Om Pamungkas

Om Pamungkas
bayi Arga


__ADS_3

Arga menggendong putri kecilnya, menciumi pipinya berkali kali.


Bayi mungil itu hanya bisa menggeliat kesana kemari diatas gendongan papanya.


" Sudah di ganti susu formula ma?" tanya Arga,


" sudah le, dua minggu setelah dia lahir dia sudah sering mama beri susu formula,


mama sengaja, supaya ia tidak kaget kalau di tinggal ibunya," jelas mama Arga.


" Baguslah.. aku tidak ingin berurusan lagi dengan ibunya, hidupku sudah cukup susah gara gara dia ma,"


Mendengar kata kata putranya si mama hanya bisa menghela nafas.


Ia tidak bisa menentang keinginan putranya.


Ratih yang sudah kembali datang ke cafe itu mengurangi kehadirannya,


Ia menuruti saran suaminya meski tidak sepenuhnya,


hanya saja, ia perlu menambah satu pegawai lagi untuk menggantikannya.


Beberapa hari kemudian Yunda dan Ayu datang, mereka membawa makanan kesukaan Ratih sembari membawa kabar yang sesungguhnya tidak penting untuk Ratih.


" Dia di ceraikan dan di usir dari sana.." ujar ayu sembari memakan es krim.


" Aku bertemu dengannya seminggu yang lalu, tampangnya berantakan.." Yunda menambahkan.


" Tega sekali keluarga Arga? Setauku dulu selama jadi mertuaku mereka tidak seperti itu..?" ujar Ratih turut sedih.


" Itukan karena kau direstui?!" cetus Ayu,


" pantas dia datang kerumahku dengan kondisi seperti itu.." ucap Ratih,


" dia? Kerumahmu?! berani beraninya?!" Yunda benar benar kesal hanya dengan mendengar namanya saja.

__ADS_1


" Sudahlah, dia takut pada suamiku.. jadi tidak sempat masuk kerumah.."


" tetap saja Rat! belajarlah dari masa lalu, jangan pernah masukkan dia kerumahmu meski dia mengemis seperti apapun!".


Ratih terdiam, ia benar benar tidak habis pikir,


entah kenapa moodnya tiba tiba saja buruk.


Seharusnya dia hidup baik kan, pikir Ratih.


Seharusnya ia bahagiakan?


toh Ratih sudah mengalah dengan menikah.


Meski sakit hati, Ratih tidak pernah mengharapkan akhir yang buruk untuk mereka.


Apalagi di tengah mereka ada bayi yang tidak bersalah.


" Apa yang kau pikirkan?! Kau melamun lagi!" suara Winda keras,


" tidak," Jawab Ratih dengan raut sedikit murung.


Beberapa hari berlalu setelah itu, benar saja, Tias datang ke cafe, perempuan itu menangis sejadi jadinya, memohon bantuan Ratih untuk membujuk keluarga Arga agar Tias di pertemukan dengan putrinya.


" Bukankan kau bisa menuntut mereka?"


" aku bisa apa? Mereka punya uang banyak, sedangkan aku tidak.." Tias mengusap air matanya.


" apa tidak bisa bicara baik baik dengan Arga?"


" tidak bisa, dia sudah menceraikan aku, dan memaksaku untuk menandatangani perjanjian hak asuh putriku.."


" bisa bisanya kau mau?"


" kukira aku bisa membujuknya, tapi ternyata tidak..aku di paksa Rat, aku bisa apa.." perempuan di hadapan Ratih itu tampak putus asa.

__ADS_1


" Lalu hidupmu sehari hari?"


" mereka memberiku sejumlah uang, menyuruhku memulai hidup baru yang jauh dari sini.."


Mendengar itu Ratih hanya bisa menghela nafas.


" Maafkan aku, meski kau mendatangiku percuma,


Kau tau bagaimana suamiku, dia tidak hanya suamiku, tapi dia adik papaku,


dia sudah memutuskan agar aku tidak lagi kembali pada masa lalu,


Kau kira aku berani menentangnya?


Dia bukan


Arga yang masih muda dan impulsif,


Apapun yang dia katakan pastinya sudah dia pikirkan baik baik,


Jadi maafkan aku,


aku menyesal atas semua yang terjadi padamu,


Aku juga turut bersedih atas putrimu,


tapi aku tidak bisa membantu apapun." jelas Ratih tenang namun tegas, membuat Tias tak bisa lagi memohon.


" Aku yang tidak tau diri.. sudah menyakitimu sebegitu nya, tapi kau masih bisa bicara baik baik denganku seperti ini.." Tias tertunduk dalam.


" Tidak mudah bicara padamu baik baik, tapi setelah menikah aku lebih legowo..


suamiku yang sekarang lebih bisa menghargaiku dari pada Arga.."


mendengar itu air mata Tias lagi lagi jatuh.

__ADS_1


Pipi yang menirus itu di basahi air mata,


Sesungguhnya Ratih tak tega, tapi ia mau tak mau harus tega agar Tias tak lagi datang dan meminta pertolongannya.


__ADS_2