Om Pamungkas

Om Pamungkas
butuh waktu


__ADS_3

Ratih kembali kerumah ayah Pamungkas,


Setelah suaminya tenang ia meminta ijin untuk kembali dan melihat keadaan ayah kandung suaminya itu.


Saat Ratih masuk, semua keluarga masih berkumpul di dalam kamar,


" Bagaimana suamimu nak?" tanya Ruslan,


" sedang beristirahat om.." jawab Ratih duduk di atas lantai kayu yang beralaskan karpet plastik berwana coklat muda.


Rahmat menatap Ratih, masih ada bekas air mata di sudut mata laki laki tua itu.


" Kau istri anakku?" tanya Rahmat,


" inggih.." jawab Ratih meraih tangan Rahmat dan mencium punggung tangan laki laki tua itu.


Entah kenapa tiba tiba Rahmat tiba tiba menitikkan air matanya kembali.


Ratih yang melihat itu hanya bisa menoleh kesana kemari kebingungan, menatap para om satu persatu.


" Perempuan jawa selalu membuat hatiku runtuh.." ujarnya setelah puas menitikkan air matanya.


" kalem sekali kau nak.. koyok ibuk e Pamungkas.. ( seperti ibunya Pamungkas..)" lanjut Rahmat dengan bahasa jawanya yang kaku, membuat Ratih tertegun sejenak, hampir saja Ratih lupa, kalau ayah Pamungkas pernah tinggal di jawa cukup lama, namun tak di biarkan ketertegunan terus menguasainya, segera di sadarkan dirinya, lalu tersenyum tenang sembari menunduk.


" Kesini nduk..." Rahmat menyuruh Ratih mendekat,


" duduklah di dekat ayah mertuamu nak.." ujar Rapuni, meski sedikit bimbang dan kikuk Ratih menurutinya, ia mendekat.


" Kalian sudah lama menikah?" tanya Rahmat setelah Ratih duduk disampingnya.


" Sudah.." jawab Ratih mengangguk,


" Dia pernah marah padamu?" tanya Rahmat dengan suaranya yang lirih,


" tidak.." jawab Ratih sembari menggeleng pelan.


" Aku takut.." ujar ayah Pamungkas kembali menatap ke atas,


" takut apa..?" tanya Ratih hati hati,


" aku memperlakukannya kasar sejak kecil.. aku takut.. dia tumbuh menjadi anak yang kasar dan kejam sepertiku.." jawaban Rahmat membuat suasana kamar hening sejenak.


" Mas Pamungkas memang sedikit kaku.. terkadang juga sedikit sulit untuk berterus terang tentang apa yang dia inginkan dan rasakan..


tapi pengendalian diri mas Pamungkas cukup baik..


dia bukan laki laki yang selalu dengan mudah menghakimi atau mencela orang lain.." ujar Ratih pelan memecah keheningan.


" Dia pernah bilang..


di pukul itu sakit, di hina itu tidak enak..


karena itu, dia selalu berpikir berulang kali saat akan melampiaskan emosinya..


ayah..


Ayah tenang saja,


Mbah uti dan mbah kung mendidik suami saya dengan penuh kasih sayang..


dia bahkan menjadi orang kesayangan dirumah kami.."


mendengar kata kata Ratih, air mata Rahmat turun lagi, menyesal sudah memperlakukan putranya dengan buruk, menyesal karena waktu tidak dapat ia putar kembali.


" Ayah tirinya sayang padanya??" tanyanya kemudian dengan tatapan tak bedaya,


" tentu saja.." jawab Ratih mengangguk.

__ADS_1


" Oh.. Anakku.. Anakku Pamungkas..


aku benar benar bersalah..


seharusnya aku yang merawat dan membahagiakan dia, bukan orang lain.." Rahmat kembali emosional, ia kembali menangis, bahkan suara tangis penyesalannya memenuhi ruangan.


" Boleh om bicara denganmu?" tanya Rusdi saat melihat Pamungkas merokok di teras sendirian.


Malam tentu saja sudah pekat, suara anjingpun beberapa kali menganggu telinga Pamungkas, karena itu ia terbangun dari tidurnya dan meninggalkan istrinya yang sungguh lelap.


Rusdi yang baru saja pulang dari rumah ayahnya itu tidak tampak mengantuk sama sekali.


" Silahkan bicara," jawab Pamungkas mengijinkan Rusdi duduk tak jauh darinya.


" Berapa hari kau disini nak?" tanya Rusdi juga mengeluarkan rokoknya lalu membakarnya,


" rencana saya hanya tiga hari," jawab Pamungkas menatap pepohonan.


" apa tidak terlalu cepat?"


" memangnya apalagi keperluan saya disini?"


Rusdi menghela nafas,


" Kami tau betapa sakit hatimu..


tapi, kami berharap kau mau menerima pemberian ayahmu.."


