
" Adikku masih menari denganmu?" tanya Hendra sembari meminum kopi yang di suguhkan Iwang,
" Masih.. tapi konsentrasinya buruk.. jadi aku menyuruhnya beristirahat selama seminggu ini,
pementasan sudah selesai kok mas.. jadi tidak ada target..
sepertinya dia ikut hanya untuk membunuh waktu saja.." jawab Iwang.
" Terus terang saja, aku kesini untuk bertanya, apa ada sesuatu yang berbeda dari adikku?"
Iwang tersenyum mengerti,
" bukankah tadi saya bilang kalau konsentrasinya buruk mas.." ujar Iwang,
" dia lebih banyak diam dan melamun, tidak seceria biasanya.." imbuh iwang.
Mendengar itu Hendra cukup lama diam,
melihat itu Iwang menghela nafas sejenak, ia memang penasaran dengan apa yang terjadi sesungguhnya, dan mungkin inilah waktunya bertanya
mumpung Hendra juga sedang dalam mode ramah.
" Saya pernah melihat dua kali, seorang perempuan hamil datang menghampirinya di cafe,
yang tampak oleh mata saya adalah raut wajah Ratih yang berubah tertekan dan memendam amarah,
perempuan itu seperti memaksa Ratih untuk memaafkan apa yang telah ia perbuat..".
Mendengar penjelasan Iwang Hendra langsung mengangkat wajahnya, matanya melebar tidak senang.
" Perempuan itu bernama Tias?" tanya Hendra,
" saya tidak ingat siapa namanya.. pokoknya setelah perempuan itu pergi mata Ratih selalu berkaca kaca,
pernah sekali dia menangis di dapur cafe,
ia terisak.. namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya,
Ratih sampai memukul mukul dadanya..
andaikan saya mempunyai hubungan yang pasti dengan Ratih, saya pasti berani untuk turut campur..
tapi Ratih sudah menegaskan kalau hanya menganggap saya sebagai teman..
tak ada yang berani bertanya, baik saya.. maupun Ria..
yang bisa saya lakukan hanyalah mengajaknya menari dan mengajarinya melukis.."
Sekarang Hendra yang menghela nafas,
" terimakasih.." ia menepuk lengan,
" kau sudah membantu adikku untuk melupakan hal hal yang mungkin baginya berat.." imbuh Hendra.
" Tidak perlu berterimakasih.. saya memang menaruh hati pada Ratih, karena itu saya selalu berusaha disampingnya saat saya bisa..
saya tidak semurni itu mas.." ujar Iwang.
" Tetap saja.. aku berterimakasih.. kau sudah bersikap baik padanya, maafkan aku yang sempat menilaimu buruk..".
__ADS_1
Iwang tersenyum,
" lalu siapa Arga itu?" tanya Iwang,
" karena perempuan hamil itu selalu membahas laki laki bernama Arga?" Iwang begitu penasaran.
" Dia mantan suami Ratih, dan sekarang menjadi suami dari perempuan hamil itu," jelas Hendra membakar satu batang rokok.
" Astaga.. lalu?" Iwang terlihat terkejut,
" satu sahabat, satu suami.. keduanya berselingkuh.. dan Ratih menangkap basah keduanya di kamar yang biasa Ratih dan suaminya gunakan,"
" dua orang yang tidak waras..!" kecam Iwang.
" Yah.. mereka menyakiti adikku sedemikian rupa.. andai saja tidak ada hukum di dunia ini, sudah ku bunuh si Arganta itu!" Hendra kembali kesal jika mengingat kejadian itu.
" Pantas saja.. dia murung..
hari harinya tidak lagi tenang..
lukanya pasti basah kembali.."
" Yah.. apalagi perempuan itu sedang hamil..
adikku pasti nelangsa..
dia yang bertahun tahun menikah tak kunjung hamil,
tapi perempuan itu malah hamil,
ku kira dia sengaja mencari Ratih untuk mengejeknya,"
Hendra mengangguk,
" menyerang seseorang tidak harus dengan kata kata kasar bukan? datang dan pura pura meminta maaf juga sebuah serangan,
dia ingin menunjukkan betapa suksesnya dia dengan hasil rampasannya.." ucap Hendra kesal setengah mati.
