Om Pamungkas

Om Pamungkas
perabot


__ADS_3

Setelah teman temanya pergi Ratih masuk membawa buku buku yang sudah di belinya ke dalam rumah.


Perlahan dia menaiki tangga, saat sudah di depan pintu kamarnya Ratih tak sengaja melihat omnya menyeret beberapa Kardus dari dalam kamarnya ke arah luar.


" Aku berisik ya?" tanya Pamungkas melempar senyum tipis,


" bersabarlah, hanya tinggal sedikit.." imbuhnya.


" Memangnya mau di bawa kemana lagi om?" tanya Ratih akhirnya penasaran.


" Mau di bawa kerumah, aku akan pindah kerumahku sendiri.." jawab Pamungkas tenang.


Ia masuk ke dalam kamar, dan keluar kembali membawa kopernya yang tersisa.


Ratih diam memperhatikan,


" bukanya om hanya sabtu minggu disini? akan lebih mudah dan dekat jika ke bengkel dari sini bukan?" tanya Ratih,


Pamungkas tersenyum,


" om sudah pindah dinas disini Ratih.. tidak baik jika om terus menumpang, karena om sudah punya rumah sendiri..".


Jawaban Pamungkas mengejutkan Ratih, ia tak pernah tau kalau Pamungkas mengajukan pindah selama ini,


ia mengira om nya itu sering pulang karena keperluan bisnis dengan kakaknya.


" Om pindah? dinas disini?" tanya Ratih tak percaya, wajahnya pucat.


" Kenapa Rat..?"


Ratih tertunduk, tak menjawab pertanyaan Pamungkas.


" Jangan takut, aku tidak akan menganggu mu, karena itu aku memutuskan pindah.." ujar Pamungkas tersenyum sedikit pahit.


" Aku tidak bermaksud.." kata kata Ratih terhenti.

__ADS_1


" Kita hanya om dan keponakan, aku ingat betul itu Ratih," ucap Pamungkas kemudian mengangkat kardus kardus itu turun, meninggalkan Ratih yang terdiam.


Pamungkas berjalan memasuki toko perabotan rumah tangga yang cukup besar di daerah malang.


ia ingin mencari tempat tidur dan peralatan lain sekaligus.


Tanpa sengaja setelah berkeliling ia melihat kakaknya sepintas diantara lemari es yang besar dan berpintu dua.


" Mas?!" Pamungkas menepuk pundak Adi.


" Lho? pam? kok ero aku dek kene? ( kok tau aku disini?)" Adi terkejut,


" Ndak tau mas.. wong aku kesini mau belanja? mas Adi kan pamitnya mau undangan tadi sama mbak Ana?" jawab Pamungkas,


" Iyo ya.. hehehe.." Adi tertawa,


" mas mau beli apalagi? rumah sudah penuh perabot begitu? TV? mau di ganti yang selapangan bola?" goda Pamungkan karena kakaknya itu hobi menonton TV.


" Wes.. meneng menang ae.. mariki moleh bareng karo aq..( sudah.. diam diam saja.. sebentar lagi pulang denganku..)" ucap Adi.


" Sudah di belanjakan mbak mu.. wes awakmu menengonae dek kene karo aku?!" tegas Adi, ia menunjuk istrinya yang sedang memilih tempat tidur.


Pamungkas terkejut, ia tak menyangka kakaknya dan kakak iparnya pergi sedari tadi untuk mencarikannya perabotan.


" Mas? aku iso tuku dewe, aku emoh mas? ( mas? aku bisa membelinya sendiri, aku tidak mau mas?" ujar Pamungkas serius.


" lha sudah di pilih dari tadi, tinggal tempat tidur saja sama kulkas, ini aku sedang melihat lihat..".


Pamungkas merasa tidak enak,


" Ya sudah.. aku hutang kalau begitu?!"


" hutang apa?! gundulmu?!"


" aku nggak mau yo mas?!"

__ADS_1


" ojok ngotot.. aku ini mas mu, saudaramu satu satunya.. kewajibanku membantumu selama aku mampu.." Adi tetap tidak mau kalah.


Pamungkas diam,


" ya wes.. beli tempat tidur saja mas, biar lainnya kubeli sendiri??"


" Kau ini diam sudah Pam, diam!",


Pamungkas, tidak ada satu orang pun di tempatnya dulu pernah membentaknya, dan sekarang, ia tunduk dengan bentakan dari kakaknya.


Tidak hanya tunduk, namun ia terdiam patuh.


Pamungkas masuk ke dalam rumah dengan wajah sedikit tertekuk,


sementara Adi dan Ana hanya tersenyum saja.


" Harusnya diantar sore ini kan mas? atau malam juga mereka mau, kenapa malah besok??" Pamungkas menggerutu.


" Jangan asal masuk kerumah tanpa slametan dulu Pam, awakmu iku wong jowo.. ojok ninggal jowomu?! (kamu itu orang jawa, jangan meninggalkan jawamu?!)" tegas Ana,


" iya, biar mbak mu masak besok, mumpung harinya bagus juga, wes tho manutoo ( nuruto)..


turu dek kene sak durunge di slameti.. ora ilok Pam, ora ilok..( tidur disini sebelum di selameti.. ndak baik Pam, ndak baik..)" Ana memberi Pamungkas yang tidak begitu percaya ada hal hal semacam itu, pengertian dengan halus dan pelan.


" Setelah ini kuberi tugas, nanti malam antarkan Ratih belanja ke pasar sayur, biar subuh subuh besok kita sudah bisa masak.."


" Hendra?" tanya Pamungkas,


" Hendra tidak tau kemana? kukira dia belum pulang.. pulang pun dia manusia paling males ke pasar.."


Pamungkas hanya bisa menghela nafas.


" Aku saja mbak belanja sendiri, tulis saja apa yang di butuhkan, jangan ganggu Ratih sepertinya moodnya kurang bagus?"


" ah.. anak itu, nama pernah moodnya bagus".

__ADS_1


__ADS_2