" pemberian?" Pamungkas menatap Rusdi tidak senang,


" Yah, kami semua bersaudara sudah sepakat,


rumah dan tanah yang di tinggali ayahmu sekarang, akan di berikan kepadamu.."


" untuk apa? saya tidak membutuhkannya." jawab Pamungkas acuh.


bentuk kasih sayang ayahmu.."


" kasih sayang??" suara Pamungkas getir,


" kenapa tidak menjadi orang jahat saja sampai dia mati?" lanjut Pamungkas pelan namun tajam, membuat Rusdi tak bisa berkata kata.


" Aku kesini hanya karena kewajibanku sebagai anak,


Aku tidak mengharapkan kebaikannya dalam bentuk apapun." imbuh Pamungkas.


" Jangan begitu nak..??"


" kenapa jangan begitu?!" Pamungkas menatap Rusdi,


" kemana kalian saat aku dan ibuku di perlakukan semena mena dan di telantarkan? Kemana?,


Lalu yang katanya omah opahku?


Mereka bahkan tidak pernah melihatku?!" Pamungkas mendesis, menahan amarahnya.


" Kalian kira apa yang kalian lakukan ini baik? adil??,


ayah menyiksa ibu seperti ibu seorang pengkhianat,


Seperti aku bukan anak kandungnya,


apa kalian tidak pernah menasehati kakak kalian?


Menegaskan padanya bahwa yang dia lakukan salah?!" mata Pamungkas memerah.


Rusdi tertunduk dalam, tak ada yang bisa ia katakan untuk membela dirinya dan keluarganya.

__ADS_1


" Tidak ada yang bisa om katakan.." ujar Rusdi pelan,


" kenapa? bukankah akan bagus jika kalian berdalih takut padanya? atau bahkan saking sayangnya kalian padanya sampai sampai kalian melakukan pembenaran atas sikapnya yang tidak masuk di akal?!"


" maafkan kami nak..." ujar Rusdi dengan suara tak berdaya.


Setelah Rusdi kembali ke rumah Rahmat , Pamungkas kembali masuk ke dalam rumah,


Ia langsung masuk ke dalam kamar dan berbaring disamping istrinya.


" Dari mana?" suara Ratih lirih sedikit serak, namun matanya masih terpejam.


" Merokok sebentar.." jawab laki laki itu sembari melingkarkan tangannya ke perut istrinya.


" Tidurlah kembali.." ujar Pamungkas sembari mengecup pipi Ratih,


" Mas tidak tidur?" Ratih membuka matanya perlahan,


" Aku tidur sebentar lagi," jawab Pamungkas.


Ratih mengangguk, karena kalah dengan kantuknya, ia menutup kedua matanya kembali.


Pamungkas yang melihat itu hanya menghela nafas sembari mendekatkan kepalanya ke kepala istrinya, di usir keresahannya, di usir ingatan ingatan buruk yang selalu merangsek masuk setiap menit ke kepalanya


Ia harus tidur, setidaknya malam ini ia tidur tanpa membawa kebenciannya, ia harus beristirahat..


Pamungkas terjaga, suara seng yang tertiup angin dari rumah tetangga seberang jalan membuatnya tidak bisa lagi memejamkan mata.


Laki laki itu bangkit, melirik jam dinding, masih subuh..


dan istrinya masih lelap disampingnya.


Laki laki itu turun dari tempat tidur, lalu berjalan keluar kamar.


Ia tak melihat si pemilik rumah, rupanya ia tidur dirumah ayah Pamungkas.


" Puni.." suara Ruslan memanggil adiknya agar keluar ke teras.


Rapuni yang baru selesai menyeka Rahmat itu berjalan keluar mendekati Ruslan.


" Mau kemana Pamungkas itu?" keduanya melihat Pamungkas dari atas,


Laki laki bertubuh tinggi itu berjalan tenang menjauh dari rumah, dan masuk ke arah perkebunan.


" Mungkin mau ke sungai," sahut Rapuni,


" memangnya tau dia sungai??"


" mungkin benenya ( istrinya ) yang kasih tau, karena kemarin ku ajak dia jalan jalan ke sungai.." jelas Rapuni,


" apa tidak tersesat dia nanti??" Ruslan khawatir.


" Eh, dia bukan anak anak Ruslan.. ini juga sudah siang, banyak orang orang lewat disana," Rapuni kembali masuk ke dalam.


Tak lama terlihat Ratih berjalan mendekat, lalu menaiki tangga kayu dengan hati hati,


" selamat pagi om..?" sapa Ratih,


" ehh.. Pagi nak.. Kemana suamimu itu?" tanya Ruslan langsung,


" ah.. mau jalan jalan katanya om.." jawab Ratih,


" tidakkah kau temani??"


" tidak om, biar dia cari udara segar dan lihat aliran sungai.." jawab Ratih mengulas senyum.


" Benar begitu?" Ruslan masih khawatir,

__ADS_1


" benar om.. Dia juga butuh waktu sendiri untuk berpikir.." Ratih meyakinkan Ruslan lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


__ADS_2