Pamungkas sudah membungkus semuanya dengan kardus.
Mengatur bawaannya sedemikian rupa agar mudah membawanya.
Mobil Frans datang, dery dan Rafael ikut turun.
" Hanya ini saja?" tanya Rafael,
" yah.. sebelumnya sudah ku cicil,"
" motormu sudah kau berangkatkan dulu?"
" sudah dari tiga hari yang lalu,"
" nah.. kau sudah pamit dengan tetanggamu?"
" eh, tidak usah kau ajari itu.. ayo sudah, pesawatnya datang sejam lagi ini, mepet?!"
" Kalau ketinggalan naik sipil seperti biasanya saja.." gumam Dery,
" aku ini sedang menghemat, karena setelah pulang akan ada banyak perbaikan rumah.. uang ku sudah habis untuk bengkel..?" sahut Pamungkas berkata jujur, karena memang banyak yang harus ia perbaiki ke depannya.
__ADS_1
" Sudah.. bandara militer dekat sini saja.. tidak ada salahnya juga dia hemat,"
" Wah.. bijaknya pak Rafael.." Pamungkas mencubit pipi Rafael gemas.
" Eh! senang sekali kau mentang mentang tidak akan kuganggu lagi?!" protes Rafael,
Pamungkas tersenyum,
" Aku inginnya kalian juga ikut pindah.." ucap Pamungkas membuat ketiga temannya itu tampak sedih.
Dengan sigap Rafael dan Dery mulai mengangkat kardus kardus itu, memindahkannya ke dalam mobil.
Sementara Pamungkas menyerahkan kunci rumah pada Frans,
" kalian harus datang kerumahku, ambilah cuti barang tiga atau lima hari.."
Ketiga orang itu terdiam, tak ada yang menjawab.
" Lhoo.. kok diam?" Pamungkas heran,
ketiga laki laki itu langsung memeluk Pamungkas bergantian.
" Kami pasti kesana kalau kau menikah..
kalau kau tidak menikah kami tidak mau kesana?!" ujar Rafael,
" Dasar!" Pamungkas meninju perut Rafael.
Mobil Rafael berhenti di parkiran, dari kejauhan pesawat militer yang biasa di sebut Hercules itu sudah terparkir.
Banyak orang yang sudah memasukkan barang barang mereka ke dalam.
" Ayo segera naikkan barang barang?!" Frans gerak cepat, di susul dengan Dery dan Rafael.
" Padahal kita bisa menyuruh anggota untuk mengangkat.. tapi demi dirimu.." ujar Dery sembari mengangkat satu kardus yang lumayan besar dan Pamungkas hanya tertawa melihat teman temannya itu.
Saat pamungkas sudah masuk dalam pesawat, dirinya mulai merasa kehilangan.
Frans,dery dan Rafael melambaikan tangan dengan semangatnya, seakan berkata, selamat tinggal, selamat tinggal, selamat tinggal.
Pamungkas mengatupkan bibirnya rapat, menahan perpisahan yang tidak pernah ia bayangkan, meski ia tau perpisahan itu pasti, tapi ia tak pernah menginginkannya.
Ketiga orang itu selalu bersamanya, meski kadang dirinya acuh dan menyebalkan.
Pamungkas duduk dengan tenang di atas kursi yang berbentuk jaring jaring itu,
nyaman tak nyaman tak ia keluhkan, sementara di tengahnya penuh dengan barang barang.
Yah namanya saja pesawat barang, jadi wajar saja jika ia duduk jadi satu dengan barang barang di sana.
Pamungkas pun tidak harus mengeluarkan dana berlebih, ia hanya harus sabar dengan perjalanan yang lebih lama karena harus transit kesana dan kesini.
Perjalanan di tempuh dua jam lebih, selama perjalanan ia hanya diam sembari memejamkan matanya.
Rasa kehilangan masih begitu terasa,
entah kenapa kali ini begitu berat,
padahal tidak hanya kali ini ia pindah.
__ADS_1