberimu informasi kalau aku membuka cafe disini?"


" Ya sudah, aku hanya menyapa, kapan kapan aku duduk lama disini, boleh kan?"


" tentu saja,"


" kalau begitu aku kembali dulu, jangan lupa, hubungi aku.."


" Kalau aku menghubungimu apa kau akan mengajariku memasak?"


Bayu mengangguk,


" dengan senang hati Rat.." ujar bayu lalu berpamitan.


Dari kejauhan Ria mendekat,


" Siapa mbak?" tanya Ria penasaran,


" Rapi sekali?" komentar ria.


" Teman sekolahku Ria, pernah sekelas juga.. dia bekerja di hotel depan sana, yang baru di buka.." jawab Ratih.


" Owalah.. Pantas saja, klemis.. wanginya parfumnya yang lembut saja masih tertinggal,"


" ihh.. Sampai seperti itu kau Ria?"


" iya lah.. Ria ini perempuan normal mbak Rat..?"


" lha terus pacarmu?"

__ADS_1


" pacar ya pacar.. ada orang ganteng lewat ya di lihat, mubazir mbak.." Ria tertawa,


" Lha iwang itu, pelototin saja dia,"


" lha.. Mas Iwang terlalu sering lihat, jadi bosen.." Ria tertawa lagi.


" arek edan.. Wes ayo, kerja lagi.. Bikin adonan wafel Ria, sudah habis sepertinya.."


" siap mbak..!" Ria berjalan masuk ke dapur cafe.


" Ada acara kemana bang?" tanya Pamungkas,


" ada undangan dari bang Yus, ulang tahun sepertinya dia," jawab Fakih.


" Makan di mana?"


" tidak tau, kita ngikut saja besok.."


" dengan istri?" tanya Pamungkas,


" tidak.. acara kaum pria saja.."


" ah, tidak ikut,"


" lha.. wong cuman makan makan Pam.. sudah ikut saja.. Setelah itu kita pamit pulang.." ujar Fakih meyakinkan Pamungkas.


Pamungkas mengangguk malas, ia tak ada pilihan karena seniornya yang mengajak.


" Tapi kalau bang Yus ajak kita ke tempat aneh aneh, kita langsung pulang ya bang, aku kapok.." ujar Pamungkas.


" Iya, aku juga tidak mau di marahi istriku.."


" itulah.. Hidup sudah tenang begini," ujar Pamungkas kapok karena pernah sekali ia di bawa ke tempat aneh aneh oleh seniornya itu.


Sampai dirumah, Ratih sudah sibuk di dapur memasak, ia sampai tidak tau kalau suaminya sudah pulang.


" Rajin sekali?" Pamungkas memeluk istrinya yang sedang di depan kompor itu.


" Eh.. Di depan kompor ini?"


" Mau pindah?" goda Pamungkas,


" ehh! mbok yo istrinya ini di biarkan masak dulu..


Memangnya tidak lapar?"


" bisa ku tahan.." bisik Pamungkas.


" Mas ini?!" Ratih mencubit lengan suaminya.


Panggilan Pamungkas bertambah seiring waktu, itu terjadi karena Ratih malu jika harus memanggil Pamungkas dengan panggilan sayang saat di depan orang banyak.


Pamungkas yang tidak malu dengan cintanya itu tentu saja biasa biasa saja meski harus memanggil istrinya sayang di hadapan banyak orang.


Tapi Ratih masih belum siap, ia merubah panggilannya menjadi mas ketika di depan banyak orang, seperti saat arisan dan perkumpulan lainnya.


Bukan karena tidak mau mengakui suami, tapi rasanya terlalu berlebihan baginya, ia sayang pada suaminya tanpa harus memanggilnya sayang di depan banyak orang.


" Mandi dulu, setelah itu makan.."


" Makan dulu, setelah itu mandi.." pamungkas mengecup bahu Ratih.


" Ini kompor.. Panas.." ujar Ratih dengan suara penuh penekanan.

__ADS_1


Pamungkas tertawa mendengarnya,


" iya iya.. mandi.." ujarnya melepaskan istrinya dan berlalu.


__ADS_2